Previous
Next
def pic

Belum tentu stunting, kok..

AHidup di Indonesia, memang harus banyak sabar dalam mengawal tumbuh kembang anak. Hal ini dikatakan oleh dr arifianto SpA, spesialis anak. Selain harus sabar sama anaknya, juga harus sedia stok sabar lebih untuk menghadapi orang-orang di sekitar.

Banyak sekali mitos seliweran di sekitaran ayah dan bunda. Misalnya; anak dibilang kurang gizi kalau tidak gemuk ginuk-ginuk. Atau anak dibiilang susah makan, kalau tidak mau makan nasi. Padahal anaknya doyan pasta, misalnya. Apalagi jika dibilang “Anaknya susah makan, kaya bapaknya waktu kecil ya, sama gak mau makan” padahal, tidak ada satu pun penelitian yang membuktikan bahwa enggak doyan makan itu keturunan.

Dibilang “Anaknya susah makan, ya!” sudah jadi sugesti negatif, baik bagi si ibu maupun si anak. Apalagi kalau habis itu, si anak malah dikasih makanan instan yang “enak” dan “gurih” namun sebetulnya amat berbahaya dan tidak bergizi. Duh..

Bukan dipaksa

Psikolog dari klinik Rainbow Castle, Devi Sani M.Psi. Psikolog juga pernah bilang bahwa apapun cara makan yang dipilih orang tua untuk anak, sebaiknya merupakan cara yang paling cocok untuk anak. Baby led weaning atau spoon feeding, atau dicampur antar keduanya, sebaiknya tidak dengan dipaksa.

Apalagi kalau sudah memasukan unsur cekok-cekok makanan, cekok-cekok jamu, wah itu sudah menyisakan banyak trauma. Anak sebaiknya makan paling lama hanya 30 menit, dan sudah stop tidak perlu dipaksa. Bahkan, dokter Apin juga menyatakan bahwa proses memberi makan anak tidak perlu memaksakan yang idealnya. Misalnya makan sambil duduk diam.

Jika kita belum mampu melakukan ‘yang ideal’, tidak apa-apa kita melakukan semampu kita sepanjang anak dapat terjamin bahwa asupannya terpenuhi. Pelan-pelan, nanti anak akan belajar untuk makan di kursi. Mungkin bukan sekarang. Mungkin nanti ketika dia sudah lebih besar.

Reward makan?

Tetapi tak berarti semua jadi diperbolehkan. Misalnya sistem rewrd karena anak mau makan. Wah, ini dampaknya nanti orang tua yang jadi kerepotan karena anak tidak akan belajar mengenali rasa laparnya jika dia makan karena paksaan atau ada sesuatu yang diinginkannya setelah makan. Inilah yang nantinya bisa jadi masalah bagi pertumbuhannya.

Senang dulu, nanti juga banyak makannya

Senada dengan dokter Apin, psikolog Devi juga menyatakan agar anaknya senang dulu makan. Bahwa makan bagi seorang anak bukan hanya tentang mengisi perut, namun juga belajar mengenal rasa, mengenal tekstur, warna, hingga apa yang terkandung di dalamnya.

Kalau anaknya sudah merasa kegiatan makan itu menyenangkan, ia akan lebih betah duduk di kursi Bersama-sama dan menikmati waktunya makan. Apalagi jika dilakukan Bersama-sama keluarganya. Wah, seneng pasti ya?

Lagipula, kata dokter Apin, perlu dipahami bahwa tidak semua pendek adalah stunting. Stunting itu pendek akibat gagaltumbuh. Kalau pendek tapi pertumbuhan berat badan normal (bisa dipantau dari growth chart WHO), kemungkinan familial, atau lainnya. Anak kurus tapi nggak pendek juga bukan stunting, kok…

Jadi tenang ya. Biarkan anak menikmati setiap proses makannya.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print