Previous
Next
Konflik-Dalam-Keluarga-1200x800

KONFLIK DALAM KELUARGA : GOOD COP VS BAD COP ?

Ayah vs Bunda

Masalah yang sering kita dengar biasanya seputar perasaan menjadi  “Monster Mommy” vs “Yes Daddy” alias seringkali bunda ditempatkan sebagai polisi yang memberikan berbagai macam aturan dan larangan untuk anak, sementara disisi lain si ayah malah cenderung santai dan yes yes yes seperti menikmati saat bermain bersama anak dan mengacuhkan segala macam aturan.

Setelah “yes daddy” dan anak selesai bermain, keadaan rumah berantakan, anak belum makan, belum mandi dan tidka melakukan rutinitas karena pemakluman yang dilakukan si ayah, maka datanglah bunda sebagai penyelamat yang membereskan segala kekacauan yang timbul, tentu sambil ngedumel dan berkata “kan tadi bunda sudah bilang…”

Berdasarkan pengalaman bertemu dengan klien, konflik keluarga yang umum terjadi biasanya adanya perbedaan perlakuan atau pola asuh antara ibu dan ayah kepada anak. Konsekuensinya anak menjadi kebingungan, rules apa yang harus ia ikuti. Biasanya yang terjadi ibu cenderung tegas sedangkan ayah cenderung memanjakan anak (mungkin karena “menebus” perasaan bersalah karena sibuk bekerja).

Dampaknya ke perilaku anak, bisa jadi anak menjadi melawan/tidak kooperatif/cenderung “ngeyel” karena akan merasa ada yang membela nya ketika ia berperilaku tidak sesuai harapan salah satu orangtua. Dan sebaliknya, bisa jadi menarik diri dan cenderung pemalu karena ia merasa tidak yakin dalam bertindak (harus mengikuti arahan dari siapa?). Sikap ragu-ragu semacam ini yang nantinya membuat anak coba-coba dan cenderung kurang percaya diri, mudah disetir.

 

Orangtua vs Kakek Nenek

Hal lain yang juga sering terjadi adalah perbedaan pola asuh antara orangtua dan nenek-kakek (karena masih tinggal bersama). Sikap orangtua yang perlu dilakukan adalah mulai berdiskusi dan menyepakati pola asuh seperti apa yang  ingin diterapkan kepada anak. Jika terjadi ketidak sepakatan antar kedua orangtua, hindari saling membantah/menyudutkan salah satunya ketika dihadapan anak. Anak perlu melihat bahwa orangtua menjalankan aturan yang sepaham dan selaras. Ketika sudah tidak ada anak,barulah orangtua dapat melakukan diskusi untuk menyepakati arahan dari siapa yang dianggap lebih tepat.

Nah, menghindari percakapan saat ada anak cukup penting, karena wubawa kita sebagai orangtua dna wibawa kakek nenek tetap harus dijaga. Tidak patut rasanya mengkritik, menyalahkan, merasa paling benar atau malah “ngeles” dan hal tersebut bisa disaksikan anak. Apalagi ditambah “tuh kan cu, kamu sukanya kalau makan disuapin sama eyang yak an??” malah keberadaan anak bisa dijadikan

Untuk mengetahui pola pengasuhan spt apa yang baik untuk anak tentu orangtua juga perlu mencari informasi dari sumber terpercaya misalnya dengan membaca buku tentang parenting (dari narasumber yang ahli dibidangnya), mengikuti seminar parenting ataupun melakukan konsultasi dengan psikolog anak.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print