Previous
Next
Indikator-bayi-sehat-GENDUT

Indikator bayi sehat: GENDUT.

“Anaknya gemuk banget sih, lucu ya! Anakku tuh kurus banget, males makan…”

Anak yang enggak gemuk juga lucu kok, bun. Kan anak-anak, gimana juga lucu kok, menggemaskan. Apalagi kalau aktif, penuh semangat, sehat, ya kan? Apa sih yang paling efektif bikin orang tua khawatir? Anak sakit. Demam, susah tidur, rewel, maunya nempel, sedih ya?

Jadi, selama anaknya sehat, hati (harusnya) tenang dong..

Emang sih, kelau kekurangan nutrisi karena terlalu pilih makanan atau bahkan malas makan, bisa juga bikin anak rentan dan mudah sakit. Tapi enggak berarti mengejar anak mau makan sampai gemuk, kan? Yuk kita samakan dulu visinya: agar anak sehat.

Pola makan anak

Nah, kalau tujuannnya sudah sama, yuk kita telaah sedikit mengenai pola makan anak. Banyak sekali faktor yang bisa menjadi alasan anak malas makan. Namun sejalan dengan psikologi anak, fisik pun sama yakni membentuk pola makan seimbang sejak hari pertamanya mengenal makanan.

Di usia 6 bulan ketika mulai MPASI, aktivitas makan bagi anak adalah proses belajar. Yakni; mengenal berbagai bentuk, tekstur, dan rasa makanan, tanpa perlu sedikit pun memberi tambahan gula atau garam. “Anak belum perlu diberi makan banyak atau nasi 3 kali sehari. Sumber nutrisi utama anak masih dari ASI,” jelas dr. Arifianto.

Kalau tujuannya agar anak menjadi gemuk, pada akhirnya orang tua akan melanjutkan kebiasaan memanjakan dan membebaskan anak memilih makanan dan jajanan yang disukai, meski bukan makanan yang sehat. Makanan instan, tanpa serat buah dan sayuran, jajanan yang diolah dengan banyak perasa kimia emang enak sih, tapi kan…

“Bukan anak yang menentukan apa yang dimakan, melainkan orang tua,” kata Dr Apin. Sayangnya, umumnya para orang tua punya ketakutan berlebihan, jika anak rewel karena permintaan yang tak dituruti atau tak doyan makan sama sekali. Ditambah lagi, adanya dorongan ketidak puasan melihat anak tetangga yang lebih gemuk.

Vitamin nafsu makan

Sekali lagi, kalau tujuannya sekadar membuat anak gemuk, langkah yang paling banyak dipilih adalah memberikan vitamin nafsu makan untuk anak.  Sebagian orang tua beranggapan, vitamin mujarab mengatasi anak sulit makan. Sampai kadang, orang tua ke apotek membeli vitamin sekalipun pola makan anaknya sudah bagus demi gemuk.

Mungkin jadi gemuk, tapi efek sampingnya gimana? Dr Purnamawati pernah menjelaskan, kelebihan vitamin yang larut dalam air–vitamin B dan C–dapat membuat beban kerja ginjal berlebihan sehingga fungsinya terganggu atau menyebabkan penumpukan dan muncullah batu ginjal. Sedangkan kelebihan vitamin larut lemak–vitamin A, D, E, dan K–bisa membebani hati yang bisa memicu gangguan fungsi hati, problem pembekuan darah, serta keracunan vitamin, lho.

Sekarang, yuk bayangin, bila kondisi tersebut harus dihadapi anak-anak akibat ia dijejali suplemen terus-menerus. Apalagi, kata dr. Wati, suplemen sejenis itu belum terbukti efektif meningkatkan nafsu makan. Dalam dunia kedokteran, ucapnya, belum ada yang namanya perangsang nafsu makan.

Enggak Cuma dr Wati, penelitian American Academy Pediatrics (AAP) juga menyebutkan pemberian suplemen vitamin terlalu dini, justru dapat meningkatkan risiko timbulnya alergi dan asma pada anak.

Nah, kalau tujuannya agar anak jadi sehat, tentu enggak mau dong anaknya menderita berbagai efek samping dari suplemen tersebut?

Growth chart WHO

Seperti juga karakter dan cara belajar, kecukupan nutrisi dan gizi setiap anak tentu berbeda-beda. Maka tidak bisa membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak tetangga. Growth chart dari WHO yang bisa di download gratis itu, adalah tolak ukur yang paling mudah dan sesuai dengan setiap anak. Selama ia masih berada di garis aman, maka tenang saja ya..

Kalau memang terlihat mengkhawatirkan, yuk langsung kunjungi dokter anak.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print