Previous
Next
16-juli-17.00-Home-Schooling-berbagi-pengalaman-dari-Annette-Varash-1200x1200

Home schooling : apa dan bagaimana ?

Dengan maraknya penggunaaan social media, para orangtua banyak mendapatkan insight tentang pendidikan di rumah (homeschooling). Jika dilihat banyak sekali lembaga pendidikan yang memasang program baru “Homeschooling bersama lembaga xyz”, ada lagi yang mengatakan

Anette berbagi kisah mengenai pengalaman homeschooling-nya kepada taman main Petualang, Memulai HS sejak bulan Juli 2013, ketika Dominggo anak pertamanya tamat pendidikan Taman Kanak-kanak. Alasan utamanya adalah tidak menemukan sekolah yang sesuai keinginan dan budget. Anette melihat karakteristik Dominggo membutuhkan sekolah yang mampu mendampinginya untuk menemkan cara belajanya sendiri, dengan kurikulum seimbang untuk art, music, sport, science, life skill, rasio perbandingan antara jumlah guru dan siswa adalah 1 guru untuk maksimal 15 anak, sistem penilaian yang dilakukan tidak hanya berupa angka-angka, tapi juga penilaian deskriptif.

Keinginan kami mengenai sekolah yang ideal bagi anak, juga mengenai nilai nilai humanis dan spiritual, bukan hanya nilai akademis belaka. Bekal yang harus kami tabung sebagai orangtua, bonding bersama anak-anak sebelum mereka beranjak remaja ya intinya sih kami maunya banyak duitnya gak banyak hehehe. Ya udah pilihan terbaik yang kami ambil pilihan untuk HS.

Sama seperti sistem persekolahan, HS juga memiliki sisi plus minus. Karena HS = tumbuh bersama, kami merasa punya banyak kesempatan untuk saling mengenal karakter masing-masing individu, menajamkan karakter, belajar saling menerima dan memaafkan, membangun relationship yang sehat dan positif itu ternyata butuh waktu yang sangat panjang dan beruntung bagi keluarga yang menerapkan HS karena konsistensi dan kesepakatan keluarga bisa dibangun bersama-sama.

Sementara sedihnya adalah, mendapatkan judgement negatif dari keluarga atau teman dekat, kami paham sih itu merupakan bentuk rasa sayang yang malah jadi khawatir dan menilai negatif tapi kalau gak tebal tebal telinga, bisa drop juga.

Kami berharap HS bisa menjadi pilihan pendidikan yang makin dikenal luas, HS sebagai sistem pendidikan berbasis keluarga perlu saling mendukung dan bersinergi akan semakin kuat. Anak-anak HS harus mendapatkan kesempatan yang setara dengan anak-anak yang ada di sistem persekolahan konvensional untuk mengakses fasilitas pendidkan publik maupun kesempatan mendapatkan beasiswa. Semoga nantinya pemerintah bisa menerapkan sistem penilaian atau tes kompetensi dan portofolio anak, bukan dari rapot atau ujian tertulis belaka.

Anette meninggalkan pesan bagi keluarga yang ingin memulai home schooling, agar melakukan riset dan mencari informasi sebanyak-banyaknya. HS = membangun visi misi keluarga, menyesuaikan gaya belajar anak, pendalaman materi, resources yang dibutuhkan untuk mendukung sistem pembelajaran. Tetap semangat!

*artikel diambil dari warancara dengan Annete Varash, Ibu dari 3 orang anak homeschooling

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print