Previous
Next
def pic

Intervensi Pihak Ketiga :“Berkomunikasi Efektif dengan Pengasuh Anak”

Sebagai seorang ibu yang harus kembali bekerja setelah masa cuti melahirkan habis, tentunya sudah menjadi resiko untuk mencari pengasuh anak. Saat ini kebutuhan pengasuh anak sangatlah tinggi. Seolah-olah bisnis penyalur PRT atau nanny pun semakin marak. Tidak semua ibu bisa beruntung dan menitipkan anaknya pada orangtua/kakek-nenek. Saya pernah mengalami kesulitan saat mencari pengasuh anak ketika saya harus kembali bekerja. Saya tidak seberuntung ibu lain yang bisa menitipkan anaknya pada mertua atau orangtua. Tentunya selama mencari pengasuh saya sangat selektif dan juga mempertimbangkan banyak hal. Untuk mendapatkan pengasuh yang berpengalaman tentunya kita harus siap dengan budget yang lebih tinggi, namun pengalaman pun tidak bisa menjadi jaminan. Ada banyak isu bahwa pengasuh dapat mempengaruhi perkembangan anak. Memang betul dalam kehidupan anak yang kedua orangtuanya bekerja mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh. Bergitupun yang saya alami saat ini, saya mencoba untuk meminimalisir ketakutan saya saat meninggalkan anak dengan berkomunikasi efektif bersama pengasuh.

Berikut ini saya ingin membagikan tips hal apa saya yang penting disampaikan kepada pengasuh. Pertama, kita harus bisa memberikan rasa percaya atau trust kita selama meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh. Sebaiknya menyampaikan kepada pengasuh tentang penggunaan CCTV, CCTV dipasang tidak hanya untuk mengawasi kegiatan di rumah tetapi juga demi keamanan bersama. Trust ini menjadi dasar ketika kita meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh. Anak yang mendapatkan kepercayaan yang baik dari orangtuanya dan pengasuh yang dipercaya membuat ibu lebih lega saat bekerja. Kedua, menyampaikan kepada pengasuh mengenai jadwal kegiatan anak sehari-hari. Untuk menghindari kegiatan yang monoton ibu boleh memberikan list alternatif kegiatan bermain, misalnya melakukan rolling mainan selama seminggu sekali. Saya menetapkan metode ini untuk membantu anak terbiasa bermain dengan mainan yang beragam. Pengasuh juga perlu terlibat dalam kegiatan bermain dengan anak, misalnya: meminta pengasuh bermain bersama dengan anak, melakukan interaksi dua arah, dan mencoba bermain bersama. Tidak perlu terlalu kaku, yang penting anak tidak dibiarkan bermain sendirian dan pengasuh pun tidak kebingungan dalam memberikan kegiatan.

Ketiga meminta pengasuh untuk mengambil waktu mengajari anak untuk mandiri sesuai dengan perkembangan usia anak. Misalnya, anak usia hampir 2 tahun harus bisa minum sendiri dan menyimpan benda sesuai dengan arahan “simpan di meja ya”. Ibu harus menjelaskan apa yang baik untuk dilakukan oleh pengasuh di rumah, sepulang bekerja ibu juga bisa melakukan evaluasi dengan bertanya kepada anak dan juga pengasuh. Hal ini menjadi penting karena sebagai ibu bekerja pengasuhlah yang menggantikan perananan orangtua dan memberikan stimulasi kepada anak. Jika tidak dikompromikan dengan baik, maka jangan berharap pengasuh dapat mengerti apa yang kita inginkan. Intinya perlakukanlah pengasuh tidak seperti orang lain yang bekerja, tetapi dengan kasih sayang dan keterbukaan sehingga mereka juga timbul rasa sayang dan perhatian kepada anak kita.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print