Previous
Next
Ibu-Saya-Kalah-1200x628

Ibu saya kalah, tapi yang berjuang masih banyak…

Pekan lalu, saya hadir di pemakaman ayah dari sahabat saya. Pemakaman entah yang keberapa kali saya hadiri, pemakaman dari orang tua sahabat-sahabat saya, yang satu persatu mulai habis waktunya di dunia.

Duka menyelimuti, namun tetap ada pertemuan antar sahabat yang sudah lama terhenti karena jarak, waktu dan kesibukan. Pemakaman yang menjadi ajang reuni, karena pelukan sahabat sejatinya tak hanya tiba di kala gembira namun juga ketika duka.

Ini hal baru, sebetulnya. Karena di era orang tua saya, reuni yang tak disengaja lebih sering terjadi ketika ajang perayaan. Pernikahan sahabat, kelahiran anak sahabat, ulang tahun anak sahabat, kemudian skip lama dan bertemu lagi ketika anak sahabat itu telah tiba waktunya menikah. Era ini berbeda. Kini setelah ulang tahun anak, saya dan sahabat-sahabat jadi sering bertemu di pemakaman orang tua.

Kebanyakan penyebabnya satu; kanker.

Tidak hanya mereka, saya pun mengalaminya. Ibu saya. Ia kalah, setelah berjuang hampir satu tahun melawan Myelodysplastic Syndrome (MDS) atau kanker tulang belakang.

Bahaya yang bersembunyi

Tidak ada satupun dari kami yang menyangka, bahwa ibu bisa wafat karena kanker. Ia tidak suka makan asin-asin, tidak suka manis-manis, ia sering makan buah dan sayur, ia senang bergerak, ia adalah sosok menyenangkan yang punya banyak kawan, ia tidur dan bangun teratur, ia senang makanan sehat bergizi.

Sampai akhirnya ia mulai mengalami penurunan berat badan secara drastis, meski makannya normal. Pemeriksaan menyeluruh tidak bisa menemukan dimana letak penyakitnya, hingga akhirnya pemeriksaan sel darah lewat tulang belakang. Waktu itu kekhawatiran pertama adalah leukemia. Yang berujung pada MDS.

Semenjak itu, daya tahannya pun semakin lama semakin menurun. Tekanan darahnya semakin rendah, dan terserang infeksi sekunder; pneumonia. Karena ibu saya memang punya banyak riwayat sakit paru.

Perjuangannya selesai

Ketika ia mulai habis-habisan tenaga dan semangatnya, kami sekeluarga terus bahu membahu membuatnya semangat dan bertahan lagi. Meski akhirnya Tuhan-lah yang memutuskan. Perjuangannya berakhir di usia 63 tahun. Tidak terlalu lama, ia berjuang. Tidak terlalu lama, waktu kami untuk menemaninya melewati saat-saat sulit itu.

Meski kehilangan ibu, adalah saat tersulit berikutnya yang harus kami hadapi dengan ikhlas.

Kematiannya telah berlalu 4 tahun, namun rasa rindu tidak akan pernah berlalu dari hati kami. Dan ada satu hal yang kami pelajari dari kejadian ini; kanker tidak membunuhnya. Tuhan menyembuhkannya dari kanker. Karena penderitaan dan kesakitan yang ia alami terasa pedih kalau diingat lagi.

Masih banyak yang sedang berjuang

Ibu, dia tidak menyerah. Dia bukan orang yang mudah menyerah. Makanya kami juga-saat itu-bersemangat untuk terus berjuang.

Meskipun ia juga sering berpesan, setiap mahluk hidup pasti mati nantinya. Tapi kehidupan layak diperjuangkan, bukan?

Tidak hanya memerjuangkan kehidupan mereka yang telah menderita kanker, bagaimana jika kita yang sehat pun terus menjaga kesehatan? Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Kesehatan adalah modal utama untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Iya, perjuangan ibu saya telah berakhir. Namun kini saatnya saya dan keluarga yang berjuang untuk menghabiskan sisa waktu di dunia dengan menjadi yang lebih baik, berusaha lebih sehat, dan mari kita sama-sama rapatkan barisan untuk menyayangi mereka yang masih berjuang.

Ditulis Oleh : Yasmina Hasni, Co-Founder Taman Main Petualang

4th Feb 2018. WORLD CANCER DAY. WE CAN, I CAN!

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print