Previous
Next
def pic

ACARA RUMAH DANDELION

Jadi, Sabtu (6/1) kemarin, kami sempat menghadiri acara sharing Bersama ibu Virginia Tanumihrdjo E.Ed, M.Ed @busylittlebunnies yang sudah berpengalaman dengan Pendidikan anak usia dini. Kali ini, temanya tentang Autism Spectrum Disorder (ASD).

Sharing yang diadakan di rumah dandelion ini berlangsung seru banget deh, bahkan sampe molor lama saking antusiasnya para guru, orang tua dan psikolog. Banyak banget ilmu yang kami dapatkan dari acara ini mengenai anak berkebutuhan khusus.

Laki-laki lebih banyak

Salah satu ilmu baru yang kami dapat dari acara kemarin adalah; jumlah anak laki-laki yang mengidap Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah 1:42. Sementara anak perempuan 1: 149. Dan ternyata, bukan berarti karena anak laki-laki pengidap ASD memang lebih banyak jumlahnya, tapi karena anak laki-laki lebih ekspresif. Lebih mudah terdeteksi.

Sementara anak perempuan lebih pintar berkamuflase. Sehingga agak sulit terdeteksi, bahkan kadang tak terlihat ada yang harus diperiksakan. Resikonya memang juga mengiringi, banyak anak perempuan yang terdeteksi berkebutuhan khusus ketika usianya sudah terlalu besar. Dan hal ini semakin menyulitkan untuk melakukan tindakan terapi dan sebagainya.

Mengidap disorders lain

Oiya, satu lagi yang kami dapatkan dari acara kemarin, yakni anak dengan ASD, 99,9 persen-nya mengidap disorders lain. Bisa ADHD, ADD, Learning difficulties, dyslexia, dll. Karena itu, enggak ada anak berkebutuhan khusus yang sama persis satu sama lain.

Meski telah dinyatakan autisme, setiap anak tetap memiliki karakter yang berbeda satu sama lain. Karenanya, orang tua harus sangat mengenal anak. well, mungkin balik lagi ya ke koneksi yang terus diasah antara orang tua dan anak. acceptance dan terus berusaha bekerjasama dengan berbagai pihak seperti guru, psikolog, dokter, keluarga serta semua elemen yang dibutuhkan pun menjadi jalan terbaik untuk masa depan anak yang lebih baik.

Bukan untuk disembuhkan

Autistic bukan salesma. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan orang tua kepada anaknya, bukan dalam upaya penyembuhan. Namun dalam upaya pemberdayaan. Sebab, anak pengidap ASD bukan  berarti tidak bisa bekerja, belajar dan hidup seperti kita semua. Karenanya, inilah tugas kita sama-sama untuk bekerjasama.

Pihak sekolah, keluarga, terapis, psikolog, dokter anak, hingga tetangga, dan teman-teman atau orang tua lain di sekolah, mari kita bahu membahu memberikan awareness bahwa -seperti kata Temple Grandin- people with autism are different, but not less.

Terima kasih banyak atas kesempatan belajarnya yang amat berharga Rumah Dandelion dan Ibu Nia.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print