Parenting dibikin gampang aja

Cuma butuh cinta dan senyum.

Parenting jadi mudah

Kalo kita saling dukung!
Artikel-parenting-1-768x768

SEKOLAH INKLUSI : DIMANA DAN BAGAIMANA ?

Pernah mendengar tentang sekolah inklusi? Secara singkat, dikatakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan pendidikan khusus dan regular dalam satu sekolah. Berbeda dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang mengkhususkan diri sebagai sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus, sekolah inklusi dianggap dapat menjawab kebutuhan masyarakat akan hak pendidikan secara lebih luas.

Jumlah SLB yang masih terbatas, dan daya tampung yang minim dikarenakan penyesuaikan dengen komosisi tenaga pendidik dan fasilitas,  membuat anak-anak berkebutuhan khusus harus berjuang ekstra unduk mendapatkan hak pendidikan di bangku sekolah umum.

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) tahun 2017 menyebutkan bahwa ada 1,6 juta ABK di Indonesia.Dari jumlah tersebut, sekitar 115 ribu ABK bersekolah di SLB dan 299 ribu anak sekolah di sekolah reguler pelaksana sekolah inklusi. Sisanya tidak menempuh pendidikan sama sekali. Dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi sekolah untuk ABK sangat rendah.

Ketika dihadapkan dengan masalah seperti ini, apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua atau sebagai bagian dari masyarakat dimana tentu ada Anak Berkebutuhan Khusus di sekitar kita. Yuk simak cerita dari Bunda Diah menemukan solusi pendidikan untuk salah satu anaknya yang berkebutuhan khusus.

Bunda Diah menuturkan ketika mengetahui anak keduanya berkebutuhan khusus, maka seketika ia dan suaminya langsung berdiskusi dan akhirnya memutuskan untuk pindah tempat tinggal ke daerah yang memiliki pilihan sekolah inklusi. Dan hal ini sangat tidak mudah, sambil browsing – saat itu usia anak saya masih 2 tahĂșn dan kakaknya sudah 6 tahĂșn. Saya bilang ke suami kalau kita harus pindah ke Jakarta karena itu pilihan terbaik yang saya miliki saat itu. Saya menghubungi kurang lebih 10-15 sekolah inklusi, meminta berbicara dengan salah satu staf dan bertanya persiapan apa yang harus kami lakukan agar kelak anak saya yang ABK bisa memperoleh kesempatan untuk sekolah disana.

Memang saat itu, kami tidak melirik SLB sama sekali saat itu, tapi kami Sudan pasar, kalau memang terapi terapi yang kami lakukan selama ini tidak membantu anak kami untuk sampan pada standar yang diinginkan Oleh sekolah tersebut, ya wes lah pilihannya sekolah di SLB atau homeschooling. Tapi kami punya waktu masih 6 tahun lagi untuk mengejar perkembangan anak kami, ikhtiar aja semoga Allah mudahkan.

Yang berat saat itu adalah pindah ke Jakarta sama saka memindahkan anak sulung saya dari sekolahnya, meninggalkan ayah saya yang sedang sakit – karena kebetulan rumah kami di kampung berdekatan. Rasanya saking lebaynya saya ngebatin oh ini yang dikatakan orang bush simalakama ya. Butuh waktu 1,5 tahun kemudian sampai akhirnya kami benar-benar pindah ke Jakarta, konsisten ikut terapi sampai usianya 6 tahun dan kami daftarkan ke TK kecil dekat rumah. Karena sekolahnya baru, murid belum banyak dan kami secara terbuka mengatakan keterbatasan dan ekspektasi yang kami miliki. Dua tahun kemudian kami baru benar benar seius mendaftarkan ke sekolah inklusi, tentu dengan biaya yang lebih besar daripada biaya siswa reguler, dan Alhamdulillah setelah tahun kedua anak kami dinyatakan tidak memerlukan shadow teacher lagi.

Kalau ditanya apa ekspektasi kami terhadap anak-anak saya, jawabannya sama untuk keduanya. Semoga ilmu dan kemampuan yang mereka miliki, membuat mereka bisa bertahan hidup, gak nyusahin dan selalu mengamalkan ilmu mereka di jalan Allah.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published.