Previous
Next
def pic

Jangan Panik menghadapi GTM

Bagi ibu-ibu tentunya jika mendengar kata GTM “gerakan tutup mulut” merupakan sesuatu yang cukup membuat pusing kepala terutama bagi yang sudah mengalaminya ya. Saya pun akhirnya tiba di fase anak menolak makan atau menutup mulutnya rapat-rapat sehingga tidak mau makan. Hal ini tentunya membuat saya pusing tujuh keliling sebagai ibu baru, saya tidak pernah menyangka bahwa fase GTM ini sangatlah berat. Kenapa demikian? Tentunya karena kita sebagai orang tua memiliki harapan dan membayangkan kondisi yang baik dari anak kita, ketika sesuatu terjadi pada anak atau hambatan datang hal ini akan menguras lebih dari setengah pikiran kita tanpa disadari.  

Namun, ternyata GTM ini kerap muncul ketika anak sedang naik tekstur atau berubah tekstur makanannya dari halus sampai kasar (berupa bubur yang tidak disaring, nasi lembek sampai pada nasi biasa). Selebihnya ketika anak mengalami GTM bisa disebabkan mulai bosan dengan menu/makanan yang kurang bervariasi. Selain itu, makanan anak juga harus diperhatikan komposisi dan rasanya, seperti orang dewasa ketika makanan yang kita makan rasanya enak tentu mulut kita pun akan terbuka terus untuk masuknya makanan ke dalam mulut. Menurut dokter spesialis anak ketika anak mulai menolak makanan dan menutup mulutnya rapat maka kegiatan makan sebaiknya dihentikan saja. Waktu makan paling baik adalah 20 menit, setelah anak makan lebih dari 20 menit konsentrasi makannya sudah buyar dan selera makannya sudah hilang (dapat disebabkan lelah mengunyah, rasa yang kurang enak, mengantuk, atau perhatiannya sudah teralihkan).

Ketika anak mengalami GTM ibu juga diharapkan tenang dalam menghadapinya karena GTM harus diatasi dengan kreativitas ibu dalam memasak. Makanan yang bervariasi, rasa yang enak, bentuk yang menarik dapat meningkatkan minat anak terhadap makanan yang ia makan. Selain itu, tentunya ibu bisa membuat makanan pendamping atau snack yang bervariasi seperti: kentang goreng, ubi, kue, pudding, buah dan lainnya. Saat menghadapi GTM ibu juga harus mampu mengontrol emosi dan tetap berpikir positif bahwa “badai GTM pasti berlalu” anak akan kembali makan dengan baik. Oleh karena itu, ibu tidak boleh memaksa, atau memarahi anak saat mengalami GTM. Ketidakmampuan anak dalam mengungkapkan keinginannya dalam bentuk bahasa, seringkali membuat ibu merasa mudah jenuh/marah karena tidak mengerti apa yang anak inginkan. Jadi, sebagai orangtua kita harus lebih sabar, dalam menghadapi setiap fase dalam perkembangan anak.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print