Previous
Next
okt-6

Bu ibuk, doyan belanja? Hati-hati ah..

Membeli barang secara impulsif, pada waktu-waktu tertentu, sebetulnya normal kok. Lagipula, kebanyakan orang memang senang belanja. Namun hal ini bisa menjadi masalah, ketika seseorang menjadi terobsesi untuk terus menerus membeli barang.

Hal ini dengan mudah terdeteksi, saat Anda merasa harus pergi ke mal, dan membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan. Situasi akan bertambah buruk jika kerap terpapar iklan di internet atau televisi. Atau buka media sosial, dan enggak tahan sama godaan “titip beli” dan “diskon, sis..” benar? Who’s with me?

Bahaya!

World Psychiatry bahkan menyatakan seseorang yang memiliki hasrat amat tinggi untuk belanja, sebagai penyakit kecanduan belanja (Compulsive buying disorder) atau oniomania. Menurut penelitian yang dilakukan world psychiatry, sebanyak 5,8 persen penduduk Amerika menderita penyakit ini, dan 80 persennya adalah perempuan.

Kita mengenalnya sebagai shopaholics. Mereka adalah orang-oang yang mengalami berbagai kecemasan yang hanya dapat hilang saat berbelanja. Biasanya, penderita juga memiliki banyak masalah terkait mental termasuk didalamnya masalah mood (seperti bipolar), kecemasan dan kecanduan. Namun menurut WebMD, ada kasus-kasus yang membuktikan bahwa penyakit ini disebabkan oleh genetik.

Selain kerugian materi, kecanduan belanja ternyata juga dapat mengganggu kesehatan seseorang. Contoh mudahnya, seorang wanita yang kecanduan belanja seringkali tidak memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan yang bisa timbul di masa depan. Akibatnya, ketika anaknya sakit, dia tidak bisa membayar dan harus meminjam uang.

Evaluasi!

Nah, menurut laman Psychguides.com, sebelum hal itu terjadi coba evaluasi diri apakah kegemaran Anda untuk membeli barang sudah tergolong kecanduan.

  1. Ada barang yang masih dibungkus di lemari
  2. Berbelanja melebihi pagu anggaran
  3. Membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan
  4. Menyembunyikan kelebihan barang-barang itu dari teman dan keluarga
  5. Mengembalikan barang yang sudah dibeli karena merasa bersalah
  6. Keasyikan belanja hingga tak peduli lagi pada hubungan dengan orang lain
  7. Lebih sering menggesek kartu kredit ketimbang membawa uang tunai
  8. Belanja untuk menyingkirkan rasa marah, depresi atau kesepian
  9. Kerap berdebat dengan orang lain mengenai kebiasaan belanjanya
  10. Menunda pembayaran dan malah membuka akun kartu kredit baru agar bisa belanja lagi

 

Hayooo ngakuuu!

Cara mengatasi!

Menurut WebMD, tak ada penanganan tertentu untuk mengatasinya. Biasanya, obat-obat antidepresan kerap diberikan bagi mereka yang berbelanja karena depresi. Terapi juga bisa dilakukan. Namun yang paling umum adalah dengan mengenali kecenderungan barang yang dibeli. Sebab dengan itu, akan memudahkan orang untuk lebih bisa memilah. Mana barang yang sebenarnya diperlukan dan apa yang kurang perlu?

selain itu, wajib mengetahui kebutuhan emosi yang harus dipenuhi. Sebagai contoh, apakah dia belanja karena merasa kesepian, perlu pengakuan diri, ingin diperhatikan orang lain atau sekadar mencari kesenangan? Setelah tahu penyebabnya, yang harus dilakukan adalah menemukan solusi atas pemenuhan kebutuhan emosi yang kurang. Jika seseorang berbelanja karena merasa kesepian maka ia akan disarankan untuk membangun hubungan dekat dan lebih banyak bersosialisasi.

Penuhi kebutuhan emosional dengan cara yang lebih tepat. Bina hubungan yang lebih berkualitas jika sudah memiliki pasangan. Hindari tempat-tempat belanja, kurangi frekuensi main dengan teman. Jika segala cara sudah dilakukan namun tetap gagal, maka Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print