Previous
Next
sep-web-8

Anak Laki-Laki Dilarang Menangis

“Hei, anak cowok kok nangis!” akrab dengan kalimat itu? Iya, anak lelaki dekat dengan stigma kuat, superior dan pantang mengungkapkan perasaan. Stereotip gender ini tak hanya berlaku pada warna pakaian, jenis mainan hingga berbagai kegiatan. Namun juga pada perasaan.

Bayangkan, betapa sempitnya dunia eksplorasi anak, ketika semuanya dibatasi oleh gender? Anak laki-laki dilarang pakai baju pink, anak laki-laki enggak boleh main masak-masakan (helloo..lalu Gordon Ramsey kurang jantan?), anak laki-laki enggak boleh bermain pura-pura menjadi dora sambil berkeliling rumah membawa pedang light saber, bahkan anak laki-laki harus bisa menahan erat setiap perasaan yang muncul. Duh.

Sayangnya, memang, stereotip gender telanjur mengakar dalam masyarakat kita. Padahal tidak perlu terlalu khawatir “Anak memang senang bereksperimen menjadi apapun, termasuk dalam urusan gender,” kata David Hill, M.D., dokter spesialis anak, anggota American Academy of Pediatrics, dan penulis buku Dad to Dad: Parenting Like a Pro.

Psikolog Anna Surti Ariani, seperti ditulis di majalah femina, juga pernah mengatakan, cara pengasuhan menjadi salah satu faktor penting yang berpengaruh akan menjadi seperti apa seorang anak ketika dewasa kelak. Berikut ini beberapa hal yang bisa terjadi ketika seseorang terjebak dalam stereotip gender. Dan ternyata, dibanding wanita, pria ternyata lebih banyak menanggung beban stereotip ini.

Berpengaruh terhadap perilaku suami-istri

Salah satu contoh yang diamati Anna untuk tesisnya adalah pentingnya peran ayah dalam keberhasilan menyusui ASI eksklusif. Mungkin terdengar mudah, padahal, tidak juga. Mengapa? “Karena ternyata si ayah punya berbagai macam konflik yang disebabkan oleh stereotip gender,” kata Anna. Salah satu yang sangat berpengaruh adalah stereotip sebagai breadwinner.

Sebagai breadwinner, maka fokus laki-laki lebih pada urusan cari uang dan mereka relatif dibebaskan dari urusan rumah, termasuk mengurus anak dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Padahal, kalau ingin sukses menyusui, artinya si ayah harus terlibat dalam urusan anak dan rumah tangga.

Menyebabkan minder

Ketika pria tengah menghadapi tuntutan stereotip maskulinitas, dia akan bereaksi dengan banyak cara. Cara pertama adalah merasakan adanya jarak antara dia dengan stereotip ideal yang ingin dia capai. Misalnya, dia ingin jadi breadwinner, tapi ternyata dia tidak mampu. Efeknya, dia bisa minder atau lama-kelamaan depresi, yang bisa diungkapkan dalam berbagai bentuk, seperti mengurung diri, diam, dan tidak mau bicara pada istrinya.

Gampang melecehkan orang lain

Bila terlalu kuat memegang hal-hal ideal yang dituntut sesuai gendernya, orang jadi cenderung melecehkan orang-orang yang tidak mampu memenuhi tuntutan ideal itu. Misalnya, ketika pria dianggap anti menangis. Ketika seorang pria melihat pria lain sedang menangis, tanpa sadar dia akan melecehkan pria yang menangis itu. “Padahal, menangis karena ada alasan, misalnya orangtua meninggal, hal yang wajar,” kata Anna.

Insecure attachment

Iya, jika orang tua telah menahan perasaan yang muncul sejak dini, anak akan membentuk insecure attachment. Apa itu? Dalam buku peaceful parent, happy kids tulisan dr Laura Markham dikatakan; insecure attachment terjadi ketika orang tua gagal menyediakan kebutuhan anak, misalnya saat menangis, alih-alih anak digendong untuk ditenangkan, ia justru dibentak tentu akan membangunn kelekatan yang tidak aman degan orang tuanya.

Anak tidak percaya bahw orang tua bisa menjadi sosok yang dapat ia andalkan. Ketika anak dewasa, anak pun juga kemungkinan besar tidak dapat memercayai orang-orang disekitarnya.

Salah satu contoh insecure attachment adalah avoidant. Anak terlihat cuek dengan lingkungan. Misalnya saat orangtuanya pergi, ia tidak menangis atau protes. Pun saat orangtuanya datang kembali, ia masih cuek dan tidak menampakkan ekspresi kegembiraan atau kesedihan atau ekspresi lainnya.

Padahal, ketika diukur fisiologisnya, anak ini mengalami kenaikan detak jantung dan level kortisol saat orangtuanya sedang pergi meninggalkan ruangan. Jadi walaupun terlihat cuek, namun sebenarnya mereka kecewa dengan kepergian orang tuanya dan menyembunyikan hal tersebut agar tak terlihat orang lain.

Selain avoidant, anak pun akan mengalami

  1. Perilaku internalizing: anak menampilkan perilaku cemas, menarik diri, pemalu, tertutup dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru
  2. Perilaku externalizing: anak menampilkan perilaku agresif, menentang dan melawan arahan dari figure otoritas atau orang dewasa.

Bayi dengan attachment yang insecure pun memiliki level hormon yang rendah sehingga menjadi lebih apatis, memiliki level stress yang tinggi dan menjadi lebih pencemas (The discipline book, how to have a better-behaved child from birth to age ten, Dr. Sears)

Saat dewasa pun, mereka sebenarnya kesepian dan memiliki kebutuhan emosional, namun menekannya dan tidak menunjukkannya. Sehingga walaupun mereka mungkin saja sukses secara akdemis, namun mereka kurang memiliki kemampuan sosial yang dapat membatasi kebahagiaan dan bahkan kesuksesan karir mereka.

Biarkan ia mengeluarkan perasaannya

Anda akan melihat hasil yang positif seketika setelah anak tantrum, dan dihadapi dengan cinta. Karena anak akan merasa jauh lebih nyaman, usai mengosongkan “tas besar” isi perasaannya. Inilah unconditional love.

Maka, yuk, mulai sekarang, jika si lanang ingin bermain dengan boneka, atau si cantik lebih suka bermain dengan truk, biarkanlah. “Jangan membebani aktivitas belajar mereka dengan ekspektasi kelamin,” kata Dr Hill. Mengurus boneka, sebetulnya bisa jadi media untuk mengajarkan rasa empati. Sementara menubrukan mainan mobil, dapat menjadi cara untuk tes sebab dan akibat. Keduanya merupakan bentuk permainan yang baik untuk setiap gender.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print