Parenting dibikin gampang aja
Cuma butuh cinta dan senyum.
Parenting jadi mudah,
kalo kita saling dukung!
Parenting dibikin gampang aja
Cuma butuh cinta dan senyum.
Parenting jadi mudah,
kalo kita saling dukung!
Learning to calculate, high five success, black mother and child

How to deal with teens “Be a buddy”

Memasuki usia remaja tentunya hampir setiap orangtua merasakan hal yang sama yaitu “harap-harap cemas” terhadap banyaknya perubahan yang dialami oleh anak. Anak menjadi lebih sensitive atau saat ini lebih dikenal dengan “baper”, mudah marah, dan mulai menjaga jarak dengan orangtua. Biasanya ciri-ciri anak secara fisik lebih mudah dilihat dan diatasi, hal ini berbeda dengan kondisi psikisnya. Biasanya anak yang memasuki fase remaja mengalami kondisi emosi yang fluktuatif mudah merasa senang juga mudah merasa sedih/tersinggung. Hal ini sangat wajar dialami karena secara biologis mulai memproduksi hormone tertentu yang bisa mempengaruhi kondisi emosi anak. Selain itu mulai berubahnya sudut pandang anak terhadap hal-hal yang ada disekitarnya, misalnya: menganggap orangtua kuper/tidak gaul, atau mulai mempertanyakan perbedaan value/pola asuh yang dianut oleh keluarga “kok, temenku boleh pacaran aku enggak?”.
Tidak sedikit orangtua yang merasa menjadi musuh atau kesulitan dalam menghadapi tingkahlaku anak yang berada pada fase usia remaja ini. Berikut ini beberapa tips yang bisa digunakan untuk menghadapi anak usia remaja. Pertama, orangtua belajar untuk mulai membiasakan diri untuk tidak terlalu mencampuri setiap urusan/kegiatan anak. Orangtua sebagai observer dan pendengar yang setia ketika anak bercerita atau mulai menanyakan hal-hal yang mungkin bersifat tabu. Ingat, anak sedang berada di fase pra-remaja/remaja, merekapun mengalami perubahan signifikan pada diri mereka dan membutuhkan adaptasi. Nah, disaat adaptasi seperti ini orangtua menjadi pendengar setia terhadap setiap keluh kesah anak.

Kedua, tidak menginterupsi anak atau memberikan penjelasan yang tidak masuk akal. Biasanya situasi dimana anak mendapatkan interupsi/bantahan/penolakan terhadap apa yang mereka rasakan hanya akan membuat mereka berpikir bahwa “ko aku dimarahi ya?”, “aku harus cerita sama siapa dong ya?, mama malah marah..?. Hal ini membuat anak menjadi sulit terbuka kepada orangtua mengenai dirinya. Ketiga, orangtua memposisikan diri sebagai teman yang bisa memahami kondisi anak, ketika ada hal-hal atau pandangan yang tidak sesuai pun orangtua berusaha menggali lebih dalam apa yang membuat anak memiliki pemikiran atau berpendapat demikian, karena kadang anak remaja hanya butuh didengar sehingga mereka merasa lebih nyaman.

Menghadapi anak usia pra-remaja/remaja tidaklah mudah, namun orangtua tetap harus membimbing anak ketika ada difase ini sehingga perkembangannya menjadi lebih baik dan optimal. Menyesuaikan dan menempatkan diri saat menghadapi anak remaja juga membutuhkan kerendahan hati dan kelembutan, menjadi teman baik anak dan mau mendengarkan. Kita sebagai orangtua harus bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak dan mau memahami kondisi anak, karena fase remaja ini lah yang berkontribusi lebih banyak dalam membentuk jati diri anak ketika anak dewasa.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published.