Previous
Next
lina-DS-web

Kakakku penyandang Down Syndrome; Orang tua adalah Role Model utama…

Orang tua, adalah sekolah pertama anak. ayah dan bunda adalah guru pertama yang anak-anak pernah punya. Tidak hanya apa yang orang tua katakana, namun justru apa yang orang tua lakukan; adalah tuntunan hidup pertama anak menjalani kehidupannya.

**

Begitupun dengan yang dialami Lina Mardhiana, seorang ibu dari 1 anak yang kini sibuk menjalani bisnis baju muslimah. Ia adalah anak ke enam, dari 7 bersaudara. Dan kakak nomor 3, yang usia-nya terpaut 10 tahun darinya yang kini berusia 34 tahun itu, adalah seorang penyandang Down Syndrome (DS). Terlahir sebagai seorag DS, 44 tahun yang lalu. Tentu tidak seperti kini, ketika masyarakat mulai mengenali apa itu DS.

Apalagi berasal dari keluarga besar, dengan anak banyak, ketika perhatian ibu dan ayah terbagi pada 6 anak lainnya. Mencuri perhatian penuh bagi satu anak saja sudah sulit, bagaimana menjalani kehidupan bagi seorang adik dari kakak yang menyandang DS?

“Biasa saja, kok!” kata Lina. Lho, kok bisa?

“Soalnya Mba Yo’ ini secara fisik atau kehidupan sehari-sehari nggak terlalu banyak butuh bantuan. Dia mampu mandiri untuk urusan MCK, makan, bahkan nyuci baju atau beberes rumah, meskipun hasilnya memang ngga sebersih kami. Secara keseluruhan Mba Yo’ ini rajin banget malahan, sampe sekarang,” katanya berkisah mengenai kakak ke-3 nya itu.

Suka ngamuk, awalnya

Karena terpaut usia yang jauh, Lina pun lupa kapan ia menyadari bahwa kakaknya berbeda. namun, ia menceritakan bahwa kejadian yang membuatnya “ngeh” adalah karena kakaknya cukup rutin mengamuk. Kalau mengamuk alias tantrum, ujarnya, kakak perempuannya itu bahkan sering mengambil golok dari atas lemari dan membuat Lina lari ketakutan dan ngumpet di bawah tempat tidur.

Tantrum itu biasanya terjadi kalau kakaknya itu habis kena marah mama, dan yang membuatnya tenang adalah bapak atau saudara laki-laki.

Sikap Papa menghadapi anak DS

Selama ini, mereka hanya berusaha memahami apa yang saudara DS nya itu suka, dan tidak akan mengusiknya. “Misalnya dulu itu dia paling suka dengerin radio utamanya sandiwara radio macam Tutur Tinular, bahkan jago banget kalau nyariin saluran radio apa di mana. Jadi papah kasih radio khusus buat dia, dan kami kadang suka nanya “episode sandiwara hari ini gimana” nanti dia cerita,” ujarnya.

Atau memaklumi bahwa kakaknya sangat suka bermain air. Mengapa bisa begitu? Hal ini didapatkan dari Bapak yang kerap memberi tahu bahwa mbak Yo’ itu beda, tapi tetap harus disayang layaknya saudara yang lain. “Kalau kurunut sih sepertinya selama ini Papah jadi contoh langsung buat kami gimana harusnya memperlakukan Mba Yo’, jadi ya dari gimana Papah memperlakukan Mba Yo’ dari situ kami bersikap.”

Setiap kita butuh disayang

Contoh sikap, perilaku, ucapan adalah bukti dari cara seseorang memandang suatu hal. Ketika orang tua menerima anaknya sebagaimana adanya, maka ia akan terus memberikan semua yang terbaik. Begitulah, menurut Lina. Karena itulah hal yang dilihatnya dari cara ayah dan bunda-nya mendidik 7 anak hingga bisa terus rukun akur saling bantu satu sama lain.

“Enggak ada rasa enggan atau malu, malah aku pernah marahin om-ku yang bilang Mbak Yo’ itu idiot, meski enggak di depan Mbak Yo’ nya,” ujar dia.

Jadi kenyataan mendapatkan saudara yang berbeda memang bukan suatu beban baginya. Bahkan ada satu kejadian yang amat membekas di hatinya dan membuatnya semakin hormat pada sang kakak.

“Waktu itu Hari lebaran kedua, kayanya aku SMP kelas 2. Berantem sama kakakku yang nomor 5 Cuma gara-gara rebutan channel TV sampe teriak-teriak ngga jelas dan hampir pukul-pukulan.

Tiba-tiba Mba Yo’ yang dari tadi diem di kamar keluar sambal teriak-teriak dan nangis: “Astaghfirullahal ‘adzim, lebaran-lebaran kok beranteeeem, mbo’ ya yang rukun, tolong Bapak…tolong Mas Adi..tolooong ini dipisahin” Mba Yo’ teriak-teriak nyebut semua keluarga laki-laki di rumah, mulai Papah, adek laki-lakinya, sampai bahkan ipar-ipar.

Sejak kejadian itu aku ngerasa maluu banget, bahkan mba’ yok yang DS saja bisa bicara begitu. Sejak itu aku makin ngehormati dia sebagai mbakku,” ujarnya.

Tanggung jawab Bersama

Kini, kedua orang tua 7 anak ini sudah tiada. Namun jejak manis yang ditinggalkan keduanya, menjadi warisan utama bagi kakak dan adik yang dibesarkan dengan cinta ini. “Kami selama ini selalu merhatiin Mba Yo’ dengan cara kami masing-masing. Terlebih sekarang sejak Papah-Mamah ngga ada, kami ber-5 satu komando untuk ngerawat dan merhatiin kebutuhan Mba Yo’ dan si bungsu, dan berusaha ngelola peninggalan Orang tua buat mereka berdua sampe akhir nanti,” ujarnya.

Karenanya, hal terpenting yang harus dilakukan orang tua dengan anak DS dan saudara lainnya, adalah harus berusaha memberi pemahaman ke saudara-saudaranya tentang kondisi si penyandang down syndrome. Selain itu, tentu saja harus bisa menjadi role model yang baik bagi semua anak-anaknya bagaimana harus bersikap baik di dalam rumah maupun di masyarakat terkait penyandang down syndrome ini.

**

“Bagi kami yang kini sudah dewasa, yang sekarang terpikir hanya gimana agar Mba Yo’ terjamin kebutuhan hidupnya, bahkan sampai misal kami semua duluan yang meninggal.”

Enggak ada yang enggak mungkin, kan? Kadang kita berpikir terlalu rumit, dan bahkan bikin segala sesuatu jadi lebih ngejelimet ketimbang apa yang sebenarnya terjadi. Padahal mungkin, yang harus dilakukan amat sederhana. Seperti kisah Lina; menyayangi, menjadi role model, dan memberi pemahaman yang lengkap.

Terima kasih banyak ya sudah berbagi kisahnya dengan kami…

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print