Parenting dibikin gampang aja

Cuma butuh cinta dan senyum.

Parenting jadi mudah

Kalo kita saling dukung!
Rumah-Bebek-1200x800

Yuk Kita ke Rumah Bebek…!

Siapa yang tau rasa leganya ketika si kecil sudah bisa minta ke toilet untuk pipis atau pup? Hayoooo tunjuk tangan!! Hehehe..seneng, pasti. Karena HEMAT. Ya ampun, harga pospak itu gak lucu ya kaaan? Kedua, lega juga-lah sudah gak perlu lagi repot-repot ganti popok, yang aduhai itu harumnya.

Meski, yaaaa…kadang jadi males juga sih karena lagi makan, tiba-tiba minta anter pipis. Atau lagi enak tidur, mau pipis. Pospak memang praktis, tapi kalau terus-terusan, wah, selain bikin anak enggak mandiri dan harus terus bergantung pada orang lain, tentu saja mahal. Hihihi..

Makanya, ketika usianya sudah sesuai, mulai yuk, toilet training-nya!

Keinginan si kecil untuk pipis atau pup berbeda dengan orang dewasa, apalagi batita yang kesehariannya memakai diapers. Beberapa anak menunjukkan keinginannya untuk belajar BAB dan BAK di kamar mandi saat usia dua tahun. Ada juga anak yang belum mau melakukannya meski usia mereka sudah 2,5 tahun atau lebih.

Cerita dari Taman Main

Semua cerita bisa beda-beda, tapi, kalau di Taman Main Daycare, toilet training masuk dalam kegiatan harian anak-anak. Meskipun, tentu saja, diterapkan caregiver atas persetujuan atau permintaan dari orang tua. Soalnya ada beberapa orang tua yang menitipkan si kecil di Taman Main belum siap menerapkan toilet training untuk buah hati mereka.

Tante T, salah satu caregiver di Taman Main, menceritakan pengalaman uniknya selama menerapkan toilet training kepada D (23 bulan). D ini adalah salah satu anak yang mulai melakukan toilet training baik di rumah atau selama dititipkan di Taman Main.

Hari pertama toilet training di Taman Main, D selalu marah dan ngambek ketika diajak ke toilet untuk pipis atau pupup (BAB). Hal ini kemudian dikonsultasikan kepada sang Mama. Ternyata, D belum terbiasa dengan toilet di Taman Main yang basah, sementara di rumah toiletnya kering.

Rumah Bebek jadi solusi

Untuk menarik minat D mengikuti toilet training, maka sang Mama sengaja membawa potty seat “rumah bebek” yang ada di rumah ke Taman Main. Tante T pun mempelajari kebiasaan-kebiasaan sang Mama saat melakukan toilet training untuk D di rumah. Jeda waktu per 60 menit, Tante T selalu mengajak D untuk pipis ke rumah Bebek.

“Yuk kita ke rumah Bebek.” Ucap Tante T menirukan.

Awalnya, Tante T mengajak D ke toilet untuk pipis dalam jeda waktu per 10 menit. “Karena waktunya mungkin terlalu cepat, akhirnya saya tambah waktunya jadi per 60 menit sekali untuk pipis,” kata dia. Untuk memancing pipisnya keluar, Tante T membiarkan D yang tengah duduk di atas Potty seat, bermain atau sekedar bercanda dengannya.

Memasuki hari keempat toilet training pun menunjukkan hasil. D tak lagi pipis di diapers melainkan di Rumah Bebek. Sementara untuk Pupup, D dibiasakan diajak ke toilet usai makan siang atau setelah bobo siang.  

Menurut Tante T butuh kesabaran, agar toilet training bisa berhasil. Selain kesabaran, dibutuhkan kesiapan orang tua dan si kecil. Sebab, jika hanya diterapkan di daycare, maka toilet training bisa gagal.

Kata psikolog

Mengenai toilet training ini sendiri, Ibu Psikolog anak, Devi Sani MPsi dari klinik Rainbow Castle, sudah pernah juga cerita. Katanya, salah satu penyebab anak butuh waktu lama untuk toilet training karena ketakutannya berada di WC. Iya juga ya? WC kan ruangan besar, lembab dan mengeluarkan suara keras. Mengajak boneka kesayangan untuk sama-sama duduk di potty, bisa jadi cara menyenangkan lho.

Oiya, inget juga bahwa setiap anak punya kecepatan yang berbeda dalam hal potty training ya. Kalo D bisa menunjukkkan hasil dalam 4 hari, belum tentu semua anak begitu. Bisa jadi lebih cepat, dan bisa jadi lebih lama. Mendingan kita kenali dulu anak kita, tau betul apa masalahnya, jika ada masalah. Dan tau betul, apa yang disuka dan tidak disukai. Siap atau tidak siapnya anak, pun Cuma orang tua lho, yang tahu.

Ibu Devi bilang; kesuksesan toilet training, ada di tangan orang tua. komitmen, kesabaran, dan konsistensi yang menjadi kuncinya. Tapi tenang aja, pasti bisa kok…#parentingiseasy

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published.