Previous
Next
WhatsApp Image 2019-02-25 at 14.28.46

Bahagia itu sederhana, ah masa?


Sering ya, nulis #BahagiaituSederhana misalnya habis hujan-hujanan lalu tukang bakso favorit pas lewat, jadi seneng. Atau habis pusing mikirin kerjaan, sampe rumah si kecil masih melek dan kasih hadiah prakarya nya buat kita.

Iya, kelihatannya bahagia itu memang tidak rumit. Tidak harus jadi crazy rich Asian untuk bahagia.

Apalagi kalau kita inget-inget dulu masa kecil, ketika kehidupan jauh lebih sederhana lagi dari sekarang ini. Saat main benteng dan boy tiap sore aja sudah bisa bikin hati gembira riang tak terperi. Ketika kebahagiaan tidak diukur dari seberapa mewah mobil yang bisa kita beli atau seberapa keren foto makan siang kita.

Tapi apa iya anak kecil jaman sekarang juga masih mudah bahagia?

Bukan hal baru kalau kita datang ke rumah seseorang dan melihat mainan bertumpuk kadang yang paling belakang menjadi sangat berdebu.

Tetapi apa iya dia bahagia dengan tumpukan mainan itu? Ketika hasrat  bermain di bawah sinar mataharinya pun sudah mulai lenyap terganti sinar UV dari layar kecil di hadapannya. Coba kalau berani merebut. Wah, soundtrack “berkibarlah benderaku” di bagian “Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membelaaaa…” langsung berkumandang.

Seiring dengan si kecil yang mengamuk, meronta, menangis dan memarahi orang tuanya. Duh…

Dulu juga kita sering diteriakin “KAKAAAAKKK AYO MASUK SUDAH SORE, MANDI DULU!” saat lagi seru-serunya main petak umpet. Kesal, iya. Tapi apa iya kita sampai mengamuk dan memarahi orang tua kita?

Ya mana berani, nanti dikurung di kamar mandi. Hehehehe..

Jadi, lebih baik pengasuhan yang mengancam anak dikurung di kamar mandi? Ya enggak dong. Tetapi yang memberikan segalanya di muka bumi ini hanya agar anak bahagia, juga enggak akan pernah bikin dia bahagia.

LAH KOK BAHAGIA TERNYATA RIBET SIH SODARA-SODARA?

Engggaaaakkk! Parenting is easy, bu ibu pak bapak. Tau gak yang anak butuh? Kita! Klise gak? Hehehe tapi emang Cuma itu yang anak butuh. Ibu dan bapaknya. Ayah dan bundanya. Mama dan papanya.

Sosok yang pertama dia temui ketika ketakutan terlahir di dunia luas ini. Sosok yang paling ia percaya. Sosok yang ia andalkan untuk membantunya melalui setiap hari dalam kehidupan ini.

Beli mainan se-kontainer sebulan kalau ayah dan bunda enggak pernah main sama anak, ya anaknya akan terus minta. Karena bukan itu kebutuhan utamanya.

Main didepan layar tanpa orang tua yang menemani juga enggak akan memuaskan dia.

Bahkan main jumpalitan di bawah sinar matahari tanpa orang tua yang pernah menemani juga enggak akan pernah mampu mengisi kosong di hatinya.

Attachment hanya terbentuk di 2 tahun pertama kehidupan seseorang. Koneksi hanya terbentuk hingga usianya 5 tahun. Roots. Iya, akarnya. 0-5 tahun adalah usia krusial ketika anak belajar memercayai dunia ini, dengan bimbingan ayah dan bunda.

Apa ibu dan ayah rela, anak membentuk attachment dan koneksi dengan layar?

Yuk, peluk mereka. Masih ada kok waktunya. 

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print