Previous
Next
4th_of_july

Kejutan kelahiran; bayi premature. Harus bagaimana?

By: Dr Arifianto SpA

Setiap kelahiran adalah rezeki. Bagaimanapun cara lahirnya. Namun ketika usia kelahiran belum sampai ke 37 minggu, dan anak harus lahir, tentunya menjadi kejutan kelahiran. Ditambah dengan berbagai informasi yang seliweran mengenai resiko anak premature.

Memang tidak sepenuhya salah, sebab data dari WHO menyatakan bahwa setiap tahun diperkirakan 15 juta bayi terlahir prematur (usia kehamilan < 37 minggu), dan angka ini terus meningkat. Lebih dari 1 juta bayi meninggal setiap tahunnya akibat komplikasi dari kelahiran prematur.

Kelahiran prematur adalah penyebab utama dari kematian bayi baru lahir (bayi di usia 4 minggu pertama kehidupan), dan penyebab kedua dari kematian anak usia dibawah 5 tahun setelah pneumonia.

 

Masalah utama

 Sekitar 1 juta anak meninggal tiap tahunnya akibat komplikasi dari kelahiran prematur. Banyak dari yang bertahan hidup menghadapi keterbatasan seumur hidup, termasuk gangguan belajar, pengelihatan, dan pendengaran.

Ironisnya, dalam hampir di setiap negara dengan data yang dapat dipercaya, angka kelahiran prematur meningkat. Secara global, prematuritas adalah penyebab utama dari kematian bayi baru lahir (bayi di usia 4 minggu pertama kehidupan), dan penyebab kedua dari kematian anak usia dibawah 5 tahun dibawah pneumonia.

Ketidaksamaan antara angka bertahan hidup di setiap negara adalah sebuah fakta yang tidak mengenakkan. Pada negara dengan tingkat penghasilan yang rendah, separuh dari bayi yang lahir pada 32 minggu meninggal karena kurangnya penanganan yang sebenarnya mudah dan tidak mahal.

Misalnya, seperti kehangatan, dukungan ASI, dan perawatan dasar untuk penanganan infeksi dan permasalahan pernafasan. Dalam negara dengan tingkat pendapatan yang baik, hampir dari semua bayi ini bertahan hidup

 

Definisi Bayi Prematur

Prematuritas didefinisikan sebagai kelahiran seorang bayi yang usia gestasinya (kandungan ibu) belum mencapai 37 minggu. Sedangkan bayi cukup bulan adalah bayi yang terlahir pada usia gestasi 37 sampai 42 minggu, dengan mayoritas persalinan cukup bulan pada usia gestasi rata-rata 40 minggu.

Definisi prematur seharusnya dibedakan dengan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu berat lahir di bawah 2.500 gram. Namun, nyatanya, bayi BBLR kerap pula disebut bayi prematur, karena memang kebetulan bayi-bayi BBLR sering terlahir kurang bulan/prematur.

Sebagian bayi terlahir dengan BBLR, meskipun usia gestasinya cukup bulan. Bayi-bayi ini dinamakan kecil masa kehamilan (KMK) atau small for gestational age (SGA). Pembahasan bayi prematur dalam tulisan ini dibatasi untuk yang lahir kurang bulan (sebelum 37 minggu) dengan berat lahir sesuai usia gestasinya.

Prematuritas dan Masalah Fungsi Organ Tubuh

Allah menciptakan manusia, yang idealnya baru keluar dari kandungan setelah 37 minggu, bukan tanpa alasan. Rentang waktu tersebut dibutuhkan untuk mematangkan seluruh organ tubuhnya sehingga ketika terlahir nanti ia siap menghadapi dunia barunya. Bayi yang terlahir prematur tidak memiliki semua kematangan organ ini, tergantung seberapa muda bayi saat dilahirkan. Makin muda usia gestasinya, maka makin tidak siap fungsi optimal organ tersebut.

Karena kondisi tersebut, sering kali bayi-bayi prematur mengalami masalah-masalah berikut.

