Previous
Next
Dampak-Sibling-Rivalry

Dampak Sibling Rivalry Pada Anak

Perkembangan anak usia dini merupakan tahapan perkembangan anak yang pesat, oleh karena itu sering disebut dengan golden age, yang merupakan usia paling berharga dibandingkan dengan usia-usia setelahnya. Anak usia dini belajar menggunakan keterampilan panca indera, motorik, komunikasi, perkembangan emosi berdasarkan bagaimana lingkungan memperlakukan dia, dan kognitifnya melalui keingintahuan yang besar. Anak pada usia dini (0-5 tahun) yang memiliki saudara kandung baik kaka ataupun adik akan memulai belajar meniru berbagai peran yang ada guna memasuki dunia lingkungan luar keluarga, dalam hubungan ini anak akan saling terbuka dan secara jujur akan timbul ketidakcocokan dan anak akan sangat kesulitan dalam mengungkapkan perasaan, bekerja sama, serta bersaing dengan teman sebayanya.

Perkembangan anak dari aspek fisik, sosial, emosi, kognitif saling mempengaruhi satu sama lainnya, dan dalam fase perkembangan anak sangat membutuhkan kondisi yang aman dan memenuhi dalam kebutuhan fisik anak. Bayangkan ketika anak merasa “takut” jika kasih sayang orang tua nya terenggut oleh saudaranya (kakak-adik), maka aspek sosio emosional dari fase perkembangannya akan menjadi terhambat. Perlu diperhatikan, orang tua bahkan bisa menjadi pemicu timbulnya sibling rivalry, mengapa? Karena orang tua bertugas dalam memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya secara seimbang satu dengan yang lainnya. Jika kasih sayang yang diberikan tidak seimbang maka dapat memicu sibling rivalry.

Pada anak-anak pengalaman yang terjadi pada dirinya akan direkam dengan sangat baik, kemampuan mengingat anak-anak dapat dimanfaatkan untuk belajar dan juga mengingat pengalaman yang dialaminya. Oleh karena itu pengalaman akan mempengaruhi proses perkembangan anak selanjutnya, sehingga jika anak mengalami perasaan “cemas atau takut” yang mengarah pada sibling rivalry, maka hal ini akan berdampak besar bagi perkembangan anak selanjutnya.

Jika anak merasa “cemas atau takut” dan mengarah pada sebuah persaingan antara adik dan kakak maka ada beberapa dampak, diantaranya :

  • Perilaku regresi, atau perilaku anak kembali pada perilakunya dimasa lalu (Chaplin, 2000). Perilaku ini biasanya muncul dengan tujuan anak mendapatkan perhatian dari orang tuanya, misalnya : gangguan terhadap BAB, dan BAK.
  • Self Efficacy anak menjadi rendah. Self efficacy adalah keyakinan atau kepercayaan anak mengenai kemampuan dirinya untuk mengorganisasi atau melakukan suatu tugas. Anak yang biasanya sudah mandiri maka akan meminta perhatian dengan meminta bantuan.
  • Perilaku Agresi, secara sederhana ditampilkan dengan anak yang tidak mau berbagi atau sharing kepada kakak atau adiknya, bahkan sampai perilaku menyakiti (mencubit, atau memukul).

Ternyata dari beberapa dampak  sibling rivalry tersebut, dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam bersosialisasi di lingkungan. Anak yang mengalami siblings rivalry biasanya tumbuh sebagai anak yang cuek, tidak peduli orang lain, ingin menang sendiri, dan kurang bisa berbagi dengan teman-teman lain di sekolahnya. Jika hal ini tidak diatasi dengan baik akan berlanjut dan anak kesulitan dalam membangun pertemanan yang baik, bahkan anak tidak memiliki sahabat (teman dekat).  Wah.. kita sudah mengetahui ternyata sibling rivalry harus benar-benar diatasi dengan baik, dan orang tua merupakan kunci utama penyebab dan juga pihak yang dapat membantu mengatasi permasalahan sibling rivalry pada anak. Semakin dini sibling rivalry terdeteksi, maka dapat diatasi atau dilakukan pencegahan sedini mungkin.  

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print