Previous
Next
Ibu-Hamil-olahraganya-apa-sih-1200x750

Ibu Hamil olahraganya apa sih?

Seiring perkembangan janin yang semakin besar, otomatis selera makan pun berubah. eh, bertambah. Hehehehe… ini boleh loh jadi salah satu alasan kita berolahraga ketika hamil. Emang sih, kalau lagi hamil, kita enggak harus nambah otot (jadi olehraganya bukan angkat besi ya..) namun, menguatkan massa otot ketika hamil juga tetap penting. Kenapa?

Karena hal ini akan membantu meningkatkan kepadatan dan kekuatan tulang yang dibutuhkan untuk melewati kehamilan dan persalinan hingga pasca persalinan dengan baik. Selain itu juga membantu menstabilkan kadar gula darah hingga nantinya bisa mencegah masalah diabetes. Soalnya, kalau kita bergerak aktif, kadar insulin pun otomatis bergerak turun.

Tapi, mageeer…

Hahahaha, apalagi kalau perut makin berat, pasti makin males deh bergerak ya kan? Pengennya duduk  selonjor di sofa sambil ngemil. Oke, karena males gerak ini butuh motivasi, yuk kita jabarkan dulu aja; keuntungan apa aja sih yang bisa kita dapetin kalau rajin bergerak dan berolahraga ketika hamil?

Menurut buku The Pregnancy Book dari dr. Sears, motivasi utama selain mencegah diabetes dan yang menguatkan tulang, tentu saja; memudahkan proses persalinan!

Jadi, kata Dr. Sears, perempuan yang lebih banyak berolahraga sepanjang masa kehamilan akan meningkatkan kadar endofin dalam tubuhnya. Hal ini, sangat bermanfaat untuk mengurangi rasa sakit ketika hamil dan juga melahirkan. Jadi, mereka yang rajin berolahraga cenderung tidak terlalu kesakitan saat melahirkan. Bahkan penelitian membuktikan; tidak membutuhkan obat penahan rasa sakit ketika bersalin. Asyik, kan?

Manfaat olahraga buat ibu hamil

Eits, jangan khawatir. Masih banyak lho manfaat lainnya:

  1. Mencegah depresi dan menjaga mood ibu hamil yang turun-naik itu
  2. Menyiapkan tubuh untuk persalinan yang lancar, menguatkan dan melenturkan otot juga persendian
  3. Meningkatkan sistem imun
  4. Mengoptimalisasi penambahan berat badan di angka yang secukupnya dibutuhkan tubuh
  5. Mencegah kelebihan berat badan pasca bersalin
  6. Menstabilkan tingkat insulin
  7. Mencegah konstipasi
  8. Mencegah resiko komplikasi bersalin dan operasi Caesar
  9. Mengurangi kram dan kesemutan
  10. Mengurangi mual pagi hari
  11. Meningkatkan kualitas tidur
  12. Mencegah lahir premature
  13. Membantu pencegahan anak yang dilahirkan menjadi obesitas

Olahraga apa yang terbaik?

Jalan kaki, naik turun tangga, berenang, yoga, senam, bahkan lari hingga dancing pun boleh lho dilakukan ketika hamil. Asal, inget aja beberapa hal ini:

  1. Konsultasi dengan dokter kandungan atau dokter langganan Anda yang memahami soal tubuh Anda dan olahraga yang cocok.
  2. Berpakaian olahraga yang nyaman untuk si perut gendut. Misalnya baju yang menyerap keringat, sepatu yang nyaman, celana yang tidak terlalu ketat, bra yang tidak menyesakkan,  dan sebagainya.
  3. Mulai dari yang paling ringan dan paling pelan. Apalagi jika Anda tidak terbiasa berolahraga sebelum hamil, jangan berlebihan ya. Hamil aja sebenarnya kan udah masuk ke dalam golongan “berolahraga” karena detak jantung kita bertambah 20 persen dari kondisi enggak hamil.
  4. Tau Batasan. Inget aja, kalo olahraganya terlalu berat untuk ibu, otomatis terlalu berat juga bagi bayinya. Jadi pantau detak jantung, lalu coba mengobrol ketika berolahraga; kalau terlalu berat berarti kurangin lagi ya. Dengarkan juga sinyal-sinyal tubuh untuk tau sampai sejauh mana batasnya.
  5. Bayi membesar, bunda menjadi lebih pelan. Berlari, berjalan, ke gym, berenang, bersepeda, dan apapun jenis olahraga yang Anda pilih;lakukan dengan santai. Inget, yang penting bergerak, bukan mengejar skor.

Cegah lakukan yang ini

Meski semua olahraga sebetulnya bagus-bagus saja untuk dilakukan ibu hamil (terutama jika sudah rutin dilakukan sejak sebelum hamil), namun tetap ada olahraga yang sebaiknya tidak dilkukan. Apa aja?

  1. Tennis : yang ini terlalu berat karena terlampau banyak gerakan mengagetkan yang berbahaya. Begitu juga racquetball yang bisa bikin overheating
  2. Waterskiing: resiko jatuh dalam kecepatan tinggi
  3. Downhill skiing: resiko jatuh, dan masalah gravitasi juga keseimbangan
  4. Ice skating: resiko jatuh
  5. Kompetisi Basketball dan volleyball : kalau main santai dan pelan-pelan aja sih enggak apa-apa. Tapi kalau lomba dan terlalu bersemangat, akan membuat bayi terkocok-kocok. Dan ini bahaya.
  6. Naik kuda: selain beresiko jatuh, terlalu banyak lonjakan di sadel kuda pun akan memengaruhi ligament pelvic dan menyebabkan cedera pelvic.
  7. Angkat beban: bahaya terlalu lama menahan nafas dan tentu saja beresiko mencederakan otot
  8. Scuba diving: ini juga berkaitan dengan bahaya pernafasan karena scuba diving kan menyelam terlalu dalam, dengan udara dari dalam tabung. Tapi kalau masih kepingin liat ikan, snorkeling sih aman kok.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print