Previous
Next
Dokter-terbaik-untuk-anak-anak-1200x800

Dokter terbaik untuk anak-anak?

Istilah “Belanja dokter” yang dipergunakan untuk mencari dokter yang cocok, RUM, pas di hati, pas di kantong, bergelar profesor, yang enggak bikin panik, yang bisa dicurhatin, dan sebagainya itu akan membuat ayah dan bunda menghabiskan begitu banyak waktu, uang dan tenaga.

Padahal sebenarnya apa sih kira-kira yang membuat seorang dokter dapat memberikan diagnosis penyakit anak dan mengetahui obatnya dengan tepat?

Pentingnya anamnesis

Jadi, proses yang biasa dilakukan setiap dokter saat memeriksa, meliputi anamnesis (wawancara/tanya jawab dengan pasien), pemeriksaan fisik, dan menyimpulkan apa masalah kesehatan yang menimpa anak. pemeriksaan lab, radiologi dan tambahan lainnya itu disebut pemeriksaan penunjang. Jadi akan dilakukan jika perlu saja.

Artinya, anamnesis memegang peranan terbesar dibandingkan pemeriksaan fisik, kan? Maka, hanya dengan mengetahui kisah perjalanan penyakit anak, seorang dokter dapat menyimpulkan diaignosis. Makanya, jika gagal menangkap kondisi anak secara utuh- sejak awal sakit sampai berkunjung ke dokter, akan berisiko membuat kesalahan diagnosis.

Bukan peran dokter sendirian

Naah, dalam menegakkan diagnosis, seorang dokter harus mampu mengajukan pertanyaan yang mampu menggali sedalam mungkin kata-kata kunci. Karena itu, orang tua pun harus mampu menceritakan dengan tepat keadaan anaknya. Soalnya dokter kan tidak melihat langsung kondisi anak sebelum dibawa ke ruang praktik.

Orang tua atau pengasuhnyalah yang selalu melihat keadaan si anak. maka, sudah seharuanya orang tua menjadi dokter terbaik bagi anak-anaknya.

Orang tua sebagai dokter terbaik

Ketika pasangan suami istri berencana memiliki anak, sejak saat itulah mereka memunya tanggung jawab memersiapkan semua bekal jika anak-anaknya lahir kelak. Saat hamil, ibu harus menjaga kehamilannya dengan rutin memeriksakan kandungan, menjaga asupan nutrisi, serta memersiapkan persalinan sebaik mungkin.

Begitu juga saat si kecil lahir, orang tua harus memiliki persiapan matang untuk semua perawatan bayinya hingga besar nanti termasuk siap meghadapi kemungkinan penyakit yang dapat menimpa anaknya.

Tanggung jawab untuk memelajari dasar-dasar kesehatan anak pun menjadi tanggung jawab orang tua, bukan? Sebab orang tua-lah dokter pertama dan terbaik bagi anaknya.

Kolaborasi antar dokter dan orang tua

Nah ini yang paling ideal. Karena ketika praktek, dokter harus senantiasa memerbaharui ilmunya. Di sisi lain, orang tua bisa jadi memeroleh ilmu terkinni lebih dulu dibanding dokter karena mengakses informasi dari berbagai sumber. Makanya, kondisi paling ideal adalah saat orangtua mengunjungi dokter untuk menanyakan penyakit anaknya, ia telah lebih dulu membekali diri dengan informasi kesehatan.

Ini yang akan membuat posisi orang tua dan anak bukan hanya sebagai objek, tetapi sebagai subjek. Interaksi antara dokter dan konsumen kesehatan berada dalam posisi sejajar. Lalu dari mana orang tua belajar?

Konsep yang kini diakui di dunia kedokteran untuk menyatakan sebuah sumber informasi terpercaya atau tidak adalah: Evodence Based Medicine (EBM) atau kedokteran berbasis bukti. Artinya semua hal yang sudah diakui di dunia kedokteran selama berpuluh-puluh tahun dan digunakan oleh hampir semua orang di dunia, tetap harus dibuktikan lagi lewat penelitian yang relevan.

Kalau sudah semuanya, apa yang diharapkan dari dokter?

Minimal ada tiga hal yang dijawab oleh dokter pada tiap kunjungan konsultasi: apa diagnosis penyakitnya, apa terapinya dan kapan orangtua harus khawatir sehingga harus membawa anak ke dokter/rumah sakit lagi? Tiga hal ini adalah hak yang harus didapat oleh setiap konsumen kesehatan.

Inilah kolaborasi dokter-dokter terbaik untuk anak. kerjasama yang baik antara dokter dan orang tua. bukankah it takes a village to raise a kids?

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print