Previous
Next
Bayi-Gumoh

Gumoh; Jangan panik, atasi saja dengan tepat

“Ih bayinya sering gumoh, ususnya pendek tuh!”

Pernah dengar ucapan seperti itu? sesungguhnya gumoh itu apa sih? Apa bedanya dengan muntah? Lalu kalau bayinya gumoh, harus diapakan? Bahaya kah?

Tenang, dokter Apin siap menjawab.

Kondisi baru saja selesai menyusu, tiba-tiba bayi terlihat memuntahkan kembali ASI-nya. Nah ini dia yang disebut gumoh. Hal ini biasa terjadi, namun bukan berarti dibiarkan begitu saja.

Penyebab gumoh

Jadi, gumoh (regurgitasi) terjadi akibat susu atau makanan yang baru saja diminum atau dimakan kembali dikeluarkan dari lambung. Hal ini terjadi akibat belum sempurnanya kerja katup yang membuka-tutup jalan antara esophagus dan lambung.

Kondisi ini wajar ditemukan pada bayi dan akan berkurang hingga menghilang saat berusia enam bulan-satu tahun. Bukan karena ususnya pendek yaaa..

Gumoh dan muntah?

Nah, gumoh sendiri beda dengan muntah. Saat gumoh, umumnya bayi tampak tidak menyadarinya dan jumlah susu/makanan yang dikeluarkannya tidak banyak. Sementara muntah, adalah kejadian yang tidak nyaman pada bayi (nyeri) dan tampak usaha untuk mengeluarkan muntahannya sehingga sesudahnya bayi terlihat tidak nyaman.

Biasanya gumoh terjadi spontan, bersamaan dengan produksi air liur berlebih, atau saat sendawa.

Harus disendawakan?

Sering kali, bayi disendawakan setiap selesai menetek/minum susu untuk menghindari gumoh. Padahal, yang terpenting adalah menjaga posisi bayi agak tegak atau tidak terlentang saat minum, untuk mengurangi kemungkinan gumoh.

Menyendawakan bayi setiap 3-5 menit dianjurkan, jika yang diberikan adalah susu formula. Dan pastikan lubang putting dot tidak terlalu besar, untuk menghindari jumlah susu yang masuk terlalu banyak.

Kapan harus khawatir?

Kondisi gumoh yang harus membuat orang tua waspada dan membawa anak ke dokter adalah, ketika:

  • Bayi mengalami berat badan yang tidak naik atau bahkan turun dalam beberapa bulan (gagal tumbuh)
  • Muntah berulang dalam jumlah banyak (lebih dari 2 sendok makan)
  • Muntah proyektil (mendorong dengan tenaga)
  • Frekuensi buang air kecil lebih sedikit dari biasanya (dehidrasi)
  • Tampak sangat lemah dan sulit dibangunkan
  • Memuntahkan cairan berwarna hijau atau coklat
  • Tampak sesak nafas

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print