Previous
Next
Berbeda-Pola-Asuh-hati-hati-kena-Mompetition

Berbeda Pola Asuh : “hati-hati kena Mompetition”

Ada sebuah hal baru yang menarik bagi saya ketika sedang bersama dengan para ibu muda. Para ibu muda ini ya… termasuk saya sendiri sebagai calon ibu hehe. Menurut saya sangatlah wajar ketika seorang ibu seringkali bersemangat bahkan terlalu semangat saat menceritakan tentang anak-anaknya. Ada anak yang sudah bisa melakukan ini, dan anak yang sudah bisa melakukan itu. Tidak sedikit juga ibu-ibu muda yang memberikan saran A, B, C dan seterusnya yang dianggap sangat baik untuk perkembangan anak. Sebenarnya, sah-sah saja sih berbagi mengenai pengalaman atau kemampuan yang dimiliki anak.  Namun, yang menarik perhatian saya saat mendengarkan cerita para ibu muda adalah, ketika mereka membandingkan pola asuh dan kemampuan anak mereka dengan anak anak ibu lainnya, entah secara disengaja atau tidak masing-masing ibu memberikan komentar. Hal ini dimulai dari membahas makanan atau snack yang dikonsumsi si A, B dan C, kemudian jenis mainan yang digunakan anak sampai dengan mainan yang harus dipesan khusus dalam antrian. Membandingkan perkembangan anaknya, mulai dari siapa yang bisa berjalan duluan, siapa yang lebih dulu bicara sampai hal yang sensitif dan menurut saya tidak penting seperti: fashion kekinian, merk pakaian, toko pakaian, harga dan lain-lain.

Saat ibu bercerita ada banyak pujian akan kehebatan anak, namun juga keluhan terhadap anaknya seolah-olah si ibu tidak ingat bahwa ia baru saja membicarakan keunggulan anaknya. Ketika ibu lain bercerita maka salah satu ibu merasa kecil hati dan menganggap selalu ada yang kurang dari diri si anak jika sudah berkumpul dengan ibu-ibu muda lainnya dan melihat anak lain yang sebaya dengan anaknya. Tidak menutup kemungkinan hal-hal seperti ini akan membuat beberapa ibu terobsesi dengan jenis pola asuh, dan kemampuan yang dimiliki anak lain. Ibu mulai membandingkan kondisi keluarganya dengan kondisi keluarga ibu-ibu lainnya, pola pengasuhan pun ikut menjadi pikiran. Bagaimana tidak, hal-hal seperti diatas juga lebih mudah terlihat dengan adanya perkembangan teknologi gadget terutama social media (Instagram, Path, dll). Dimana kita bisa melihat gaya hidup orang lain, dan tidak menutup kemungkinan secara tidak langsung akan membandingkan dengan diri kita. Tidak sedikit, ibu-ibu muda yang mulai berpikiran untuk memiliki pola asuh kekinian dan anak yang sempurna: tidak rewel, cepat tanggap, penurut, aktif, dll. Tapi ingat, bahwa hal ini merupakan hal yang sangat langka untuk dimiliki anak usia dini (0-5tahun).

Dari contoh diatas saya menyimpulkan bahwa saat ini ada banyak orangtua khususnya ibu muda yang secara tidak langsung berkompetisi dalam merawat anaknya (pola asuh). Hal ini tentu secara tidak sadar bisa terjadi pada siapa saja, seringkali orangtua menjadi fokus pada apa yang mereka inginkan bukan pada apa yang anak butuhkan. Padahal perkembangan setiap anak adalah unik dan berbeda-beda, karena kemampuan anak pun tidak sama satu sama lain. Orangtua tidak bisa mempercepat atau memperlambat hanya untuk membuatnya lebih pintar atau lebih maju dibandingkan dengan anak lainnya. Kita perlu mengingat bahwa perkembangan anak merupakan tahapan dari mulai lahir-merangkak-berjalan-berlari dan semuanya membutuhkan proses sehingga orangtua tidak boleh memaksakan anaknya untuk terburu-buru dalam melalui tahapan perkembangannya.

Kita harus tahu bahwa setiap anak lahir dengan kelebihan dan kekurangan. Tugas kita sebagai orangtua adalah memfasilitasi dan memberikan perhatian kepada anak sesuai dengan kebutuhannya dan kemampuan kita sebagai orangtua. Saya percaya setiap ibu adalah orang yang paling mengenal kebutuhan anaknya, dan yang ibu berikan kepada anak sudah pasti merupakan hal yang terbaik dan paling sesuai. Jadi tidak perlu risau, karena perlu dipahami bahwa tidak ada kompetisi dalam menjadi ibu. Perbedaan dalam pola pengasuhan terhadap anak sah-sah saja, karena setiap anak memiliki karakteristik dan perkembangan yang berbeda-beda satu sama lain. Kita tidak perlu membandingkan bahkan menyamakan pola asuh yang kita berikan dengan orang lain. Kuncinya, orangtua harus percaya diri, lakukan yang terbaik, kenali kebutuhan anak dan sesuaikan dengan kemampuan finansial keluarga masing-masing dan cerdas dalam menyikapi setiap perbedaan.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print