Previous
Next
Autisme-dapatkah-diobati-1200x780

Autisme; dapatkah diobati?

Hari ini, 2 April, dikenal sebagai autism awareness day. Masih harus dilakukan, karena jumlah penyandang spektrum autisme setiap tahun meningkat. Bahkan menurut data Control of Disease Center, Amerika, diketahui bahwa setiap 1 dari 68 kelahiran, merupakan penyandang spektrum autisme. Bahkan, dari data CDC di Asia, Eropa dan Amerika, terbukti ada 1 persen dari seluruh populasi penduduk merupakan penyandang autisme.

Sayangnya, jumlah penyandang yang semakin meningkat, tidak seiring dengan pemahaman yang baik mengenai sindrom autisme. Vaksinasi, kesalahan orang tua, kutukan, bahkan dianggap sebagai penyakit menular, masih menjadi rumor yang menyakitkan bagi para penyandang dan keluarganya. Sehingga, ujian berat menjadi semakin berat. Hal ini amat menyedihkan.

Apakah ada obatnya?
Ini juga masih merupakan salah satu pertanyaan yang paling banyak diucapkan orang mengenai autisme. Menjawab hal ini, Dokter Spesialis Anak, dr. Arifianto SpA mengatakan bahwa autisme dapat diobati, meskipun tidak dapat disembuhkan. Lho?

Jadi, menurut Dokter Apin, prinsip pengobatannya adalah menangani masalah perkembangan yang ditemukan saat itu juga. Misalnya jika terjadi keterlambatan bicara, maka tangani masalah ini. Jadi, bukan layaknya obat panas ya, ayah dan bunda. Yang setelah diminumkan lalu panasnya turun dan anak bisa tidur.

Terapi perilaku adalah yang utama
Nah, dokter Apin juga menambahkan, obat-obatan hanya dibutuhkan untuk anak-anak yang menunjukkan gejala agresi (menyerang atau menyakiti orang lain), obsesi (menginginkan sesuatu dengan cara berlebih) dan hiperaktivitas (hingga mengganggu orang lain atau menyebabkan kesulitan belajar).

Penanganan yang tepat sesuai kebutuhan anak dan melibatkan orangtua atau anggota keluarga yang lain, serta disesuaikan dengan lingkungan tempat tinggal, akan mengurangi gejala autisme. Karena itu, terapi utama adalah terapi perilaku. Dan hanya akan efektif jika didukung oleh seluruh anggota keluarga dan lingkungan sekitar. Apalagi diagnosis autisme yang kompleks bisa membuat terapi berubah-ubah sesuai dengan masalah yang ditemukan saat itu. inilah sebabnya terapi perilaku amat penting.

Awareness penting, tapi tidak overdiagnosis
Mengenal autisme, harus dilakukan secara menyeluruh. Soalnya, kalau setengah-setengah, bisa terjadi overdiagnosis (sebenarnya pasien tidak mengalami autisme tapi didiagnosis autisme). Misalnya, kita harus mampu membedakan antara keterlambatan bicara dengan kecurigaan autisme.
Hal ini dapat diketahui dengan mengenal milestone tumbuh kembang anak, lalu perkembangan anak itu sendiri. sebab gejala autisme memang sangat kompleks, sehingga rata-rata baru dapat didiagnosis dini saat anak berusia 18 bulan. Sebagai salah satu kelainan perkembangan, tambah Dokter Apin, gejala-gejalanya dapat berubah seiring usia, dan kadang membaik setelah dilakukan intervensi terapi perilaku.

Bahaya overdiagnosis autisme tidak hanya pada salah penanganan, namun juga bisa membuat orang tua enggan melakukan vaksin. Sebab, diagnosis yang baru bisa dilakukan di usia 18 bulan, berbarengan dengan waktunya vaksin MMR mengakibatkan orang menganggap bahwa vaksin merupakan penyebab autisme.

Di sisi lain, pengetahuan dokter mengenai autisme pun makin meningkat. Makin banyak dokter yang mengetahui cara mendiagnosis autisme sehingga tidak jarang terjadi overdiagnosis autisme.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print