Previous
Next
17Sept-insta-story-1200x1200

GENERASI Z dan MAINANNYA

Generasi Z adalah generasi yang lahir di rentang tahun 1995 sampai dengan 2010.  Sering disebut sebagai igeneration/ generasi net/ generasi internet. Yang sejak kecil telah terpapar dengan dunia digital, gadget, sehingga pada saat memasuki usia remaja menjadi sangat lengket dengan dunia maya.

Anak-anak kita sebagian besar terlahir sebagai generasi Z. Sementara kita, sebagai orangtua nya adalah termasuk generasi X atau Y. Terdapat perbedaan yang cukup besar antara kehidupan kita dengan kehidupan anak-anak. Salah satunya adalah cara kita bermain.

Dulu sewaktu kecil, masih lekat di ingatan betapa banyak teman main saya. Bermain kasti/ kucing-kucing an/ main lompat karet/ main boy-boy an/ main petak umpet/ main sepeda. Pokoknya definisi bermain adalah bermain seru di luar rumah dengan teman-teman. Sampai susah disuruh pulang ke rumah untuk istirahat. Bisa lupa waktu saat bermain di luar, dari pagi sampai maghrib. Kalau pun main di dalam rumah, tetap yang dimainkan adalah permainan kreatif. Seperti main boneka/ main kartu/ main monopoli. Karena jaman dulu tidak ada gadget sama sekali, telfon rumah pun baru dimiliki saat saya menginjak masa akhir SD. Saluran TV jaman dahulu tidak semenarik dan sebanyak sekarang, maka menonton TV tidak mungkin dilakukan berjam-jam. Tetap kegiatan paling seru adalah bermain di luar Bersama teman.

Anak generasi Z? Coba amati anak-anak kita sekarang. Hobi utama mereka adalah bermain dengan gadget. Sekuat apa pun usaha kita sebagai orangtua untuk mengurangi pemakaian gadget. Namun tetap akan terpapar juga dengan gadget. Karena kita sebagai orangtua menggunakan gadget secara aktif, sehingga anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tua nya. Kita sebagai generasi X yang memiliki masa kecil dengan dipenuhi memori bermain di luar, rasanya gemas melihat anak generasi Z yang hobi bermain di dalam rumah. Namun hal ini tidak dapat dihindari, justru kita harus berpikir kreatif untuk dapat berdamai dan mengambil manfaat positif dari hal ini.

Dari sisi finansial, jenis mainan anak jaman dulu jelas lebih murah. Main boy-boy an hanya butuh tumpukan genting bekas dan bola tenis, main petak umpet tidak diperlukan alat apa pun (hanya tinggal cari tempat sembunyi yang ideal saja), main kucing-kucingan hanya perlu berlari yang kencang, main boneka bisa dibuat sendiri dari kain perca bekas. Secara biaya, orang tua kita jaman dulu budget untuk membeli mainan untuk anak jauh lebih kecil.  Karena permainan anak jaman dulu rata-rata bisa dibikin sendiri. Sehingga sisa uang orang tua untuk ditabung demi persiapan uang sekolah anak jauh lebih besar.

Sebagai orang tua jaman sekarang, adalah pilihan untuk menunda anak bermain dengan gadget. Karena seringkali saya melihat anak usia 1-2 tahun, diberikan HP/ Tab untuk menonton youtube channel agar makan nya lebih gampang. Orang tua jaman sekarang pun ingin hal yang praktis, cepat, tidak mau repot. Solusi paling mudah, ya memberikan HP pada anak. Dari sisi finansial, apabila kita memiliki 2 anak, rata-rata orang tua akan memberikan 2 buah gadget. Harga 1 buah HP/Tab bisa mencapai angka 1,5jt – 3jt (tergantung merk). Dan gadget ini apabila dipegang oleh anak kecil, biasanya umur nya tidak bertahan lama. Sehingga akan ada biaya perbaikan atau bahkan biaya membeli gadget baru dalam kurun waktu minimal 2 tahun. Selain biaya untuk perangkat keras nya, ada biaya untuk membeli kuota internet.  Mungkin selama ini, kita menganggap kecil biaya tersebut. Ah, hanya beli HP murah kok. Ah, hanya 50rb saja per bulan, sisa nya mencari wifi gratis. Dan hanyak Ah Ah lain yang disepelekan. Tapi kalau kita bandingkan dengan jaman dahulu, sebenarnya biaya mainan ini lumayan besar lho perbedaannya.

Jadi bagaimana kita dapat berdamai dengan kondisi ini dan mengubahnya menjadi hal positif ?

  1. Tunda pembelian gadget khusus untuk anak, sebaiknya anak memiliki gadget sendiri di usia SMP. Dimana mereka sudah mengerti tanggung jawab dan dapat diajak bicara mengenai hak dan kewajiban.
  2. Dengan besarnya keinginan anak untuk memiliki gadget sendiri, jadikan ini sebagai alat untuk menabung. Sehingga mereka bisa membeli gadget dengan uang sendiri, maka anak pun akan lebih menjaga dengan hati-hati.
  3. Cari dan pilih game di gadget yang interaktif, dan bisa dimainkan oleh beberapa orang. Sehingga anak tidak terbiasa main sendiri
  4. Youtube channel memiliki ribuan pilihan, rajin-rajin lah mencari saluran yang berguna dan memiliki sisi edukasi. Sehingga membuat anak kita terinspirasi untuk menjadi lebih cerdas dan kreatif.
  5. Bahkan saat ini banyak yang menggunakan social media untuk mencari uang, pilih cara yang baik. Misal dengan melihat youtube channel DIY (do it yourself) , banyak kreativitas membuat alat-alat sekolah sendiri. Apabila anak kita menyukainya, lakukan DIY sebagai kegiatan bonding antara anak dengan orang tua. Hasilnya bisa dijual ke teman-teman sekolah.
  6. Saat ini banyak saluran yang dapat digunakan untuk belajar bayak hal. Belajar bahasa, belajar memasak, belajar menari, belajar mengaji. Jadi dengan mempelajari sendiri bermodalkan kuota internet 50rb/bulan, bisa mengirit biaya les anak.

So parenting is easy, don’t let the gap ruin your mood. Let’s embrace and change it into positive way.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print