Previous
Next
4th_of_july

Anak ibu; pendek!

By: Dr Arifianto
STANTING!!! BAHAYA!!! Hehehe..iya, stanting memang isu yang sedang gencar dibahas. Mengapa? Sebab 1 dari 3 atau sekitar 9 .000.000 anak balita di Indonesia mengalami stanting (Data Riskesdas 2013). Banyak ya?
Prevalensi stanting Indonesia berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 mencapai 27,5 persen. Menurut WHO, masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stanting lebih dari 20 persen.

Artinya, secara nasional masalah stanting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagi di 14 provinsi yang prevalensinya melebihi angka nasional. Tingginya prevalensi stanting ini, dalam jangka panjang akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi Indonesia, lho.

Kok bisa? Sebab, Balita stanting, selain mengalami gangguan pertumbuhan, umumnya memiliki kecerdasan yang lebih rendah dari anak balita normal. Selain itu, anak balita stanting lebih mudah menderita penyakit tidak menular ketika dewasa dan memiliki produktifitas kerja yang lebih rendah.
Tapi, benarkah semua pendek itu stanting yang berisiko?

Dr Arifianto SpA pernah membahas soal ini.
Perawakan pendek alias stanting memang menjadi indikator yang rutin dipantau dalam survei kesehatan nasional suatu negara, dan dibandingkan dengan negara-negara lain. Beda ya pastinya, ketika rata-rata tinggi badan penduduk suatu negara lebih baik daripada negara lain.

Nah, sebetulnya apa sih perawakan pendek alias short stature itu?
Short stature adalah tinggi badan anak yang berada di bawah persentil 3 atau minus 2 Z-score di kurva pertumbuhan (growth chart). Apa pula artinya ini? Silakan browsing tentang growth chart. Mudahnya, ketika secara objektif anak dikategorikan pendek menurut kurva pertumbuhan, maka harus ditentukan, apakah termasuk perawakan pendek yang normal (wajar/fisiologis), atau abnormal?

Termasuk fisiologis jika dikategorikan familial short stature (memang keturunannya pendek/genetik) atau constitutional delay (sekarang pendek, nanti ketika menjelang/saat sudah pubertas menjadi tinggi sama halnya dengan kawan-kawan sebayanya).

Bagaimana membedakan kedua hal ini? Menggunakan bone age (foto ronsen telapak tangan untuk melihat usia tulang) salah satunya. Jika memang dokter menyimpulkan anak Bapak/Ibu masuk ke dalam perawakan pendek fisiologis ini, maka jangan berkecil hati.
Apa yang harus dilakukan?

Apakah tidak ada usaha yang bisa dilakukan untuk menaikkan tinggi badan anak kita? Berenang misalnya? Atau minum “susu tinggi kalsium” seperti kata iklan?

“Sampai saat ini, saya belum menemukan literatur yang cukup “sahih” menjelaskan hubungan antara berenang dan tinggi badan, sehingga saya tidak dapat menjawabnya,” kata dokter Apin. Terlepas dari hal ini, ujarnya, berenang adalah olahraga yang sangat baik bagi anak kita.

Tetapi jika sudah merutinkan anak berenang dan belum mendapatkan kenaikan tingginya menyamai kawan-kawannya, ya jangan berkecil hati bila pendeknya memang familial. Pastikan nutrisi anak yang seimbang sudah terpenuhi. Jangan sekedar mengandalkan minum susu saja.

Kalsium bukan faktor utama!
Minum susu tinggi kalsium bisa buat badan tambah tinggi? Kata iklan, anak yang lebih pendek, lalu dia minum susu tinggi kalsium, dan bertambahlah tingginya menyamai kawannya yang sebelumnya lebih tinggi.

Hehe, memangnya tinggi badan hanya dipengaruhi oleh asupan kalsium semata? Tentu saja tidak. Faktor genetik (keturunan) sangat berpengaruh. Jika ayah-ibu anak ini memang memiliki perawakan pendek (short stature), tentunya sangat wajar jika anak mereka ternyata lebih pendek dari kawan-kawan sebayanya. Meskipun si anak sudah minum tinggi kalsium setiap hari.

Malahan, bisa jadi anak ini mengalami efek samping kebanyakan minum susu. Misalnya, makannya kurang karena sudah kenyang dengan susu. Lalu risiko anemia defisiensi besi karena asupan kalsium yang tinggi mengurangi penyerapan zat besi di saluran cerna. Dan risiko sembelit.
Yang penting; Pantau teratur.

Jadi, kalau orangtuanya pendek, tapi sudah cukup nutrisi, tidak ada penyakit kronis pada anak, dan anak masuk dalam kategori stunting saat ini, apakah akan pendek seterusnya sampai dewasa nanti, dan tidak ada yang bisa dilakukan? Kalau pendeknya constitutional delay, oke deh masih bisa berharap tinggi belakangan alias late bloomer. Tapi kalau masuk kategori familial short stature?

Saat ini para ahli juga mengenal terminologi “secular trend in growth and puberty”. Salah satunya adalah usia menstruasi awal (menarche) anak perempuan yang makin muda dari dekade ke dekade berikutnya. Di abad ke-18 misalnya, laporan yang ada menunjukkan usia menarche anak sekitar 14 tahun.

Saat ini, usia 10 tahunan sudah banyak anak perempuan yang mengalami menarche, dan salah satunya berhubungan dengan indeks massa tubuhnya (status gizi). Usia menarche anak juga lebih cepat kadang-kadang, dibandingkan usia menarche ibunya dulu. Tinggi badan pun sama.
Tidak jarang kita lihat anak-anak yang tinggi badannya lebih tinggi dari kedua orangtuanya saat sudah masuk usia remaja, meskipun kadang kedua orangtuanya masuk dalam kategori pendek. Berbagai faktor seperti nutrisi dan pengaruh lingkungan, serta tentunya kadar hormon berpengaruh dalam teori “secular trend” ini.

Semoga saja kelak anak-anak yang saat ini pendek bisa mencapai tinggi yang sama dengan kawan-kawan sebayanya. Tetapi pastikan tidak ada penyakit yang memengaruhi tinggi badan anak, dan pantau teratur tingginya. Konsultasikan ke dokter anak jika ada keraguan.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print