Previous
Next
Doc-Celeste

Menangani diare dengan ….. kasih sayang?!

Duuuh, anakku diare! Buruan mampetin!

Wah, masa iya sih kalau diare harus buru dimampetin? Coba kita simak cerita Dokter Arifianto S.pA ya, apa iya gitu sih?

Diare, adalah…

Oke, sebelum jauh membahas diare, kita harus sama-sama paham dulu kan, diare itu apa sih? Jadi, menurut World Health Organization (WHO), daire adalah buang air besar dengan konsistensi encer atau cair lebih dari 3 kali sehari, atau lebih dari frekuensi normal seseorang.

Maka, apa kata kunci diare? Iya, harus memenuhi kriteria; konsistensi dan frekuensi.

Kenapa dua hal itu harus diingat? Soalnya frekuensi normal buang air besar pada usia anak-anak dapat berbeda dari frekuensi normal pada usia dewasa. Bahkan antar bayi pun bisa berbeda frekuensi-nya. Seperti bayi yang diberi ASI eksklusif, yang buang air besar (BAB) setiap kali habis menyusu.

Normalnya, seorang anak BAB 3-4 x/hari tetapi tidak cair, maka tidak mengalami diare. Baru dikatakan diare apabila konsistensinya lebih cair (banyak air dibanding ampas) ketimbang biasanya.

Menangani diare dengan; obat?

Sebetulnya, sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh virus. Maka obat-obatan tidak dibutuhkan pada keadaan tersebut. Memberikan obat tanpa indikasi yang tepat, justru menimbulkan masalah baru. Apa aja sih?

  • Obat “pemampat” diare; obat ini dapat memperlambat gerak usus, sehingga virus/bakteri justru lebih lama berada di dalam tubuh.
  • Selain itu, obat ini dapat memperparah luka di lapisan dalam usus dan menyebabkan cairan dan garam tertahan di dalam saluran usus tanpa diserap kembali oleh tubuh. Sehingga anak dapat mengalami dehidasi tanpa disadari karena tidak adanya diare yang terlihat.
  • Antibiotik;  jika disebabkan virus, jelas tidak butuh antibiotik. Lagipula, usus manusia kan dihuni oleh miliaran bakteri yang membantu pencernaan dan menjaga keseimbangan usus.
  • Pemakaian antibiotik tanpa indikasi yang tepat akan membunuh bakteri baik tersebut. Sebagai tambahan, sebagian antibiotik justru memiliki risiko efek samping diare.

Sebaiknya,…

Perhatikan hal-hal ini saat anak diare:

  • Jika tidak menunjukkan tanda dehidrasi, anak dapat diberikan makan dan minum seperti biasa; termasuk buah dan sayur.
  • Teruskan pemberian ASI
  • Jika diare ringan tersebut disertai muntah, larutan rehidrasi oral seperti oralit atau larutan rehidrasi oral lainnya dapat diberikan dalam jumlah sedikit, tapi sering.
  • Makanan normal dapat kembali diberikan segera setelah dehidrasi teratasi, yang akan membantu pemulihan lapisan dalam usus dan fungsi pencernaan.
  • Hindari minuman yang mengandung banyak pemanis karena dapat memperparah diare.

Jadi jangan panik dulu, kalau sudah kenal sama penyakit, dan kenal baik dengan kebiasaan-kebiasaan si kecil, maka kita akan lebih tenang, bukan? Hal terpenting dalam mencegah diare adalah menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Kalau sudah terlanjur terjadi, tak perlu buru-buru dimampatkan. Lebih enak peluk-pelukan sama anak yang lagi mules-mules itu. Diberikan ASI atau minuman supaya anaknya tidak dehidrasi, sambil dielus-elus. Pasti nyaman deh..

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print