Previous
Next
Kata-siapa-“Tidak”-artinya-enggak-sayang-1200x600

Kata siapa “Tidak” artinya enggak sayang?

Anak: “Ibu, kenapa si Danny punya PS 4 dan I Phone terbaru, kok aku enggak dibeliin ponsel?”

Ibu: “Wah, itu pertanyaan yang bagus sayang. Mungkin orangtua Danny sangat baik. Kenapa kamu enggak minta mereka mengadopsimu, supaya kamu bisa tinggal dirumah mereka dan punya semua benda itu?”

Anak: “Aku serius ibu..”

Ibu: “Ibu juga serius, sayang…”

**

Hehehe, becanda ya.

Siapa sih yang enggak gemas kalau si kecil udah mulai ngerti barang, sudah mulai bisa minta dan sudah mulai bisa maksa? Gemaaaaaassss pengen ninggalin di toko! Hehehe..

Memberikan yang terbaik

Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Emang suliiiit berkata “tidak” pada anak. tapi pernah gak sih kepikiran bahwa “tidak” ini adalah pelajaran terbaik yang bisa kita berikan kepada anak?

Pernah “ngeh” gak, kalau anak kecil itu sasaran empuk perusahaan-perusahaan yang kepengen membentuk loyalitas dini untuk barang-barang yang mereka pasarkan?  Iya, kalau di buku buyology tulisan Martin Lindstorm dibilang jelas bahwa perusahaan menyasar emosional, yang pada akhirnya membuat orang terbiasa dan memilih produk yang sama selama bertahun-tahun ke depan.

Jadi, godaan untuk menghabiskan uang memang ada di mana-mana. Padahal kemampuannya untuk memahami dan menganalisis kebutuhan materi belum optimal.

Bukan salah anak

Ya memang bukan salah mereka, karena sebagai orang tua kita yang harus membimbing mereka memahami banyak hal, bukan? Hanya karena semua orang membeli ponsel terbaru, bukan berarti kita juga harus punya, bukan? Meskipun orang tua sebenarnya mampu, namun bukan berarti kita harus membelinya juga, bukan?

Memanjakan anak sesekali tentu tidak apa-apa, namun mereka juga perlu menyadari bahwa ada yang saat ini bekerja keras untuk menyediakan segala sesuatu bagi mereka.

Tanpa kesadaran itu, anak bisa hidup dalam ilusi bahwa seseorang akan selalu memberi kenyamanan hidup bagi mereka. Ini dia yang bahaya, karena kalau terjadi perubahan kondisi keuangan keluarga, mereka enggak akan siap. Boro-boro belajar cara mengurus diri sendiri.

Tidak pernah puas

Percaya deh, kemampuan kita membelikan anak barang tidak meningkatkan kebahagiaan mereka. Bagi anak yang hanya memiliki satu mainan, mendapat satu mainan baru lagi paasti menjadikanya makin bahagia. Namun mendapatkan 10 mainan baru tidak akan membuatnya jauh lebih bahagia dibanding mendapat 5 mainan baru. Kenapa?

Karena justru, tingkat tambahan kebahagiaan berkurang seiring jumlah mainan yang dimiliki.

Seratus mainan, dalam jangka Panjang, tidak akan memuaskan mereka sama sekali. Perhatiin deh, ketika kita memberi dua anak mainan yang sama; anak yang tidak memiliki banyak mainan akan lebih menghargai pemberian kita. Terlepas dari apapun latar belakang ekonomi kedua anak itu.

Batasan yang konsisten

Menolak permintaan anak mungkin akan membuat mereka marah, atau menangis. Namun, bisa kok dicegah dengan membuat perjanjian sejak awal bahwa pergi kali itu tidak untuk membeli barang apapun. Selama hal ini terus dilakukan dengan konsisten, anak pada akhirnya akan belajar menjadi anak-anak yang bisa menahan diri.

Percaya deh, manusia lebih mudah menyesuaikan diri ke gaya hidup yang lebih enak daripada yang lebih susah. Kalau hanya melihat ke atas, kita bisa kehilangan arah dan perspektif hidup.

Orang yang merasa berhak atas kehidupan yang nyaman, tanpa disertai rasa tanggung jawab yang kuat, akan menjadi serakah. Tentunya akan lebih baik melihat kebawah dan sekitar kita, untuk membangkitkan orang sekitar sesuai kemampuan diri kita.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print