Previous
Next
Kok-si-adik-tidak-sepintar-kakak-1200x694

Kok, si adik tidak sepintar kakak ?

Masih ingat dengan tulisan saya tentang sibling rivalry? Yup, benar sekali saya pernah menuliskan kalau orang tua perlu berhati-hati karena kadang memungkinkan bagi orang tua untuk menjadi pemicu sibling rivalry. Pasti semua orang tua memperhatikan tumbuh kembang anaknya, baik secara fisik, sikap/sifat, dan juga prestasi atau kemampuan akademik anak. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda, misalnya : si kakak sangat menonjol dalam akademik, ia mudah menyerap pelajaran di sekolah, ia juga selalu mendapatkan nilai 90 sampai 100 hal ini tentu menjadi kebanggaan bagi orangtua. Namun, si adik cenderung biasa saja, tidak menonjol dalam akademik bahkan mungkin nilai-nilai yang diperolehnya pas-pas an. Padahal ibu  memberikan pola asuh, dan menetapkan waktu belajar yang sama antara kakak dan adik, hal ini tidak jarang menimbulkan pertanyaan “mengapa, ya?”, dan memicu orang tua memperlakukan kedua anaknya dengan perlakuan yang berbeda.

Biasanya orang tua mulai membandingkan dengan mengungkapkan kata-kata “kakak, pintar di sekolah dapat 100 kok adik tidak bisa kayak kaka, sih?”, atau “adik kurang pintar ah nilainya pas-pas an terus”. Mungkin sebagai orang tua kita tidak menyadari efek jangka panjang dari apa yang kita ucapkan secara reflex ini. Berikut, saya akan menjabarkan beberapa dampak  buruk dengan sering membanding-bandingkan.

  • Anak menjadi kurang percaya diri

Dengan membanding-bandingkan prestasi atau kemampuan anak secara otomatis anak akan merasa kurang percaya diri akan kemampuannya. Mereka berpikir bahwa “aku tidak sepintar anak lain atau kakak”. Hal ini bisa menyebabkan anak menjadi minder ketika bergaul dengan teman-temannya, bahkan tidak mengembangkan diri karena anak tidak melihat sisi positif dari .kemampuan yang dimilikinya.

  • Anak menjadi tertutup

Ketika anak dibandingkan dengan orang lain/kakak anak cenderung menjadi tertutup dan tidak terbuka akan kesulitannya. Anak menjadi kesulitan untuk mengungkapkan hambatan atau kendala yang dialaminya dalam belajar karena takut mendapatkan penilaian sebagai anak yang lambat, bodoh, pemalas, dan tidak cerdas. Selain itu anak juga merasa bahwa ada ketidakpuasan orang tua terhadap dirinya.

  • Kurang konsentrasi dalam belajar

Ketika anak memiliki kecemasan terhadap kemampuannya, maka dalam belajar pun kemampuan konsentrasinya juga ikut menurun. Hal ini dikarenakan anak banyak berpikir mengenai reaksi atau penilaian yang akan diberikan oleh orang tua dan lingkungannya. Selain itu anak juga menjadi lebih sensitive dan mudah tersinggung, atau timbul perasaan iri hati dan tidak suka terhadap kakak atau orang lain yang lebih berhasil dibandingkan dirinya.

Wah, ternyata ungkapan-ungkapan orang tua yang secara spontan harus tetap diperhatikan dan dipertimbangkan ya sebelum diucapkan. Selain itu kita sebagai orang tua juga harus mampu melihat kemampuan lain yang dimiliki anak dari dalam dirinya yang menonjol, misalnya : anak mudah beradaptasi di lingkungan, mudah bergaul, atau memiliki bakat di bidang olah raga, menyanyi, menggambar dan lain sebagainya. Bukan kah setiap anak diciptakan unik, dengan beragam kemampuan, dan perbedaan ini lah yang membuat setiap anak dalam keluarga bisa saling melengkapi satu sama lain. Ayo, Ayah dan Bunda sama-sama merubah cara pandang yang lebih luas yuk, bahwa prestasi bukan hanya dalam hal akademik saja.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print