Previous
Next
admin-panel-image-1cb334ed-68aa-4b27-a42c-540959ae412f-1487755350873

IRT : Time Management dan Me Time itu penting

Menjadi seorang ibu rumah tangga/IRT tidaklah mudah!, sungguh luar biasa rasanya. Sejujurnya sebelum menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga, saya pun beranggapan bahwa “enak ya tinggal di rumah dan punya banyak waktu untuk istirahat dan tidak capek bekerja”. Setelah saya mengalamainya sendiri kenjadi seorang ibu rumah tangga bukanlah sesuatu yang mudah dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Menjalani peranan baru saya saat ini membuat saya semakin salut kepada setiap ibu yang berada di rumah mendedikasikan waktunya 24 jam full untuk mengurus peirntilan rumah. Banyak hal baru yang saya rasakan dan hayati saat saya menjalani  keseharian sebagai ibu rumah tangga. Luar biasa sekali, saya berproses banyak hingga saat ini survive  menjalani keseharian saya sendiri, nanny no worries !.

Menjadi seorang ibu, baik yang bekerja dan berada di rumah(IRT) merupakan tugas yang mulia. Setiap ibu pastinya mengorbankan segala sesuatunya untuk keluarga, jika bekerja tentunya ia membantu finansial keluarga di rumah, dan dengan besar hati harus merelakan 8 jam bahkan lebih dari waktunya untuk meninggalkan anak Saya yakin tidak ada ibu yang ingin berada jauh dari anaknya namun banyak hal yang membuat ibu harus menentukan pilihan sebagai wanita karier.  Sebagai seorang ibu rumah tangga kita juga harus memiliki time management yang baik, hal ini berkaitan dengan banyaknya tugas di rumah yang harus dikerjakan dan bahkan dirasakan kalau “pekerjaan rumah tidak pernah ada habisnya” hehe..

Kesibukan di rumah tidak kalah padat dengan pekerjaan di kantor, dari pagi hari bahkan mungkin banyak ibu yang harus bangun subuh untuk mencuci, menyapu, mengepel dan memasak selagi anak-anak tertidur lelap. Hal ini akan membantu agar pekerjaan rumah dapat cepat terselesaikan, dan segala sesuatu yang dibutuhkan anak-anak dan suami siap pada waktunya. Tentunya seorang ibu rumah tangga harus mampu mengatur jadwal dalam kesehariannya agar tidak ada tugas yang terbengkalai, namun harus tetap memiliki hati dan pikiran yang fleksibel ketika segala sesuatu yang direncanakan tidak berjalan dengan mulus. Kenapa demikian? Ternyata sebagai ibu rumah tangga saya merasa lebih mudah lelah, dan sedikit emosional. Bekerja di rumah berbeda dengan di kantor dimana segala sesuatu yang kita kerjakan dapat kita selesaikan sesuai waktu/jam kerja. Di rumah akan banyak hal-hal yang bisa terjadi di luar prediksi kita, misalnya: anak yang tiba-tiba susah makan/GTM, bangun kesiangan dan membuat rundown yang kita tentukan menjadi kacau balau, atau anak sakit dan membuat kita tidak bisa mengerjakan apapun di rumah. Hal-hal seperti ini bisa membuat kita merasa jenuh dan juga emosional karena lelah dan apa yang ingin kita kerjakan tidak bisa diselesaikan dengan baik.

Ibu yang smaart memiliki time management yang baik sehingga membuat list hal-hal yang dikerjakan dalam sehari sesuai dengan skala prioritasnya masing-masing. Hal ini dapat membantu kita untuk bekerja dengan berurutan, selain itu hati dan pikiran yang fleksibel harus kita miliki agar terhindar dari rasa jenuh, kecewa, kelelahan dan lain sebagainya. Saya rasa menjadi ibu rumah tangga bukan merupakan hal yang biasa saja melainkan luar biasa.Dimana kita dituntut untuk memberikan waktu, pikiran, tenaga dan hati/perasaan kita untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan langsung dengan suami dan anak-anak kita. Kadang bahkan kita harus mengorbankan waktu kita atau kesempatan kita untuk beristirahat hanya untuk mengerjakan hal lainnya yang belum terselesaikan. Eits… pasti semua ibu-ibu yang di rumah pernah merasakannya bukan?.

Kita harus ingat bahwa  kita bukanlah robot yang tidak memiliki rasa jenuh, lelah atau emosi lainnya. Ingat, menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia, seorang ibu rumah tangga harus bisa menguasai waktu dan menguasai dirinya sendiri. Kita harus jujur kepada diri sendiri dan memberikan waktu untuk bersantai, beristirahat dan menyenangkan diri kita sendiri tanpa mengorbankan orang lain (anak dan suami). Dengan memberikan waktu jeda istirahat/tidur siang bersama anak, mengobrol bersama teman/tetangga, menonton TV saat anak tidur, atau mengajak anak berjalan-jalan dan melakukan hal menyenangkan lainnya tidaklah membuat nilai kita berkurang sebagai ibu rumah tangga.

Selain itu, diskusikan hal-hal yang seringkali menghambat kepada suami misalnya: menu rumah yang simple, atau membagi pekerjaan rumah dengan suami merupakan solusi yang baik. Jangan malu untuk mengungkapkan kelemahan dan keterbatasan kita sebagai IRT, dengan terbuka dapat membantu kita agar lingkungan disekitar ikut membantu dan memahami kita.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print