Previous
Next
Kok-aku-sholat-temanku-ke-gereja-bun...

Kok aku sholat, temanku ke gereja, bun…

Pernah diving atau snorkeling di lautan? Atau seenggaknya pernah nonton tayangan bawah laut? Ah, atau nemenin si kecil nonton Finding Nemo dan Finding Dory deh..hehehe

Kebayang dong ya, kehidupan koloni mahluk laut di koral yang berwarna-warni itu. Tidak hanya ikan yang hidup disitu, ada ular, ada kuda laut, ada kerrang, ada belut, dan lain-lain. Ikan saja jenisnya sudah bermacam-macam, dan semuanya saling berbeda. dari bentuknya, apa yang dimakannya, hingga cara nya bertahan hidup.

Kehidupan yang beragam

Begitu juga kehidupan kita di dunia ini, bukan? Di sekitar kita ada begitu banyak keragaman. Dari ras yang berbeda-beda, Bahasa, agama, cara pandang, perilaku, hingga tumbuh kembang. Nah, bentuk kehidupan mini dunia yang pertama kalinya, ada di sekolah. Saat anak pertama kali keluar dari zona ternyamannya, di rumah, dan menemui keanekaragaman tersebut.

Masa-masa ini biasanya jadi bikin orang tua galau, karena anak mulai banyak pertanyaan. “Kenapa temanku ke gereja, bun?” atau “Kenapa temanku harus pake shadow teacher, bun?” atau “Kenapa temanku kulitnya hitam dan rambutnya keriting, bun?” dan sebagainya. Sering bingung jawabnya? Nah, disini psikolog anak, Devi Sani M.Psi dari klinik Rainbow Castle menjawabnya..

Berawal dari orang tua

Jadi, menurut Ibu Devi, dalam mengajarkan diversity pada anak, hal pertama yang perlu dipahami orangtua sebenarnya adalah bagaimana pandangan orangtua itu sendiri mengenai perbedaan-perbedaan dalam masayarakat ini. Seperti biasa ya ayah dan bunda, semua berawal dari orang tua. hehehe..  

Baik mengenai perbedaan agama, warna kulit, ras, dan orang dengan disabilitas tertentu, orangtu perlu merefleksikan dulu menurut orangtua sendiri bagaimana mereka merasakan perbedaan-perbedaan tersebut. Apakah orangtua memandang perbedaan itu suatu hal yang wajar, tidak wajar, anti perbedaan, persamaan itu lebih baik, dan sebagainya. “Akan ada banyak nilai yang orangtua anut terkait perbedaan ini,” kata Ibu Devi.

Ajarkan anak menghormati perbedaan

Kemudian yang kedua, ketika orangtua sudah merefleksi sendiri value mereka tentang perbedaan (agama, ras, disabilitas dan lain-lain), kita lihat usia anak kita karena beda usia beda pula cara mengajarkan mereka menghormati perbedaan. Untuk anak yang lebih muda, yaitu 0-5 tahun ajarkan dengan cara yang konkrit seperti “eh teman aku kulitnya sawo matang, kamu kulitnya kuning langsat, teman-teman kamu beda-beda ya warna kulitnya, tapi semuanya teman-teman kamu”. Sambil diperlihatkan buku-buku bergambar yang mengajarkan nilai kedamaian.

Untuk usia yg lebih besar tentu sudah bisa diajarkan pada konsep yang lebih abstrak seperti, jika kita mau menjelaskan agama, kita bisa menjelaskan konsep mulai dari cara ibadah yang berbeda masih agak konkrit. Dari hal yang sederhana terlebih dahulu.

Tanya pendapat anak

Yang ketiga dan tidak kalah penting, ketika anak mulai tercetus pertanyaan tentang perbedaan, agama dan disabilitas temannya, kita perlu ajukan dulu pertanyaan “Kalau menurut kamu itu apa? Atau bagaimana?”.

Jadi kita berangkat dari apa yang dia pahami lalu kita benahi jika perlu. “Tidak perlu kita sebagai orang tua, langsung memberi wejangan panjang lebar tanpa bertanya terlebih dahulu sejauh mana anak memahaminya. Siapa tahu dia jauh lebih dewasa daripada kita dalam memahami perbedaan ini,” Pungkas ibu Devi.

Diskusi yang baik, bermula dari rumah. Bukan dari perdebatan kusir di media sosial, setuju bun?

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print