Previous
Next
Lagi-lagi-dot-susu-dan-bahayanya-1200x593

Lagi-lagi dot susu dan bahayanya

Di artikel tulisan dr Arifianto, sudah diceritakan dengan jelas dari sudut pandang dokter anak mengenai susu selain ASI dan penggunaan dot yang terlalu lama. Nah, tidak hanya dokter anak, asosiasi ibu menyusui Indonesia (AIMI ASI) pun pernah membahas soal ini.

Bahwa dot, adalah musuh besar suksesnya pemberian ASI hingga dua tahun! Waw..

Padahal, sebagai ibu bekerja, memberikan ASIP paling mudah dengan menggunakan dot, setuju? Minum ASI nya bisa banyak, mengajari pengasuh baik di rumah maupun daycare pun mudah.

Sayangnya, menurut AIMI, resiko penggunaan dot yang paling populer adalah menyebabkan “Bingung Puting”. Iya, kondisi ketika anak enggak mau nyusu langsung ke payudara ibunya. Selain risiko tersebut, ada bahaya terselubung lainnya dari penggunaan dot. Risiko itu di antaranya menyebabkan produksi ASI menurun. Bagi ibu bekerja, ditandai dengan hasil perahan yang semakin hari semakin sedikit.

Bingung Puting, emang bisa?

Banyak yang menganggap bingung puting diakibatkan karena bayi enggak lagi bisa membedakan antara dot dan puting ibu. Menurut pakar laktasi asal Kanada, dr. Jack Newman, FRCPC, sebenarnya bayi bukan “bingung”. Bayi tahu apa yang diinginkan, tapi ketika bayi yang mendapat aliran yang lambat dari payudara kemudian mendapat aliran yang lebih cepat dari dot, dia akan memilih mana yang lebih disukainya.

Oh iya, ternyata, bingung putting juga enggak selalu ditandai dengan penolakan payudara, lho. Bayi yang sudah “lupa” atau “bingung” bisa saja tetap mau menempelkan mulut pada payudara ibu, namun pola hisapannya sudah berubah dan dia tidak lagi dapat mengeluarkan ASI secara optimal atau tidak menyusu dengan baik. Akibatnya, produksi ASI ibu menurun.

Apa sih tandanya?

Salah satu yang sebetulnya paling kentara adalah; ibu merasakan penurunan produksi ASI sebelum menyadari gejala bingung puting pada bayinya. Nah, selain itu, ini adalah tanda-tanda bingung puting (Sumber: La Leche League International):

  • Bayi membuka mulut tapi enggak cukup lebar untuk melekat dengan benar di payudara.
  • Ketika hendak disusui, bayi menggoyangkan kepala, mencari-cari puting dan kelihatan bingung.
  • Bayi menjerit dan/atau melengkungkan punggungnya saat akan disusui.
  • Lidah bayi tidak menjulur ke garis gusi bawah tapi justru terangkat.
  • Bayi tampak melekat tapi tidak menghisap dengan benar.

Kalau bunda menemui tanda-tanda di atas, sebaiknya segera hentikan penggunaan dot. Perbanyak kontak kulit dan interaksi dengan bayi, seperti tidur dan mandi bersama bayi, yaa…

Kembalikan koneksi

Lho kok malah kontak kulit, dan interaksi sih? Iya, sebab, kita harus meningkatkan bonding dengan bayi agar ia mau kembali “belajar” menyusu. Jika bayi terlanjur mengalami bingung puting dengan penolakan total terhadap payudara, maka harus dilakukan relaktasi untuk mengembalikan bayi menyusu ke payudara dan menstimulasi peningkatan produksi ASI. Kunci utama relaktasi adalah tekad kuat, kesabaran, serta dukungan keluarga. Mintalah pendampingan konselor laktasi.

Risiko Lain Penggunaan Dot

Ternyata banyak resiko dot lainnya yang perlu orangtua ketahui sebelum memutuskan memberikan minum bayi menggunakan dot. Berikut beberapa resiko penggunaan dot selain bingung puting dan penyapihan dini:

  1. Gangguan pertumbuhan rongga mulut, rahang, dan gigi geligi

Perkembangan rahang dengan”bentuk-U” yang baik lebih banyak ditemukan pada bayi yang disusui. Hal ini diketahui menurunkan kemungkinan anak mengalami masalah mendengkur dan apnea saat tidur ketika dewasa.

Bayi yang sedang menyusu pada payudara harus menggunakan energi 60 kali lipat dibandingkan bayi yang minum dari dot. Otot rahang bayi terus berlatih keras saat menyusu sehingga mendorong pertumbuhan bentuk rahang dan gigi yang baik.

  1. Kelainan dan hambatan kemampuan wicara

Penggunaan dot dapat menyebabkan lidah mendorong (tongue thrusting). Lidah akan selalu dalam kondisi datar dan otot-otot lidah berkembang dalam bentuk diam. Ketika anak berbicara, lidahnya maju sehingga menyebabkan kelainan wicara yang disebut ”lisping” yaitu ketidakmampuan mengucapkan huruf dengan bunyi berdesis seperti s atau z.

  1. Risiko infeksi

Penggunaan dot memicu kejadian infeksi pada bayi seperti otitis media, thrush atau sariawan, diare dan infeksi saluran nafas karena transmisi mikroorganisme patogen.

Oleh karena itu, jika ingin sukses memberikan ASI untuk si Kecil hingga 2 tahun tanpa “tambal” susu lain, gunakanlah media lain selain dot. Media-media itu seperti sendok, cup feeder, gelas sloki, pipet, spuit.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print