Previous
Next
def pic

Ibu adalah pendidik pertama


Setelah main, rapikan mainannya ya nak

Makan nya dengan tangan kanan

Jangan terlalu dekat nonton tv nya

Baca doa sebelum tidur dan sesudah bangun tidur

Boleh tolong bantu bawa belanjaan Ibu?

Sepertinya pesan singkat di atas, seringkali diulang-ulang, diingatkan, dikatakan pada anak-anak. Siapa yang mengingatkan berulang kali? IBU. Buat anak yang mendengar, pesan ini seperti siaran ulangan di radio yang terus menerus diputar. Efeknya bisa bosan, tapi bisa melekat sepanjang masa. Tapi itulah hebatnya ibu, tanpa lelah tanpa bosan, terus mengingatkan anak nya untuk melakukan hal-hal yang dirasa sepele ini.

Semua dimulai dari apa yang ibu katakan, apa yang ibu nasehatkan,  dan apa yang ibu ingatkan. Jadi memang pendidik pertama dan utama bagi semua anak adalah ibunya. Bagaimana seorang ibu bertindak, akan menjadi contoh bagi anak-anak nya. Maka menjadi seorang ibu adalah tugas yang mulia, tapi juga berat. Kita harus terus menerus belajar untuk menjadi ibu yang baik yang dapat memberikan contoh terbaik bagi anak-anak.

Mengapa kita harus terus mengingatkan? Karena dari hal sepele inilah, karakter anak akan terbentuk. Misal kewajiban untuk merapikan mainan, ini adalah bentuk tanggung jawab terhadap kebersihan dan kerapihan. Akhir-akhir ini, sempat viral ajakan salah satu resto waralaba ayam terkemuka untuk merapikan meja dan piring bekas makan. Banyak warga yang protes dengan ajakan tersebut, karena dianggap merepotkan dan menyusahkan. Sebenarnya ini adalah hal sederhana, sesederhana anjuran seorang ibu untuk merapikan mainan setelah bermain. Maka merapikan alat makan setelah makan, adalah hal yang sepatutnya dilakukan.

Inti dari hal sepele ini sebenarnya besar, karena mengajarkan anak tentang konsep TANGGUNG JAWAB. Dimulai dari akar yang diajarkan oleh ibu saat kecil, dimulai dari hal sederhana,  akhirnya seorang anak dapat memahami hal besar lainnya saat mereka menjadi dewasa. Dalam kasus yang saya temui, ada seorang anak yang sejak kecil selalu dilayani oleh orang tua nya, jarang disuruh untuk merapikan mainan atau bantu membawa belanjaan sang ibu. Pada saat besar dan menjadi seorang suami, dia kurang peka terhadap kebutuhan keluarga, anak dan istrinya. Gaji yang dimiliki, dipakai sendiri, digunakan untuk membeli barang yang diinginkan, tidak memprioritaskan nafkah pada istri, tidak mempersiapkan dana Pendidikan untuk anak nya.  Sang istri akhirnya mengalah dan membiarkan hal itu terjadi, untungnya pekerjaan dan penghasilan istrinya baik dan besar. Tapi apakah ini hal yang baik? Tentu tidak. Apakah bisa diubah? Sulit, karena sudah mengakar sejak kecil. Jadi saat akar Pendidikan dari ibu dan keluarga nya tidak kuat, maka sang anak akan tumbuh dengan ajaran yang salah.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print