Previous
Next
Berhenti-sembunyikan-diagnosis-TB-pada-anak-1200x800

Berhenti sembunyikan diagnosis TB pada anak!

Tahukah ayah dan bunda, bahwa WHO Global Tuberculosis Report 2016 menyatakan Indonesia menempati rangking kedua dengan jumlah kasus tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia. TB menjadi penyebab kematian nomor empat setelah penyakit kardiovaskuler.

Selain itu, laporan hasil pelaksanaan Joint External Monitoring Mission for Tuberculosis Control (JEMM TB) menyebut ada beberapa beban soal penanganan TB di Indonesia. Selain fakta bahwa dalam setahun, ada lebih dari 1 juta kasus TB, Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah kasus TB yang tidak terlaporkan atau missing cases tertinggi nomor 2 di dunia, dengan 690.000 kasus.

Padahal, tingginya angka kasus TB, baik yang dilaporkan maupun yang tidak terlaporkan, berimbas pada tingginya juga angka kematian. Pada kasus yang terlaporkan, terdapat sekitar 7.500 kematian dalam setahun. Sementara pada kasus yang tidak terlaporkan, angka kematiannya lebih besar, sekitar 100.00 kematian dalam setahun.

Flek paru vs TB

Sementara, dari lapangan praktek dokter anak, ada begitu banyak kisah bergulir mengenai diagnosa TB yang kerap disebut flek paru. Hal ini disampaikan oleh dr Arifianto SpA. Menurutnya, seringkali seorang anak disebut menderita flek paru, oleh dokter, kemudian diobati. Apakah flek paru dan TB sama? Mudah saja jawabannya. Jika anak tersebut diberi obat yang harus diminum terus menerus setiap hari selama 6 bulan, maka sebetulnya dokter telah mendiagnosis TB pada si anak.

Kenapa tidak disebut TB saja, dan bukan flek paru? Kadang dokter tidak mau menjelaskan diagnosis sesungguhnya karena takut menimbulkan kekhawatiran pada orangtua mengenai stigma TB.

Penegakan Diagnosis

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami.

  • Diagnosis seharusnya dinyatakan dalam bahasa medis kepada siapa pun. Termasuk pasien atau konsumen kesehatan yang tidak mempunyai latar belakang kedokteran/kesehatan. Flek paru bukanlah diagnosis, melainkan ungkapan yang sudah lazim digunakan (entah sejak kapan) untuk menunjukkan adanya gambaran foto rontgen dada yang “ramai” akan flek atau bercak putih. Normalkah kondisi foto seperti ini?

    Istilah “flek paru” mengesankan kondisi yang tidak normal dan tidak seharusnya ada di hasil rontgen. Padahal paru-paru manusia dipenuhi pembuluh darah dan kelenjar getah bening yang menghasilkan gambaran putih ketika disorot sinar-X. Selain itu, kondisi foto paru yang penuh “flek” bisa terjadi pada banyak hal, mulai dari paru-paru normal, orang yang sedang selesma (common cold), pneumonia, tuberkulosis (TB) paru, sampai kanker paru.

    Untuk itu, dokter harus menyampaikan dengan tegas, TB atau bukan. Tidak perlu menyembunyikan diagnosis TB ke dalam ungkapan flek paru.

  • Bagaimana diagnosis TB pada anak ditegakkan? Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menular melalui saluran napas, yaitu ketika penderita TB batuk dan menyebarkan kuman penyebab TB lewat percikan dahaknya.

    Anak dapat terinfeksi TB ketika orang dewasa menularkan kuman TB kepadanya. Ingat: hanya orang dewasa yang dapat menularkan TB kepada anak. Anak-anak tidak dapat menularkan TB kepada anak-anak lainnya, karena mereka belum mampu membuang dahak lewat batuk seperti orang dewasa mengeluarkan dahaknya. Kalaupun dahak dapat dikeluarkan secara “tepat”, jumlah bakteri yang terkandung di dalam dahak anak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kandungan kuman TB dalam dahak orang dewasa. Alasan ini menentukan kemampuan menginfeksinya menjadi sangat berkurang.

  • Saat anak dicurigai TB, wajib dicari tahu siapa orang dewasa yang menjadi sumber infeksinya. Sulit memercayai diagnosis TB, apabila anak yang dicurigai sakit TB itu tidak pernah mempunyai kontak dengan orang dewasa yang dicurigai TB pula.

Batuk lebih dari dua minggu, sudah pasti TB?

Pada orang dewasa, jika ditemukan batuk selama lebih dari dua minggu, disertai atau tidak gejala lain, lalu dahak si penderita diperiksa dan positif mengandung kuman TB (disebut juga basil tahan asam atau BTA), maka terdiagnosislah TB.

Namun pada anak, batuk bukanlah gejala utama TB. Berat badan yang turun dalam waktu singkat dapat terjadi pada kondisi sakit ringan seperti selesma. Keluar keringat pada malam hari merupakan hal wajar yang dialami balita karena tingginya kadar growth hormone yang memacu produksi keringat.

Karena itu para ahli di seluruh dunia telah mengupayakan berbagai metode untuk memudahkan diagnosis TB pada anak. Salah satunya, sistem skoring yang ditampilkan dalam tabel. Jumlah minimal 6 dari poin-poin yang ada menyimpulkan seorang anak terdiagnosis TB dan harus mendapatkan pengobatan selama 6 bulan. Melihat kriteria diagnosis yang ada, adanya kontak TB (dewasa) yang BTA-nya positif dan pemeriksaan Mantoux yang positif menempati nilai tertinggi. Hasil rontgen sugestif TB sekalipun, ternyata nilainya hanya 1.

Hentikan overdiagnosis atau underdiagnosis

Penting sekali memahami bahwa mendiagnosis TB pada anak tidak sama halnya dengan dewasa. Jangan mudah memberi vonis TB pada anak berdasarkan batuk lama dan berat yang irit naiknya. Jangan pula gunakan kata “flek paru” untuk menyatakan TB.

Overdiagnosis TB, yaitu mendiagnosis dan mengobati TB pada anak yang sebenarnya tidak sakit TB, berpotensi menempatkan anak pada risiko efek samping obat TB dan resistensi antibiotik.

Sebaliknya, underdiagnosis TB atau tidak mendiagnosis TB pada anak yang sebenarnya sakit TB, memungkinkan timbulnya TB berat, seperti meningitis (radang selaput otak) yang angka kematiannya tinggi.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print