Previous
Next
26-sept-12.00-Anak-susah-makan-kurang-nutrisi-Kata-siapa-1200x1200

Anak susah makan; kurang nutrisi! Kata siapa?

Masih banyak sekali orang tua yang amat terfokus pada kuantitas makan anak. Betapa khawatirnya ketika anak sedang mogok makan, dan akan memberikan makanan apapun dengan alasan “Yang penting anaknya makan..”

Biasanya takut anak kembung masuk angin, kalau anak makannya sedikit. Dan ujung-ujungnya merasa anak akan kekurangan nutrisi kalau susah makan. Sebenarnya bagaimana sih?

Menurut dr Arifianto SpA, sebelum berpikir mengenai berapa banyak (jumlah) makanan yang harus diberikan, sepakati dulu bahwa dalam setiap pemberian makan, usahakan semua kelompok makanan (karbohidrat, sayur, buah, dan protein) dipenuhi dalam satu kali makan.

Jenis yang diberikan pun harus selalu berubah atau bervariasi dari waktu ke waktu. Tidak masalah jika salah satu jenis kelompok makanan tidak dapat dipenuhi selama beberapa hari saja.

Orangtua=contoh

Jangan menyuruh anak makan sayuran, sementara orang tua nya saja tidak suka sayuran. Orang tua harus menjadi model/contoh yang baik bagi anak-anaknya, dong.

Perhitungkan porsi

Pada dasarnya, seorang anak makan ketika lapar dan berhenti makan saat kenyang. Mulailah dari memberikan makan dengan porsi yang diperkirakan lebih sedikit dari seharusnya anak makan. Lebih baik membiarkan anak minta makanannya ditambah, daripada anak tidak menghabiskan makanannya karena terlalu banyak yang diberikan.

Berapa banyak sih? Mulailah dengan sepertiga atau seperempat porsi makan dewasa, atau satu takar sendok makan untuk setiap kelompok makan sesuai jumlah tahun usianya. Misalnya; anak usia tiga tahun makan tiga sendok makan beras, daging, sayur dan buah tiap kali makan.

Ingat, kapasitas lambung anak tidak sebanyak orang dewasa, maka pemberian makanan yang sedikit, tetapi sering dapat mencukupi kebutuhan nutrisi hariannya.

Gunakan kurva pertumbuhan

Kalau masih khawatir juga anak kurang nutrisi, berpeganganlah dengan kurva pertumbuhannya. Karena porsi makan yang terlihat sedikit, bukan tolak ukur. Anak yang mencukupi kebutuhan nutrisinya akan memunyai pola pertumbuhan normal di kurva pertumbuhan. Jadi, jangan buru-buru panik dan memberikan vitamin atau suplemen penambah nafsu makan anak.

Camilan dan susu, boleh?

Seringkali juga karena orang tua khawatir dengan pertumbuhan maka kemudian sibuk memberikan makanan camilan juga susu. Karena dianggap “Seenggaknya makan deh, apa aja!” atau “Yang penting minum susu, biar aja enggak makan juga.”

Soal camilan, boleh saja. Di luar tiga kali pemberian makanan utamanya, berikan 2-3 kali camilan sehat untuk mencapai kebutuhan nutrisi harian yang optimal. Nah, tapi poin pentingnya ya itu; camilan sehat.

Artinya, yang dianjurkan adalah sayur dan buah. Diberikan kira-kira dua jam sebelum waktu makan makanan utama, yaitu saat ketika anak sudah mulai lapar. Jangan berikan camilan ketika anak masih merasa kenyang.

Maka, bukan “makan apa aja deh yang penting makan, ya..”

Nah bagaimana dengan susu? Pada anak yang berusia lebih dari satu tahun, susu murni boleh diberikan. Anak dengan status gizi yang overweight atau obesitas atau memunyai riwayat kolesterol tinggi/penyakit jantung di keluarganya, sebaiknya diberikan susu yang dikurangi lemaknya (2%) atau rendah lemak (1%). Anak yang berusia diatas dua tahun disarankan minum susu rendah lemak atau non-lemak.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print