Previous
Next
images

Idul Fitri, jangan sampai sakit perut, ya!

Setelah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan, seringkali ketika idul fitri tiba maka kita sibuk “balas dendam” dengan makan banyaaak. Atau kadang tubuh kelelahan karena kunjungan ke rumah sanak saudara, sehingga daya tahan tubuh menurun, timbullah sakit perut. Eh, loh? Kok bisa? Apa hubungannya?

Ada dong hubungannya. Dr Arifianto SpA menjelaskan soal sakit perut pada anak dalam bukunya “Makan tepat tumbuh sehat”. Jadi, kata Dokter Apin, mayoritas penyebab sakit perut anak adalah kondisi-kondisi yang tidak membahayakan jiwa. Bahkan tidak jarang, penyebab sakit perut pada anak tidak diketahui, dan menghilang dengan sendirinya.

Sakit perut pada anak dapat dibagi atas beberapa jenis. Secara umum, sakit perut dibagi atas sakit yang memerlukan tindakan pembedahan dan yang tidak membutuhkan pembedahan.jenis yang pertama jauh lebih sedikit ditemui pada anak, misalnya radang usus buntu (apendisitis)  dan sumbatan (obstruksi) di saluran cerna. Orangtua sering kali khawatir sakit perut yang dialami anaknya merupakan “usus buntu” (apendisitis), dan segera membawa anaknya ke dokter dengan kekhawatiran ini.

Ciri apendisitis  adalah nyeri perut hebat, yang membuat anak sampai kesulitan bergerak (karena menggerakkan tungkainya saja terasa nyeri sekali), dan biasanya berlokasi di perut kanan bawah (pada balita kadang lebih tidak jelas lokasi nyerinya). Demam kadang dijumpai, dan pada pemeriksaan laboratorium darah bisa didapatkan peningkatan nilai leukosit yang cukup tinggi. Bawa langsung ke dokter ya jika anak mengalami gejala ini.

Kondisi kegawatan lain adalah pada sumbatan di saluran cerna. Tandanya adalah muntah berulang (akibat saluran cerna tersumbat dan aliran makanan yang seharusnya tercerna tertahan) dan perut makin membuncit. Apabila anak mengalami muntah hijau, maka orangtua harus segera membawa anaknya ke dokter, karena kecurigaan sumbatan saluran cerna semakin jelas.

Penyebab tersering sakit perut pada anak

Nah, jadi apa  sih penyebab tersering sakit perut pada anak? Tentunya kondisi yang tidak membutuhkan pembedahan seperti yang dijelaskan tadi.

Apa aja penyebabnya?

  1. Diare akut

Biasanya suka disebut gastroenteritis atau “flu perut”. Buang air besar anak menjadi lebih cair dan frekuensinya lebih sering. Anak juga mengalami perih, kembung, “melilit” dan mual. Penyebab terseringnya adalah infeksi virus dan akan membaik seiring waktu tanpa pengobatan khusus.

  1. Konstipasi (sembelit)

Konsistensi tinja menjadi keras dan anak harus berusaha keras membuang tinjanya (mengedan). Apabila dibiarkan berlanjut, maka anak yang sering merasa kesakitan saat buang air besar (BAB) akan makin berusaha menahan BAB dan tinja pun akan semakin keras. Penyebab tersering adalah pola konsumsi serat (sayur dan buah) yang kurang, belum dilakukan toilet training dan terlalu banyak minum susu.

  1. Keracunan makanan

Ditandai dengan muntah berulang dan atau disertai sakit perut dan diare. Setelah seluruh makanan yang diduga meracuni anak dikeluarkan lewat muntah, maka nyeri perut akan berangsur-angsur menghilang. Obat anti muntah tidak boleh diberikan pada kondisi ini karena mencegah zat-zat yang seharusnya segera dikeluarkan untuk dibuang dari tubuh. Pastikan anak mendapatkan cukup minum.

  1. Stress psikologis

Biasanya terjadi pada anak yang sudah sekolah/ ketika stress diatasi, maka nyeri perut menghilang.

Menilai keluhan sakit perut pada anak memang seringkali tidak mudah, karena perbedaan rentang usia yang cukup lebar. Anak balita biasanya masih sukar mendeskripsoikan keluhan sakit perutnya, atau rasa tidak nyaman di perut lainnya. Jadi orangtua harus memerhatikann benar keluhan nyeri perut si anak.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print