Previous
Next
dermatitis-atopi-1200x783

Anak saya enggak bisa makan ini itu, karena dermatitis atopi!

Menjadi ayah dan bunda identik sekali dengan rasa khawatir. Wajar, dong. Namanya juga sama anak, kan takut anaknya kenapa-kenapa. Tetapi kalau sampai bikin susah sendiri, dan akhirnya stress lalu mulai sulit membedakan mana yang penting dan mana yang tidak, wah, repot juga ya jadi orang tua?

Salah satu hal yang paling sering dikhawatirkan adalah mengenai alergi. Contoh termudahnya ya itu, orang tua melakukan berbagai pembatasan pada jenis makanan yang dikonsumsi anak, ketika meyakini bahwa anaknya mengalami gatal-gatal karena alergi pada jenis makanan tertentu. Seperti kata Dr Arifianto, dokter anak yang rutin mengunjungi Taman Main, dalam pengalaman sehari-hari, tidak sedikit urusan kulit yang didiagnosis dokter sebagai alergi.

Alergi itu luasss..

Meski sebetulnya, alergi itu sangat luas, lho. “Ada satu alergi yang secara spesifik saya tangkap dari semua komentar: alergi makanan. Lebih spesifik lagi: alergi susu. Hmmm, ternyata kurang spesifik: alergi protein susu sapi!” Padahal, Dr Apin menambahkan, alergi makanan itu juga sangat luas.

Bagaimana biasanya mendiagnosisnya? Dengan “skin test” (Prick) alias uji kulit? Atau pemeriksaan darah (kadar IgE RAST)? Ternyata jawabannya adalah: kedua tes tersebut bukanlah uji yang paling akurat untuk menentukan diagnosis alergi makanan.

Ditambah, reaksi alergi makanan tidak “melulu” di kulit, tetapi bisa di saluran cerna (diare, muntah, BAB bercampur darah) dan saluran napas (ini salah satu yang paling ditakutkan: sesak napas!).

Sayangnya, kejadian dermatitis atopi atau biasa disebut eksim/eksema kerap dikaitkan dengan alergi makanan semata. Walaupun, kata Dr Apin, penyebab dermatitis atopi seringkali tidak diketahui, dan ini dapat menyulitkan.

Tes alergi terbaik?

Lalu apa tes alergi terbaik? Menurut Dr Apin, dengan melakukan uji “eliminasi-provokasi”. Apa maksudnya? Ketika seorang anak “dieliminasi” makanan yang dicurigai mencetuskan alergi (misalnya saja makanan yang mengandung protein susu sapi) maka gejala-gejala yang nampak hilang. Dan ketika “diprovokasi” dengan bahan makanan serupa, maka gejala-gejalanya muncul kembali.

Mudahnya bisa dengan melakukan tes tiga hari, ketika memberikan jenis makanan yang belum pernah dicoba ke anak. misalnya; menu pekan ini mencoba telur ayam, berikan telur selama tiga hari dan observasi reaksinya pada anak.

Sebab, Dr Apin menjelaskan, anak-anak yang sudah didiagnosis alergi berdasarkan pemeriksaan laboratorium ataupun tes kulit, ketika dilakukan “eliminasi-provokasi”, ternyata hasilnya berbeda. Anak tidak menunjukkan adanya alergi makanan.

Waspada overdiagnosis alergi

Fakta tes “eliminasi-provokasi” tadi memunculkan beberapa penelitian yang menyimpulkan: kemungkinan sudah terjadi overdiagnosis alergi pada anak. Hal ini yang membuat orang tua jadi lebih ‘ribet’ dalam memberikan makanan pada anak. Padahal kan sayang, ya, kalau tidak pernah dicoba tapi sudah menyerah duluan.

Kenali anak, hindari pencetus

Prinsip terpenting penanganan alergi adalah: hindari pencetusnya. Bagaimana pencetus dapat dihindari, jika dikenali pun tidak? Dalam banyak kasus, alergi makanan adalah tersangka utamanya. Sehingga orangtua memantang banyak jenis makanan bagi anaknya. Meskipun pada akhirnya disimpulkan alergi makanan ternyata bukan pencetus dermatitis atopi.

Dermatitis atopi sendiri dapat terjadi di banyak lokasi, mulai dari wajah, lengan, tungkai, sampai perut dan punggung. Usia termuda adalah beberapa minggu sejak lahir. Jarang dipikirkan muncul sejak baru lahir. Dermatitis atopi juga cenderung gatal, sehingga pada anak yang lebih besar akan terlihat menggaruk.

Prinsip penanganan nomor 1 adalah sebisa mungkin mencari pencetusnya. Lalu pelembab dapat diberikan pada kulit yang kering, lokasi mudah terjadi dermatitis. Pada kondisi meradang dan membuat gatal, krim steroid dapat diberikan, misalnya hidrokotison. Anak yang senantiasa menggaruk dan berpotensi menjadi luka boleh diberikan antihistamin minum. Penanganan lain bisa dibaca di situs-situs kesehatan terpercaya.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print