Previous
Next
Bicara-makanan-bayi-RIBET-Masa-sih-1200x796

Bicara makanan bayi=RIBET. Masa sih?

Dari pengalaman di Taman Main, kami menemukan banyak sekali curhat ayah dan bunda soal makanan dan nutrisi bayi. Mulai dari kegalauan cara memberi makan, sampai nutrisi seimbang seperti apa yang harus diberikan ke anak, agar tetap sehat.

Ujung-ujungnya, seringkali orang tua merasa bahwa memberi makanan sehat alami dan bergizi seimbang itu, identik dengan tumpukan tugas yang njelimet. Padahal enggak kok. Kami kan juga masak sendiri, dan bahkan menyiapkan masakan bayi sejak hari pertamanya makan di usia 6 bulan, hingga saat ia sudah canggih di usia 5 tahun.

Healthy Roots, salah satu divisi dari Taman Main Petualang yang menyediakan makanan bagi bayi dan balita banyak belajar dari ahli gizi, Wied Harry Apriadji. Nah, kata Pak Wied, rumusan ngasih makan bayi justru jauh lebih gampang daripada masak rendang. Bener deh. Sebab yang harus diingat hanya:

Enggak perlu gula dan garam

(1) gula yang sehat dan alami bisa diperoleh dari buah-buahan segar (karbohidrat kompleks seperti nasi sebenarnya juga merupakan sumber gula, tetapi baru terasa manis setelah tercerna/dikunyah lama).

(2) garam -yakni natrium- bisa didapat dari makanan terutama makanan hewani dan susu serta hasil olahan susu seperti yogurt, keju. Bagi bayi, makanan alami yang beragam sudah cukup memberikan asupan gula dan natrium, tidak perlu tambahan dari gula pasir dan garam.

Justru ajak bayi mengenali rasa asli makanan

Indera perasa bayi sebetulnya masih sangat sensitif. Bayi bisa mendeteksi rasa dasar dengan sangat baik. Makanya, kata pak Wied, coba selalu berempati setiap kali menyiapkan makanan bayi, jangan mengukur rasa manis dan asinnya menurut kadar manis-asin indera perasa kita sebagai orang tua (yang daya cecapnya sudah banyak terkontaminasi bumbu).

Dengan membiasakan bayi menikmati rasa dasar makanan, ia akan memiliki perbendaharaan citarasa lebih kaya, sehingga kelak lebih mudah menyesuaikan diri terhadap beragam jenis makanan (baru).

Jaga sampai dua tahun

Meski sebetulnya di usia 1 tahun bayi sudah boleh mengenal makanan dengan gula dan garam, bukan berarti cake ulang tahun warna warni berlumur coklat dan gula itu bisa dinikmati banyak-banyak dong. Malahan, kalau kata Pak Wied, sebaiknya memberi makanan minim gula garam tetap diterapkan bersamaan dengan masa lepas ASI, yakni 2 tahun.

Artinya, kalau makanannya sudah manis atau gurih, ya gak usah repot-repot pakai gula garam. Misalnya jika sudah dapat manis buah segar/kering (kurma/kismis/sultana/prune) atau asin gurih keju. Nah, kalau makanannya memang perlu dibubuhi gula pasir dan garam, pakai ukuran citarasa anak yaaa.. bukan citarasa kita. *SruputKuahBakso*

 

Dibawa sampai dewasa

Kalau sejak kecil sudah terbiasa dengan rasa asli masakan, tentu saja bermanfaat. Yang paling terasa tuh, ketika ia lebih besar tidak akan menjadi keranjingan (craving) terhadap makanan yang manis berlebihan (seperti permen, donat lapis gula bubuk) maupun makanan asin-gurih berlebihan (seperti snack kemasan, fast food). Asyik kan, enggak perlu banyak-banyak ngomel..hehehe

Selain itu, jelas dong organ cerna anak kita kelak akan lebih terjaga, terutama pankreas dan ginjalnya, sehingga memperkecil risiko diabetes dan hipertensi.

Terasa seperti ribet, tapi enggak kok. Masak saja makanan rumah yang sama dengan makanan bayi, tapi sebelum dikasih gula garam, dipisahkan dulu untuk si kecil.

Jadi bukan berarti mentang-mentang makanan bayi, maka harus fancy dengan bahan-bahan ala luar negeri dan bahan premium yang harganya selangit. Justru hasil kebun petani lokal jauh lebih segar..

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print