> Penyakit membran hialin/PMH (hyaline membrane disease atau respiratory distress syndrome)

Kondisi ini disebabkan oleh ketiadaan atau kekurangan surfaktan, yaitu senyawa yang dimiliki oleh paru-paru manusia yang berfungsi menjaga paru-paru agar tidak kolaps (menutup seluruhnya) saat membuang udara (buang napas atau ekspirasi). Bayi yang mengalami PMH akan tampak bernapas teratur dan normal selama beberapa saat setelah lahir, tetapi tidak lama kemudian akan makin sesak, terlihat tarikan kuat di antara sela-sela iga, dan bahkan bisa sampai biru karena kekurangan oksigen lanjut.

Bayi seperti ini harus mendapatkan penanganan alat bantu napas dari ventilator dan pemberian oksigen yang disesuaikan jumlahnya agar fungsi napasnya dialihkan kepada bantuan mesin (ventilator). Kondisi ini rentan dialami bayi prematur yang terlahir pada usia gestasi sebelum 32 minggu. Penanganannya adalah memberikan terapi surfaktan sintetis lewat selang bantu napas ketika bayi terbukti mengalami PMH. Angka kematian akibat PMH masih cukup tinggi karena sulit dan mahalnya harga surfaktan, dan tidak semua RS mempunyai ventilator khusus bayi dan tenaga yang terlatih merawatnya.

> Apnea dan bradikardia

Apnea adalah henti napas spontan yang dialami bayi prematur selama 20 detik atau lebih, dan kerap disertai dengan bradikardia, yaitu frekuensi nadi bayi menjadi lebih lambat dibandingkan sebelumnya (biasanya di bawah 100 kali per menit). Kondisi ini dikaitkan dengan kurang matangnya fungsi pernapasan di batang otak (susunan saraf pusat/SSP) sehingga kadang-kadang bayi “lupa” bernapas.

Apnea pada prematuritas harus dipastikan bukan merupakan kejang karena sebab tertentu; kekurangan gula darah/hipoglikemia, gangguan elektrolit, infeksi SSP (meningitis, ensefalitis), dan perdarahan otak. Penanganan terhadap apnea biasanya dengan memberikan kafein atau aminofilin/teofilin, dan pemantauan tanda-tanda vital bayi di NICU dengan monitor elektronik.

> Retinopathy of prematurity (ROP)

Kondisi ini disebabkan oleh retina (jaringan saraf mata yang berfungsi untuk melihat) belum terbentuk secara utuh/sempurna. Kondisi ROP dapat makin berat akibat penggunaan oksigen yang berlebihan melalui ventilator, atau konsentrasi oksigen tinggi lewat selang oksigen. Perkembangan terkini sangat menekankan kehati-hatian dalam memberikan oksigen, termasuk saat menolong bayi baru lahir yang tidak prematur sekalipun.

Pemantauan terhadap ROP dilakukan secara berkala hingga bayi melewati usia koreksi 40 minggu, sampai retina dinyatakan matur (matang). Upaya pemantauan dilakukan oleh dokter spesialis mata menggunakan alat khusus.

> Penyakit paru kronik (chronic lung disease atau bronchopulmonary dysplasia)

Yaitu bayi bergantung kepada terapi oksigen hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Bayi-bayi ini mengalami kesulitan bernapas ketika oksigen dilepas, atau nilai saturasi oksigen (kelarutan oksigen dalam darah) langsung turun saat terapi oksigen dihentikan. Padahal bayi-bayi ini sering kali dinyatakan sudah tidak perlu dirawat di RS sehingga mereka dipulangkan dengan oksigen yang masih terpasang dan dapat dibawa ke rumah.

Kondisi ini terjadi akibat perubahan struktur jaringan paru yang selama berminggu-minggu butuh beradaptasi dan mendapatkan terapi oksigen. Seiring bertambahnya usia bayi dan kematangan fungsi paru, diharapkan penggunaan oksigen dapat “disapih”.

> Gagal Tumbuh

Sejak lahir, pemantauan pertumbuhan bayi prematur (berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala) dilakukan menggunakan kurva Fenton atau kurva standar dari WHO, dengan memerhatikan usia koreksi (bukan usia aktual/kronologis). Misalnya, bayi yang terlahir prematur dengan usia gestasi 32 minggu, berarti “kurang” 8 minggu menuju usia cukup bulan (40 minggu). Maka, tiap kali dilakukan pemantauan pertumbuhan, usia yang diplot adalah usia koreksi (selalu dikurangi 8 minggu atau 2 bulan). Jika usia kronologis bayi 3 bulan, maka usia koreksinya 1 bulan. Jadi, berat badan, panjang badan, dan lingkar kepalanya diplot pada bayi usia 1 bulan.

