Previous
Next
gadget-vs-petak-umpet-1200x727

Gadgets vs Petak Umpet

Siapa yang dulu waktu kecil suka main petak umpet? Pasti rata-rata semuanya yaaaa…

Petak umpet itu seru banget ya, sebenarnya. tapi sekarang ini anak-anak mulai jarang memainkan permainan yang sebetulnya banyak banget nilai belajarnya ini. Belajar berhitung, saat yang lain ngumpet. Belajar strategi, agar enggak ketauan ngumpet dimana tapi harus cepat kembali lagi ke ‘gawang’.

Murah, lagi. Gak harus beli apa-apa

Hehehe..loh iya dong, mainnya bisa dimana aja, selama ada tembok atau bidang datar, dan tempat untuk ngumpet tentunya. Coba bandingkan dengan nonton di gadget, atau main game?

Beli gawai-nya saja sudah berapa, belum lagi ditambah kuota. Kalau dirumah ada sambungan wi-fi, tetap saja setiap bulan ada biaya berlangganan yang harus dibayarkan. Game gratis? Bisa sih…tapi dampaknya?

  1. Mata anak yang terlalu sering terpapar gadget, lebih mudah rusak. Harga kacamata, tarif dokter, obat dan sebagainya bisa menguras kocek.
  2. Tubuh anak yang lebih sering menghabiskan waktu untuk duduk dan main gadget, cenderung beresiko obesitas atau mengalami banyak penyakit karena kurang bergerak, kurang terpapar matahari dan sebagainya. Biaya ke dokter dan penanganan dampak dari penyakit tersebut, bisa menghabiskan tabungan untuk biaya sekolah, lho..
  3. Satu lagi, koneksi anak dengan orang tua, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Bisa hancur lebur karena gadgets. Anak sibuk sendiri dengan dunia digitalnya, tanpa sadar membentuk kedekatan dengan benda, dan bukan dengan manusia.

Dampak gadget pada hubungan keluarga

Dengan bermain petak umpet, apalagi anak dan anggota keluarganya, pasti seru, ya dong? Bayangin deh, ketika ibu dapat giliran jaga, lalu anak berlarian cekikikan mencari tempat ngumpet.

Ketika ibu mencari, dan menemukan kaki anaknya terjulur dari balik tumpukan baju, misalnya. Terbayang gak, serunya? “Waaaah…kok di balik tumpukan baju ibu ada jempol kecil ya. Jempol siapa ya ini? Kayanya jempol kucing yaaa..coba ah dikelitikin..” lalu anak akan tertawa dan merasa gembira Bersama-sama dengan ibunya.

Saling menyentuh, saling berinteraksi, saling memeluk, saling mencari dan saling menemukan.

Lalu bagaimana dengan gadget? Ketika anak asyik sendiri dengan video game nya, atau dengan ponsel nya menonton film lewat aplikasi. Ibunya pulang dari kantor, anak diam saja. Ibu menanyakan kabar anak, anak hanya melongok sedikit dan bilang “baik”. Nanti ketika waktunya makan malam, ibu harus berteriak untuk memanggil anak.

Lalu anak dengan muka bersungut-sungut datang menghampiri ibu, dan duduk di kursi makan dengan ekspresi wajah tidak sabar.

Rugi banyak lho ini.

  1. Orang tua jadi lebih sering ngomel, dan artinya menghabiskan energi yang lebih baik digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan, olahraga, atau mencuci mobil.
  2. Anak akan tumbuh dalam kedekatan dengan benda melebihi mahluk hidup. Kedepannya ia akan menjadi seseorang yang sulit membangun interaksi dengan orang lain, lalu akan terus menerus mengalami kesulitan dalam Pendidikan hingga pekerjaan. Yang jadi masalah adalah; ketika ia tumbuh menjadi orang yang amat dependen, termasuk pada hal finansial.
  3. Orang tua akan mengalami banyak kesulitan dengan masa remaja anak. dan ini jelas menghabiskan banyak uang, waktu dan tenaga.

 

Bukannya pelit. Tapi kita kan enggak tau ya, dikasih umur sama Tuhan sampe kapan? Kalau sampe tua, gapapa. Kalo enggak? Masa iya kita mau ninggalin anak yang senyum sama tetangga aja enggak bisa?

Lagian main petak umpet itu gampang dan murah, bu, pak. Emang sih pengasuhan yang mementingkan koneksi, harus banyak sabar dan harus banyak waktu yang diluangkan buat anak. tapi kalo buat anak, masa iya sih buang-buang waktu?

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print