Parenting dibikin gampang aja

Cuma butuh cinta dan senyum.

Parenting jadi mudah

Kalo kita saling dukung!
hqdefault

Segala sesuatu yang berlebihan itu enggak baik; cerita tentang overparenting

“Sini sama mama aja, kamu enggak bisa!” atau “Aduh kamu tu udah siap apa belum, kok lama banget? Sini deh mama rapiin, sini mama iketin sepatunya, sini udahlah gendong aja!”

Akrab gakk? Hehehe..

Kalau sesekali terucap, mungkin biasa-lah yaaa, Namanya juga buibuk, hobinya merepet. Tapi kalau setiap saat, dan bahkan sampai berlebihan, dan dilakukan pada setiap hal hmmm…

Hati-hati overparenting

Hari gini, banyak ya istilah terkait gaya-gaya pengasuhan. bukannya mau nakut-nakutin, tapi waspada kan boleh dong ya? Soalnya, menurut buku The Overparenting Epidemic Tulisan George S. Glass, MD dan David Tabatsky, pengasuhan gaya ini cukup mengkhawatirkan bagi masa depan anak.

Kok bisa?

Iya bisa, ternyata. Rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh setiap orang berawal dari rasa percaya, jika ia sejak kecil sudah dianggap tak bisa dipercaya. Coba deh kita bayangin sedikit, kalau suatu hari nanti si kecil ketahuan curang. Apa yang akan kita lakukan?

Menyalahkan guru? Menyalahkan teman anak? Atau menyalahkan pemerintah? Hehe…akan selalu ada sih, jawaban untuk ngeles, agar anak tidak kena masalah. Tetapi sampai kapan? Sampai kapan kita bisa terus menyelamatkan dia dan membuatnya tidak merasa takut, kecewa, sedih?

Akan tiba saatnya ia harus menghadapi dunia nyata dan mengalami berbagai sakit hati karena perbuatan orang lain disekitarnya, bukan? Ada saatnya ia tidak bisa dilindungi oleh ayah dan ibunya. Kebiasaan melindungi anak dengan menyalahkan pihak lain adalah tanda-tanda kita tidak perlu bertanggung jawab pada kejadian dalam hidup kita dan tidak perlu berusaha untuk memperbaikinya. Inilah yang akan dicontoh oleh anak.

Mencintai, bukan memaksakan

Iya, Namanya orang tua pasti cinta sama anak. Pasti kepingin terus melindungi, kepingin terus membantu, kepingin memberikan seisi dunia dan langit bagi si anak. Tapi, apakah cinta seperti ini yang dibutuhkan, bahkan diinginkan, anak?

Pada akhirnya, orangtua harus belajar ikhlas dengan mundur selangkah dan berkomunikasi dengan dirinya sendiri untuk mempertanyakan “Kenapa sih kita harus memaksakan sesuatu padanya? Kenapa kita harus terus membantunya, tanpa memberikan kesempatan ia mencoba? Kenapa harus memaksakan jadwal les padat? Kenapa harus terus “Membungkus si kecil dengan bubble wrap”?

Benarkah itu semua untuk anak, atau untuk kepuasan diri sendiri? Atau untuk kepuasan pemirsa di media sosial?

Resep agar pengasuhan jadi lebih sehat

Sejak si kecil lahir, kita, orangtuanya memang dihadapkan pada pilihan demi pilihan. Tidak mudah untuk membuat keputusan yang tepat dari berbagai pilihan tersebut, apalagi tau betul mana yang paling benar untuk si kecil. Kan kita sama-sama masih terus saling belajar mengenal satu sama lain, bukann?

Namun ada beberapa hal mendasar yang bisa dilakukan, dan dapat membantu orangtua menentukan pilhan terbaik. Apa saja?

  1. Segala hal yang berkaitan dengan anak, dahulukan waktu sebelum uang.
  2. Dengarkan keinginan mereka, sebelum memberikan perintah. Dukung keterterikan mereka, karena ini bukan tentang ibu atau ayahnya.
  3. Biarkan si kecil merasakan kegagalan, dimulai dari jatuh ketika bermain di playground, misalnya. Mereka harus belajar bahwa kehidupan ini pasti bersinggungan dengan luka, dan si kecil harus siap.
  4. Menjadi tempat si kecil untuk belajar mengambil hikmah dari kesalahan yang mereka perbuat. Sebab, kesalahan bisa menjadi peluang, yang nantinya dapat mengasah kemampuan penyelesaian masalah dan terpakai hingga dewasa.
  5. Biarkan ia merasa bangga pada hasil kreasinya, meski kita merasa “Sebenernya ini bisa jadi lebih bagus, deh..”. itu “pameran” mereka, bukan kita.
  6. Biarkan si kecil memilih teman mereka sendiri, ya. Sebab dengan begitu, akan mengasah kemampuan kepedulian sosial dan kecerdasan emosi mereka.
  7. Bimbing anak untuk mampu bicara langsung mengenai permasalahannya, dengan guru kelas. Negosiasi adalah hal yang amat penting dan harus terus diasah.
  8. Stop overschedule anak-anak. Mereka butuh waktu untuk cukup tenang dan melakukan refleksi pada hal-hal yang terjadi dalam hidup. Sebab, tanpa kita sadari, hidup mereka juga berjalan dengan cepat lho.
  9. Nikmati waktu kosong dengan tidak melakukan apa-apa yang spesifik, tanpa jadwal, tanpa kegiatan dengan muatan. Biasanya di waktu bebas seperti ini justru kita bisa saling mengobrol dan saling mengenal dengan lebih baik.
  10. Ikhlaskan!

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published.