Previous
Next
U-1111-1200x1200

GENERASI Z dan CITA CITA NYA

Generasi Z adalah generasi yang lahir di rentang tahun 1995 sampai dengan 2010.  Sering disebut sebagai igeneration/ generasi net/ generasi internet. Karena sejak kecil telah terbiasa bermain dengan gadget, maka mimpi dan cita-cita anak generasi Z pun akan berbeda dengan cita-cita orang tua nya.

Fenomena selebgram, vlogger, blogger dan sejenisnya menjadi sangat heboh. Anak-anak muda jaman sekarang banyak yang meraup sukses dengan menjadi seorang selebgram atau vlogger. Contoh nya Ria Ricis, seorang selebram dengan jumlah follower mencapai 9,6 juta. Diberitakan bahwa seorang Ria Ricis memiliki penghasilan besar, bisa membeli mobil keren, bahkan sudah mampu membeli rumah mewah dengan uang nya sendiri di usia muda belia. Informasi indah seperti ini tentunya akan membuat banyak orang terpana.

Anak-anak kita sebagai generasi Z, menjadikan orang-orang seperti Ria Ricis ini sebagai idola nya. Anak-anak dengan pola pikir yang belum sempurna, akan berpikir bahwa betapa menyenangkannya menjadi seorang vlogger atau selebgram. Pekerjaannya mudah, hanya ha ha hi hi di social media, kemudian mendapatkan uang banyak. Padahal saya pernah mendengarkan penjelasan Ria Ricis, yang mengatakan bahwa pekerjaannya tidak lah semudah dan seringan yang dilihat orang dari luar. Pekerjaan nya menyita banyak waktu, terkadang sampai larut malam, pekerjaan editing video tidak secepat kilat. Butuh keahlian dan ketekunan. Jadi penghasilan yang sekarang diterima oleh Ria Ricis, tidak dating mendadak, semua membutuhkan proses.

Dengan kondisi jaman sekarang yang menjadikan kehidupan social media sebagai raja, tentunya akan mempengaruhi cita-cita anak generasi Z. Banyak anak-anak teman saya, yang sekarang berusia 8-15 tahun mengatakan bahwa cita-cita nya adalah menjadi seorang vlogger. Selain menjadi vlogger, banyak juga yang bercita-cita menjadi pemusik/ pemain drama/ penari. Nah lho? Jauh sekali dari cita-cita jaman anak dahulu yang ingin menjadi pilot, polisi, dokter, insinyur 😊  Hal ini tidak bisa dihindari, karena jaman terus berubah dan berkembang. Kita sebagai orangtua tidak bisa melawan lingkungan dan perubahan yang terjadi. Justru harus belajar berdaptasi dengan kondisi ini. Contoh kasus perusahaan yang terlambat atau tidak mengikuti perkembangan teknologi dan jaman adalah N**A. N**A dahulu adalah brand handphone yang sangat fenomenal dan merajai pasar cukup lama, namun N**A terlena dengan kenyamanan ini. Sementara jaman berubah dengan cepatnya, merk handphone lainnya melakukan terobosan teknologi dengan smartphone. Sehingga akhirnya N**A kalah bersaing dan kehilangan pasar yang cukup besar. Belajar dari hal ini, maka kita sebagai orang tua harus belajar terus dan tidak boleh menyerah dengan kondisi. Yang kita dampingi adalah anak kita sendiri.

Jadi apa yang harus kita siapkan dengan cita-cita anak generasi Z yang mungkin sudah berubah haluan?

  1. Diskusikan dan tanya apa keinginan anak dari jauh-jauh hari. Sehingga kita sebagai orang tua sudah bisa mulai mencari kuliah jurusan apa dan berapa biaya nya. Persiapan biaya pendidikan sedini mungkin akan lebih ringan.
  2. Dukung mereka untuk menjadi ahli di bidang yang mereka inginkan, misal saat ini anak semangat menjadi seorang vlogger. Ajak anak untuk mengikuti kursus sehingga dapat menyalurkan keinginan nya, siapa tahu bisa berhasil dan menghasilkan
  3. Jangan menghalangi dan berpikir kolot. Anak generasi Z, semakin dilarang justru semakin ingin. Jadi diarahkan saja. Kalau pun mereka sudah coba, rasa penasaran tercukupi , mereka akan berpikir dengan sendirinya.
  4. Sebagai orang tua dan pendidik bagi anak-anak kita, ingat selalu semboyan dari Ki Hajar Dewantara : “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”

Arti dari ing ngarso sung tulodo adalah di depan, saat kita menjadi pendidik/ seorang guru bagi anak maka kita harus memberikan contoh teladan yang baik.

Arti dari ing madyo mbangun karso adalah di tengah, saat kita berada di tengah-tengah harus menjadi orang yang dapat membangkitkan semangat

Arti dari tut wuri handayani adalah di belakang, menjadi pendidik yang selalu dapat memberikan dukungan moral dan semangat dari belakang.

So, parenting is easy. Mari menjadi orang tua yang peka terhadap perubahan, dan selalu menjadi pembimbing bagi anak kita yang berada di depan (panutan), tengah (teman), belakang (pendorong).

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print