Apabila berat dan/atau panjang badannya masih masuk ke dalam kurva (minimal persentil 3 atau minus 2 SD), disimpulkan kemungkinan pertumbuhannya normal. Artinya, nutrisi yang diberikan sudah mencukupi. Namun, bila tidak pernah memasuki tren pola pertumbuhan normal, perhatikan, apakah memang bayi prematur belum memasuki pola pertumbuhan sama dengan bayi yang tidak prematur (tetap dengan usia koreksi).

Evaluasi nutrisi harus dilakukan berkala pada bayi-bayi prematur ini agar tidak mengalami kondisi gagal tumbuh yang dapat berdampak pada perkembangan otak dan kemampuan tubuh mengatasi infeksi (sistem imun). Dengan berbagai keuntungannya, air susu ibu (ASI) tetap menjadi pilihan utama, meski sering kali perlu ditambah human milk fortifier (HMF) atau suplemen lainnya.

> Gangguan Pendengaran

Meski lahir prematur, bayi memiliki pendengaran sempurna. Itu sebabnya, ibu disarankan sering mengajak bicara bayi sejak masih dalam kandungan, karena janin sudah dapat mendengar.

Akan tetapi, bayi prematur berisiko terkena infeksi di dalam ruang rawat sehingga kerap diberi antibiotik yang terkadang berefek merusak fungsi pendengaran. Ia juga rentan mengalami hiperbilirubinemia (kadar bilirubin darah melebihi normal dan berisiko menembus sawar darah-otak) yang tampak sebagai gejala kuning sehingga membutuhkan terapi sinar. Kondisi hiperbilirubinemia juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran kelak. Untuk itu, bayi prematur disarankan rutin menjalani pemeriksaan fungsi pendengaran dengan uji otoacoustic emission (OAE) dan brainstem auditory evoked potentials (BAEP/BERA).

> Anemia Prematuritas

Kemampuan sumsum tulang bayi prematur dalam memproduksi sel darah merah (eritrosit) juga belum sebaik bayi cukup bulan, karena itu ia rentan mengalami anemia. Kondisi ini diperberat dengan adanya pengambilan darah berulang, infeksi, dan peningkatan kebutuhan oksigen. Untuk itu, perlu dilakukan pemantauan berkala terhadap kadar hemoglobin bayi dan pemberian suplemen zat besi saat usianya satu bulan.

Jawaban penting; Ketelatenan Orangtua

Semua bayi prematur yang pernah mengalami minimal salah satu kondisi di atas disebut bayi risiko tinggi. Setelah dirawat, baik pernah melewati NICU atau tidak, bayi-bayi berisiko tinggi harus mendapatkan pemantauan berkala di praktik dokter anak, klinik khusus bayi risiko tinggi, atau di pelayanan primer seperti puskesmas.

Orangtua dari bayi prematur yang paham semua risiko tersebut dapat membantu dokter membuat “daftar tilik” atas hal-hal yang harus dipantau pada bayinya ketika kontrol.

Bayi-bayi prematur juga berisiko mengalami gangguan (keterlambatan) perkembangan dan kecerdasan di kemudian hari. Karena itu, pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap fungsi organ dan pertumbuhan (berat dan panjang badan), tapi juga pada tahapan-tahapan perkembangan yang seharusnya dapat dilalui sesuai usia koreksinya.

Apabila telah melewati usia 6 bulan, 12 bulan, dan 18 bulan masih ada milestone perkembangan yang terlambat, maka harus dievaluasi penyebabnya.

Prematuritas dan berat lahir rendah juga dihubungkan dengan risiko darah tinggi (hipertensi) dan obesitas (kelebihan berat badan) di usia remaja dan dewasa, yang terkait dengan berbagai penyakit degeneratif.

Ini artinya, pemantauan terhadap bayi prematur tak hanya dilakukan dalam beberapa tahun pertama, melainkan hingga belasan bahkan puluhan tahun kemudian.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print