Previous
Next
Cerita-tentang-si-katuk-dan-ASI-2

Cerita tentang si katuk dan ASI

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan penting untuk dikonsumsi bayi di awal kehidupannya. Setiap kita telah mengetahui hal itu, bukan? Makanya, setiap ibu pasti kepingin bisa memberikan ASI kepada bayi, hingga usianya dua tahun.

Tapi, ASI tidak hanya berkaitan dengan nutrisi. Berlimpah atau tidaknya ASI pun erat kaitannya dengan kondisi psikologis ibu. Kalau sejak awal sudah sering ditanya “ASI nya cukup enggak tuh?” atau bahkan dikomentari “Kok bayinya nempel terus, jangan-jangan ASI-nya seret!” duh, pasti rasanya enggak enak banget ya?

Muncullah kemudian wejangan yang seperti “perintah” agar ibu menyusui wajib makan sayur katuk setiap hari, agar ASI jadi banyak. Iya, sejak dulu, katuk memang merupakan sayuran yang dikenal memiliki khasiat memerbanyak ASI.

Kenalan sama katuk

Daun katuk mengandung zat papaverina, suatu senyawa yang juga terdapat dalam opium. Konsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek samping seperti keracunan zat papaverin. Bahkan di Taiwan dan Amerika mereka yang mengonsumsi daun katuk mentah dilaporkan mengalami sumbatan saluran udara di paru-paru hingga kematian. Namun proses pemanasan daun katuk dapat mengurangi bahkan meniadakan sifat racun daun katuk.

Lalu seberapa besar pengaruhnya pada ASI?

Dari website AIMI ASI, mengungkapkan; beberapa penelitian mengenai keberhasilan ibu menyusui yang mengonsumsi daun katuk, memiliki hasil beragam. Salah satunya penelitian yang dilakukan di Jambi dan dipublikasikan pada tahun 1997. Hasil penelitian ini menyebutkan pemberian katuk pada ibu tidak cukup berpengaruh terhadap frekuensi dan lamanya menyusui.

Di Jogjakarta pada 2004 meneliti efektivitas ekstrak daun katuk dalam meningkatkan produksi ASI. Tim peneliti menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk pada kelompok ibu melahirkan dan menyusui bayinya dapat meningkatkan produksi ASI sebanyak 50,7% lebih banyak dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi ekstrak daun katuk.

Pada tahun 2008 sebuah penelitian di Bandung membuktikan bahwa pemberian ekstrak daun katuk tidak lebih baik dibandingkan plasebo dalam keberhasilan ibu menyusui. Penelitian ini juga melaporkan bahwa Inisiasi Menyusu Dini segera setelah bayi lahir dapat meningkatkan keberhasilan ibu menyusui.

Loh kok hasilnya beda-beda ya?

ASI Booster

Jadi, dalam ilmu laktasi, ada sebutan galaktagog atau laktagog atau laktagoga, yaitu hal-hal yang dipercaya dapat memperlancar ASI. Ada aneka ragam laktagog yang diyakini oleh berbagai masyarakat di dunia.

Sekarang kita sudah mulai kenalan juga kok dengan beragam suplemen fenugreek, camomile tea, sup ayam, oats, kacang-kacangan, dari mancanegara. Kalau di Indonesia, selain daun katuk biasanya pare, kacang hijau, susu kedelai, hingga susu almond disebut sebagai pelancar ASI. Laktagog pun kini lebih dikenal dengan nama ASI booster.

ASI adalah tentang hormon

Nah, sebetulnya, ada dua hormon yang berpengaruh terhadap kelancaran ASI, hormon prolaktin sebagai hormon yang mendorong produksi ASI dan hormon oksitosin yang mengatur pengeluaran ASI.

Hormon prolaktin bekerja selama ada pengeluaran ASI dari payudara, baik dengan diisap bayi maupun dengan memerah ASI. Sedangkan hormon oksitosin berkaitan erat dengan perasaan rileks dan keyakinan.

Kita semua tau kan, sugesti positif? Kekuatan pikiran yang berpengaruh besar pada fisik. Hal inilah yang terjadi pada ASI Booster. Ketika ibu merasa rileks dan percaya diri setelah mengonsumsi salah satu booster ASI tersebut, maka terjadilah apa yang diyakininya itu, yaitu produksi ASI-nya meningkat.

Setiap ibu memiliki karakter, latar belakang dan selera yang berbeda, yang kemungkinan dapat mempengaruhi persepsinya terhadap suatu laktagog. Ini dia, lho, yang akhirnya mmpengaruhi efektivitas booster ASI tersebut, sehingga hasil yang didapat pun akan berbeda.

Tidak masalah sebetulnya. Namun, bahayanya, beberapa ibu bisa jadi tidak percaya diri saat lupa mengonsumsi booster ASI. Akibatnya ibu panik, lalu hormon oksitosin tidak bekerja maksimal. ASI-pun seret.

Yang penting frekuensi-nya

Mengonsumsi booster ASI, sebetulnya enggak apa-apa. Tapi, yang harus kita pahami sama-sama adalah; sebaiknya ibu tidak bergantung pada booster ASI. Karena sebaik dan sebanyak apapun booster ASI yang ibu konsumsi, tidak akan banyak berpengaruh jika ibu tidak menjaga frekuensi menyusui atau memerah ASI.

Kalo emang ibu mengalami masalah ASI kurang atau produksi ASI menurun, lebih baik cepat-cepat menemui konselor menyusui agar dapat dicari sumber permasalahannya dan mendiskusikan solusi yang tepat.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print