Previous
Next
stunting-kata-data

Lebih dari 9 juta anak balita di Indonesia; STUNTING!

Apa sih stunting? Stanting adalah masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tinggi anak lebih pendek dari standar tinggi anak pada usianya. Penderita stanting umumnya rentan terhadap penyakit, memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal serta produktivitas rendah. Stanting disebabkan karena kekurangan gizi pada jangka waktu yang lama, mulai dari masa kandungan hingga umur 2 tahun (1000 HPK – Hari Pertama Kehidupan)/periode emas kehidupan.

Tapi, tau gak? 1 dari 3 atau sekitar 9 .000.000 anak balita di Indonesia mengalami stanting (Data Riskesdas 2013).  Banyak ya?

Prevalensi stanting Indonesia berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 mencapai 27,5 persen. Menurut WHO, masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stanting lebih dari 20 persen.

Artinya, secara nasional masalah stanting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagi di 14 provinsi yang prevalensinya melebihi angka nasional. Tingginya prevalensi stanting ini, dalam jangka panjang akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi Indonesia, lhooo.

Stanting Pada Balita

Keadaan stanting atau balita bertubuh pendek merupakan indikator masalah gizi dari keadaan yang berlangsung lama. Seperti masalah kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, pola asuh, dan pemberian asupan makanan yang kurang baik dari sejak si Kecil lahir. Akibatnya, si Kecil tidak tumbuh sesuai dengan indikator tinggi badan yang ideal sesuai usianya.

Balita stanting, selain mengalami gangguan pertumbuhan, umumnya memiliki kecerdasan yang lebih rendah dari anak balita normal. Selain itu, anak balita stanting lebih mudah menderita penyakit tidak menular ketika dewasa dan memiliki produktifitas kerja yang lebih rendah. Dengan menanggulangi stanting pada si Kecil sejak dini, Ibu turut meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan.

Penyebab Stanting di Indonesia

Berdasarkan data dari Millenium Challenge Acoount-Indonesia (MCA-Indonesia) Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan meliputi kesehatan dan gizi ibu yang buruk, asupan makanan si Kecil yang tidak memadai, dan infeksi yang dikarenakan kondisi sanitasi yang tidak bagus. Secara khusus, hal ini meliputi status gizi dan kesehatan Ibu sebelum, selama dan setelah kehamilan yang ikutberpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan awal anak.

Faktor lain dari sisi Ibu yang dapat menyebabkan stanting meliputi perawakan anak yang pendek, jarak kelahiran terlalu dekat, dan kehamilan remaja, yang mengganggu asupan nutrisi ke janin. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan nutisi untuk pertumbuhan ibu yang masih remaja. Faktor lainnya dari segi nutrisi meliputi asupan makanan untuk si Kecil yang tidak memadai, termasuk pemberian ASI yang belum optimal (non-eksklusif ASI) dan makanan pendamping ASI yang terbatas dalam kuantitas, kualitas dan variasinya.

Pemantauan tinggi badan dibutuhkan untuk menilai normal tidaknya pertumbuhan anak. Deteksi dini terhambatnya pertumbuhan diperlukan untuk memberikan terapi lebih awal, sehingga memberikan hasil yang baik dan mencegah stanting lebih dini.

Pengukuran tinggi badan, berat badan harus diukur dan dipantau berkala, Pemantauan pertumbuhan berkala bisa dilakukan di Posyandu atau bidan setempat. Secara cepat untuk memastikan balita anda stanting atau tidak bisa menggunakan alat bantu penghitungan di www.gizitinggi.org

Cara Penanggulangan Stanting

Ibu dapat melakukan tindakan yang memiliki dampak langsung pada pencegahan dan penanggulangan stanting dengan mengatasi penyebab-penyebab yang sudah dibahas di atas. Penanggulangan stanting yang paling efektif dilakukan meliputi:

  1. Pada ibu hamil

Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stanting. Ibuhamil perlu mendapat makanan yang bergizi dalam jumlah yang cukup. Apabila Ibu mendapati berat badan yang berada di bawah normal atau kondisi Kurang Energi Kronis (KEK), maka Ibu perlu diberikan asupan makanan tambahan. Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama masa kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.

  1. Pada saat bayi lahir

Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi sampai dengan usia 6 bulan eksklusif diberi Air Susu Ibu (ASI) saja.

  1. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun

Mulai usia 6 bulan, selain ASI, bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih.

Stanting atau kondisi balita pendek dapat dicegah dengan langkah-langkah yang dilakukan sejak dini. Pencegahan dapat dilakukan semenjak si Kecil masih dalam kandungan dan pada saat 1000 hari petama kehidupannya. Pemberian asupan nutrisi yang tepat dan seimbang dapat menghindarkan si Kecil dari masalah stanting.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print