Previous
Next
Am-I-Good-Parent-1200x767

Am I Good Parent ?

Hal yang paliiiiing sering kami dapatkan di lapangan, Bersama Taman Main Daycare dan Roots Childcare adalah para orang tua yang memertanyakan “Apakah saya orang tua yang cukup baik?”

Biasanya kami akan bertanya balik. “Untuk siapa?” hehehe..sebab kalau untuk anak, Tuhan sudah menciptakan orang tua dan anaknya satu paket. Tugas orang tua adalah mengenal anaknya. Ketika sudah mengenal, tentu semua akan berjalan dengan baik. Lain lagi kalau pertanyaan itu diajukan untuk mata orang lain, seperti teman-teman, nenek kakek, atau tetangga. Yang satu itu kami enggak bisa jawab.

Soal kegalauan orang tua ini juga sudah pernah dijawab oleh psikolog anak ibu Devi Sani MPsi. Pertanyaan yang sering dibahas oleh orang tua adalah:

“Aku sering merasa enggak sabar sama anak. Apalagi kalau habis pulang kantor, capek, dan dia melakukan kesalahan yang sama diulang-ulang begitu terus. Kesal, tapi habis marah lalu nyesel. Aku bukan orang tua yang baik..”

Jawaban ibu Devi:

Hmm kata-kata “sering” disini menarik. Karena sebenarnya begini, merasa marah adalah perasaan yang manusiawi dirasakan tapi yang kemudian harus dicermati adalah; bagaimana cara mengekspresikannya. Jika ekspresi marah atau kecewa yang dipilih adalah sedikit bentakan, pastilah terjadi pada setiap orangtua. Tetapi kalau ada kata “sering”, maka ada yang perlu kita perbaiki dan lihat ke dalam diri kita:

  1. Apakah ekspektasi kita sebagai orangtua mengenai keinginan anak untuk berperilaku A,B,C sudah sesuai dengan pencapaian usianya. Jangan-jangan apa yang kita harapkan memang sewajarnya masih perlu dilatih di anak kita atau belum sepenuhnya berkembang.
  2. Seberapa baikkah kita menerapkan good self-care habit untuk diri sendiri. Self care disini tolong jangan diartikan sempit seperti mengutamakan terus-menerus keperluan pribadi dan mengenyampingkan kebutuhan anak atau hanya diartikan sekedar ke salon dan perawatan.

Tetapi perlu diartikan lebih luas, yaitu tahu betul bahwa tidak ada orangtua yang sempurna. Tahu betul bahwa terkadang kita perlu waktu untuk diri kita sendiri sejenak, dengan cara apa pun itu, yang tidak hanya sekedar ke salon saja. Bisa jadi kebiasan lari pagi sendiri di subuh hari atau kebiasaan olahraga bersama teman SMA dulu. Banyak contohnya.

“Hal yang paling menjadi masalah adalah, aku susaaaaaah banget mengontrol emosi. Kadang perilaku anak sepertinya mengetes batas kesabaran banget..”

Jawaban Ibu Devi:

Cara mengontrol emosi adalah pertanyaan singkat yang jawabannya perlu ber-halaman-halaman. Namun yang paling mendasar adalah:

  1.  Pahami diri kita sendiri sebagai orangtua. Apa sih penyebab kita suka marah? Perilaku mana pada anak yang sering membuat kita marah? Lalu tanyakan kepada diri kita, apakah yang membuat kita marah ini benar-benar perilaku anak atau ada hal lain seperti sebelumnya kita habis bertengkar dengan suami sehingga anak jadi pelampiasan. Sadari ini dulu dalam diri kita.
  2. Berkomitmen untuk tidak memukul,mencubit dan sebagainya.
  3.  Saat kemarahan benar-benar  memuncak, sadarkan diri untuk STOP, DROP, BREATHE 10x. Selalu ingatkan diri kita “Okey kitalah orang dewasa di sini. Kita harus bersikap bagaimana mengekspresikan marah yang benar bukannya ikut-ikutan tantrum”

“Keliatannya kok energi aku dan anakku enggak pernah sejalan ya? Terutama kalau baru pulang kantor, kami capek dan kepingin istirahat. Sekadar selonjor dan minum teh hangat, tapi anak masih aja ngajak main..”

Jawaban ibu Devi:

Mengapa energi bisa tidak sejalan? Jika kita memandang pengasuhan adalah tugas, seringkali ini terjadi. Ketika kita melihat pengasuhan sebagai cara berkoneksi yg indah, maka kita energinya saling melengkapi. Namanya anak gak ngeliat orang tuanya seharian pasti kangen, jadi mereka masih kepingin main sama orang tuanya. Nah, orang tuanya kangen gak?

Tapi, tentunya jika anak punya kebutuhan sensori yg tidak imbang tentu energi mereka bisa kurang cocok dgn energi orgtuanya. 

“Aku tahu anak enggak boleh dikasih gadget terus. Tapi kalau sudah rewel, dan aku sudah capek, kan gadget paling enak buat bikin dia diem….”

Jawaban Ibu Devi:

I don’t understand why the answer must be gadget. Padahal jawaban satu-satunya meredam anak rewel adalah mulai membuat real connection dengan mereka. Kenapa mereka rewel? Ada kebutuhan yang belum terpenuhi, mungkin kebutuhan untuk disayang, diakui, dipertimbangkan pendapat tidak masuk akalnya, kebutuhan untuk di tatap matanya, dibelai, didengarkan perasaannya bukan hanya diberikan solusisolusi konkrit, kebutuhan akannn seseorang yang mau mendengarkan dan meng-acknowledge perasaan dia. So, always start with build connection. Gadget kadang dibutuhkan saat tertentu saja.

“Kok aku suka ngerasa kayanya anakku di usia tertentu perkembangannya enggak seperti anak-anak lain di usianya ya? Kok anak temenku udah bisa iket tali sepatu, anakku belum. Anak temenku udah pinter baca, anakku belum…”

Jawaban ibu Devi:

Tahu anak kita lebih dalam. Tahu fase perekembangan dia di usia ini harusnya sudah bisa apa saja dan bagaimana cara mengajarinya di usia tersebut?

Dari mana kita tahu tiap fase perkembangan anak harusnya sudah bisa apa saja? Pastikan dari psikolog anak atau dokter atau ahli yang memang belajar hal ini secara mendalam dan berdasarkan penelitian. Bukan hanya katanya si ini, katanya si itu atau pengalaman pribadi, karena anak dia pasti berbeda. Tapi ada benang merah kesamaan yang bisa diambil dan dijadikan patoka berdasarkan penelitian terpercaya. Jangan pernah menyadur tugas perkembangn dari sumber yang tidak jelas. Bisa bikin orgtua pusing karena anaknya banyak belum mencapai A ,B,C ternyata sumber yang digunakan tidak sesuai atau tidak ilmiah.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print