Previous
Next
Asma-Kenali-Untuk-Kendali-1200x675

Asma: Kenali untuk Kendali

Setiap tanggal 1 Mei, kita memeringati hari asma sedunia. Kenapa sih harus diperingati? Memangnya asma penyakit berat?

Menurut data yang dikeluarkan WHO pada bulan Mei tahun 2014, angka kematian akibat penyakit asma di Indonesia mencapai 24.773 orang atau sekitar 1,77 persen dari total jumlah kematian penduduk. Setelah dilakukan penyesuaian umur dari berbagai penduduk, data ini sekaligus menempatkan Indonesia di urutan ke- 5 di Asia, dan ke-13 di dunia perihal kematian akibat asma.

Penyakit berat?

Menurut WHO, Asma adalah salah satu penyakit tidak menular yang paling utama. Ini adalah penyakit kronis pada saluran pernapasan dari paru-paru yang meradang dan membuatnya menyempit.

Kini, sekitar 235 juta orang saat ini menderita asma. Bahkan ini biasa dikatakan penyakit umum di antara anak-anak. Sayangnya, data Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan, sekitar satu dari 22 orang menderita asma. Namun, hanya 54 persen yang didiagnosis. Dari jumlah itu, hanya 30 persen kasus yang terkontrol baik.

Mendiagnosis asma

Menurut dr Arifianto SpA, mendiagnosis asma pada anak memang tidak mudah. Mungkin sama sulitnya dengan memastikan seorang anak sakit TB atau tidak. Namun, ada beberapa kecurigaan yang mengarah pada asma.

Anak, mungkin saja asma jika mengalami beberapa gejala berikut:

  • Batuk yang cukup sering, baik saat bermain, tertawa, menangis atau terjadi pada malam hari
  • Batuk kronik, yaitu berlangsung lebih dari 3 minggu (bisa jadi hanya satu-satunya gejala)
  • Mudah Lelah saat bermain
  • Frekuensi napas kadang lebih cepat dibandingkan biasanya
  • Rasa tidak nyaman di dada (sesak atau nyeri)
  • Retraksi dada, yaitu tarikan di sela-sela iga
  • Bernafas terasa pendek-pendek

Faktor pencetus utama

Nah, biasanya asma muncul karena terpapar oleh faktor-faktor pencetusnya. Apa saja sih itu? biasanya:

  • Iritan: asap rokok, asap bakaran sampah, asap obat nyamuk, suhu dingin, udara kering, makanan atau minuman dingin, penyedap rasa, pengawet makanan dan pewarna makanan
  • Allergen: debu, tungau debu rumah, rontokan hewan, dan serbuk sari
  • Infeksi saluran nafas akut karena virus
  • Aktivitas fisik: berlarian, berteriak, menangis atau tertawa berlebihan

Kalau pada pasien dan keluarganya ada riwayat alergi, juga biasanya dokter akan mengarah ke asma, jika terjadi mengi, sesak nafas dan batuk kronik berulang.

Pemeriksaan penunjang

Tentu saja, untuk memberikan diagnosis yang tepat, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang jika diperlukan. Biasanya berupa:

  • Uji fungsi paru dengan alat spirometry (bisa menilai variabilitas dan reversibilitas), atau dengan alat peak flow meter.
  • Tes alergi, pada kasus tertentu yang dicurigai pencetusnya dari alergi.
  • Uji provokasi bronkus dengan exercise, metakolin atau larutan garam hipertonik

Setelah diagnosis asma dipastikan, selanjutnya dokter menentukan kategori asma untuk disesuaikan dengan pengobatannya.

Tidak mudah, namun harus dilakukan

Pemeriksaan menuju sebuah diagnosis penyakit mungkin melelahkan dan prosesnya cukup lama. Namun, jika tidak, penanganannya tentu menjadi tidak tepat. Sayang, kan? Sebab asma bisa menyerang siapa pun dan tidak bisa disembuhkan. Namun penanganan yang tepat dapat mengontrol serangan dan penderita bisa menikmati hidup berkualitas.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print