Previous
Next
Anak-Laki-laki-spesial

Anak laki-laki spesial

“Do you like football?”
Pria India warga negara Singapura itu bertanya pada bocah laki-laki di hadapannya. Anak itu memandangku.
“Kamu suka sepakbola?” Aku membantu menerjemahkannya.
“Iya.” Jawabnya malu-malu.
“What club do you like?” Tanya pria itu dengan logat Hindi yang kental.
“eM-yU,” jawab si bocah singkat, setelah kuterjemahkan lagi maksud pertanyaannya.
“Who’s your favorite player?” Pria berambut tipis ini melanjutkan pertanyaannya.
Bocah ini menatapku lama. Seolah-olah ia minta jawaban dariku. Siapa pemain bola favoritmu di Manchester United?
“Semuanya…” Ia menjawab sebisanya.
“All of them.” Aku menerjemahkan kembali ke pria India ini. Seorang dokter ahli perawatan paliatif di negerinya.
Pria ini tertawa terbahak-bahak mendengarkan jawaban anak kecil yang duduk di tempat tidurnya. Sebuah bed perawatan di ruang isolasi.
Umurnya 10 tahun. Beratnya hanya 15 kilogram. Kulitnya penuh dengan bekas cacar air yang mengering. Ia baru saja terdiagnosis HIV. Tidak hanya itu, pemeriksaan CT Scan kepalanya menunjukkan adanya gambaran abses (kumpulan nanah) dan sebaran bercak mencurigai infeksi jamur. Ia merasakan sakit kepala berminggu-minggu. Bola mata kanannya juga tidak bisa melirik ke kanan. Tidak enak rasanya. Sepanjang pembicaraanku dengannya, ia berkali-kali menggaruk kulitnya. Gatal sekali rupanya.

“Kamu mau apa sekarang?” tanyaku singkat.
Ia terdiam lagi beberapa saat. Tiba-tiba raut mukanya berubah. Kedua alisnya turun dan bibirnya terangkat. Butiran air mata mulai mengalir jatuh membasahi pipinya.
“Mau….pulang….” Ia terisak.
Tangan kanannya mengusap pipinya. Tangisannya makin keras. Kami yang mengelilinginya diam menatapnya.
“Kenapa?” suara seorang wanita memecah suasana. Ia seorang psikiater.
“Udah lama.” Bocah ini menangisi lama perawatannya yang sudah mencapai 1 bulan. Siswa kelas 4 SD yang belum merasakan bangku sekolahnya di tahun ajaran baru. Sang psikiater mengusap punggungnya sambil menghiburnya. Layaknya seorang psikiater berpengalaman yang melakukan psikoterapi.

“Kata nenek, aku spesial.” Bocah ini tersenyum. Ia mulai tenang.
“Iya, kamu memang spesial. Kamu spesial dengan keadaanmu saat ini.” Psikiater di sebelahku ini ikut menimpali, sambil tersenyum juga.

“Dokter udah cerita apa tentang sakit kamu?” tanyaku membuka topik baru.
“Kata dokter…” ia menghela napasnya “aku harus minum obat seumur hidup.” Sepertinya ia akan menangis kembali.

Seorang bocah polos yang mungkin tak pernah menyangka ia akan mendapatkan ujian berat untuk sisa hidupnya. Tertular virus HIV dari orangtuanya.

**

Sejak 1987 hingga September 2016, Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kumulatif infeksi HIV di Indonesia sebanyak 219.036 kasus. Sedangkan jumlah kumulatif infeksi HIV tahun 2010-2016 adalah sebanyak 184.779 kasus.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.263 (7,18 persen) di antaranya adalah anak-anak berusia 0-19 tahun (Ditjen P2P, Kementerian Kesehatan RI, 2016). Jumlah ini akan terus bertambah jika upaya pencegahan penularan tidak dilakukan.

Anak kerap terlupakan

Sayangnya, program penanggulangan HIV selama ini lebih banyak dipusatkan pada populasi kunci seperti pengguna napza suntik, pekerja seks, dan kelompok berisiko tinggi lainnya.

Anak yang terlahir dengan HIV sering luput dalam program pemerintah, padahal anak adalah muara dari perjalanan penularan HIV dalam kelompok risiko tinggi tersebut.

Kementerian Kesehatan berkomitmen kuat untuk menanggulangi HIV dan AIDS. Salah satu upayanya adalah melalui penyediaan obat Anti Retroviral (ARV) bagi orang dengan HIV, termasuk anak. “Sampai dengan bulan November 2016 tercatat 74.879 orang dengan HIV dalam pengobatan ARV di Indonesia dan sekitar 4% di antaranya adalah anak-anak,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr.Wiendra Waworuntu, MKes.

Hal ini juga didukung oleh David Bridger, Country Director UNAIDS Indonesia yang mengatakan “Jika anak mendapatkan akses pada pengobatan yang tepat, maka anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik, seperti anak-anak lainnya.”

Tidak hanya perkara kesehatan

Persoalan HIV, baik pada orang dewasa maupun anak, sering dilihat sebagai isu kesehatan semata. Padahal ada banyak aspek dalam kehidupan yang akhirnya terdampak. Tantangan yang dihadapi selain masalah kesehatan adalah akses terhadap pendidikan.

Diskriminasi kerap terjadi di lingkungan sekolah sehingga anak harus keluar dan mencari sekolah baru. Untuk menanggulangi hal ini perlu dipikirkan bersama suatu platform dan kerangka yang memungkinkan keterlibatan lintas sektor yang berkesinambungan, seperti disampaikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid.

 

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print