Previous
Next
29-juli-17.00-ambil-bagian-menciptakan-komunitas-ramah-tuna-rungu1-1200x1200

AMBIL BAGIAN MENCIPTAKAN KOMUNITAS RAMAH TUNA RUNGU

Kisah yang menarik dibagikan oleh Annisa, ibu dari 2 orang anak :  Cisha, 15 tahun, tuna rungu dan adiknya Malika, 8 tahun.

Cisha bersekolah di SLB Santi Rama, Fatmawati – Jakarta Selatan. Jarak tempuh dari rumah kami di Sawangan, Depok membutuhkan waktu hampir 2 jam untuk satu kali perjalanan. Saya dan suami bergantian mengantar anak-anak ke sekolah. Meski begitu, sekarang kami sudah bisa melepas Kak Ciz untuk naik ojek online sendiri, alasannya sih biar hemat waktu di jalan.

Malika bersekolah di daerah Lebak Bulus jadi perjalanan bisa dilakukan searah. Sambil menunggu kakaknya pulang sekolah, Malika ikut les musik dekat sekolah Cisha. Kalau tidak ada les, Malika ikut menunggu di ruang tunggu sambil ngobrol dengan orangtua atau guru Santi Rama. Begitu pula sebaliknya, jika ada kegiatan di sekolah Malika yang membuat Cisha harus menunggu, dia bisa menunggu sambil ngobrol dan bermain dengan teman-teman Malika. Mereka berdua kami berikan kesempatan yang sama.

Sebagai orangtua dengan anak berkebutuhan khusus, langkah awal yang paling penting bagi kami adalah penerimaan sepenuh hati. Cisha harus merasa aman dan menerima dirinya sendiri jika dia melihat kami sebagai orangtua mampu memberikan rasa aman dan rasa saying. Bahwa ada perbedaan kemampuan fisik yang dimiliki Kak Cisha, kamipun senantiasa berdiskusi sehingga ketika anak sadar bahwa dirinya membutuhkan perlakuan khusus, mindsetnya selalu positif.

Setelah fase menerima ini, kami bersikap terbuka dengan memberitahu ke lingkungan sekitar. Awali dengan keluarga dekat : kakek, nenek, tante, om, sepupu-sepupu – bias dibilang mereka inner circle Cisha juga.

Bagaimana dengan teman-teman kami, rekan kerja dan tetangga ? Sama saja, kami bersikap terbuka mengenalkan Cisha dan menjelaskan bagaimana bias berkomunikasi dengannya secara sederhana. Misalnya menepuk bahu sebelum berbicara, memelankan dan memperjelas gerak mulut agar Cisha bias menangkap maksud tujuan kita, menggunakan tulisan dll.

Kami berusaha melibatkan dan mendampingi anak dalam segala kegiatan di luar rumah. Ingat  bahwa mereka butuh selalu belajarkecakapan hidup. Ajari mulai saja dari hal sederhana, misalnya : ajak pergi ke warung dekat rumah. Sampaikan ke penjaga warung mengenai kondisi anak kita, dan jelaskan bagaimana cara berinteraksi dengannya.

Setelah hadirnya Malika, yang awalnya sempat timbul kekhawatiran bagaimana menjaga hubungan kakak-adik ini, justru ternyata Malika sangat membantu perkembangan sosial Cisha. Cara sederhana adalah dengan melibatkan Cisha di acara atau kegiatan Malika, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Malika selalu menjelaskan mengenai kondisi Cisha dan bagaimana cara mereka berinteraksi di rumah, otomatis hal ini menarik bagi teman-teman Malika. Tanpa disadari, disini terbangun sebuah lingkungan ramah dan peduli tuna rungu. Bahkan sedikit-sedikit, Malika mengajarkan bahasa isyarat ke teman-teman dan guru-nya di sekolah.

Apa yang dilakukan Malika sebagai adik, kepada kakaknya Cisha – sangat berarti bagi kami, begitu pula support dan penerimaan teman-teman Malika. Anak-anak belajar untuk saling menerima dan menyayangi dalam berbagai kondisi.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print