Previous
Next
Makan-Diluar-vs-Makan-dirumah

Makan Diluar vs Makan dirumah

Sejak ada ojek online, siapa yang jadi makin males masaaaaakkk??? Hihihihi…

Tapi iya sih, keberadaan unit usaha yang satu itu benar-benar membantu, dan mendukung males gerak betul buibuk? Apalagi pilihan restoran kan juga bervariasi, gak pake kena macet, gak pake harus ganti baju dan dandan rapi, makanan udah tersedia di meja.

Eh tapi tunggu dulu. Mungkin kalo belinya sedikit-sedikit untuk sekali makan sih, gak berasa ya. Tapi coba kalo diakumulasikan selama 1 bulan, misalnya. Coba deh, ternyata berasa juga lho.

Biaya makan di luar

Nih ya, misalnya kita beli makan standar ayam goreng paket lengkap. Harganya sudah sekitar Rp 30 ribu-an. Ongkos kirim minimal Rp 15 ribu. Jadi kalau untuk makan bertiga, satu kali makan bisa ngabisin sekitar Rp 105 ribu. Lumayan juga ya.

Begitu juga kalau kita tiap hari makan diluar, ketika istirahat siang di kantor. Lalu malas masak juga untuk makan malam. Otomatis jajan dong ya. Minus ongkor antar, tetap saja, menghabiskan sekitar Rp 30 ribu-an plus minum, untuk sekali makan. Sehari bisa Rp 60 ribuan. Ini baru makan utama dengan harga standar.

Belum ditambah ngopi cantik dan kue-kue, yang sekali nongkrong bisa merogoh kocek sampai Rp 60 ribu-an ya minimal. Ini berasanya sedikit, tapi kalau tiap hari, lumayan banget loh.

Coba deh, dalam satu bulan misalnya makan setiap hari. berarti Rp 60 ribu x 30: Rp 1,8 juta. Ngopi misalnya seminggu dua kali, berarti Rp 60 ribu x 8 : Rp 480 ribu. Satu bulan pengeluaran makan saja bisa Rp 2 juta lebih ya..

Ini kalau dihitung dari biaya finansial kocek kita masing-masing, minus makan enak, makan istimewa, beli popcorn di bioskop, jajan eskrim, dan nraktir teman yaaa…hehehehe..

Biaya kesehatan yang sering terlupakan

Sebetulnya ada lagi lho perhitungan lain. Apa itu? biaya kesehatan. Nah, ini ngambil wejangan dari Dr. Tan Shot Yen, ya…

Katanya, masih banyak orang yang menganggap ‘hidup sehat itu mahal’. Seakan untuk menjadi sehat adalah ‘hak istimewa’ yang dimiliki golongan tertentu yang punya akses, fasilitas, dan kemampuan baik secara intelektual dan finansial. Hal ini, memang bukan pernyataan yang mudah untuk ditentang, tapi juga tidak seratus persen dapat dibenarkan.

Dr Tan menekankan bahwa membuat seseorang sekadar ‘kenyang’ dan merasa ‘diberi makan’ tidak menjamin apa yang dimakannya itu memelihara kehidupannya atau malah membunuhnya pelan-pelan. Sebab sebetulnya pola makan sehat tidak harus mahal. Sebaliknya, lebih sering jajan diluar, selain jatohnya lebih boros, ditambah tidak sehat.

Lalu pernah membayangkan-kah, kalau terus-terusan makan makanan tidak sehat, maka lambat laun tubuh jadi terlalu berat mencerna dan berdampak pada berbagai macam penyakit? Pernah membayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk pengobatan jantung koroner, stroke, maag akut, kanker dan sebagainya yang seringkali penyebab utamanya adalah pola makan.

Bawa bekal lebih hemat dan sehat

Sementara, kalau kita membiasakan masak sendiri, dengan bahan-bahan asli, mengurangi goreng-gorengan, lebih banyak makan sayur dan buah, kemudian setiap hari membawa bekal, tentu saja lebih terjamin dong..

Kalau dihitung-hitung pun harganya jauh lebih hemat. Porsi makan dua kali untuk satu orang, dengan belanja dan masak sendiri, lebih murah lho daripada satu gelas tinggi ice cappuccino di kedai internasional.

Ribet? Enggak kok..

Lebih ribet? Enggak juga, kalau menerapkan manajemen waktu. Ketika akhir pekan ada waktu santai, luangkan aja 1-2 jam untuk memersiapkan seluruh bahan masakan. Membuat menu, berbelanja, lalu disiapkan sesuai kebutuhan menu. Memotong sayuran, memotong daging, memotong tempe, letakkan di wadah kedap udara dan siapkan dalam kulkas.

Setiap pagi tinggal ambil satu kotak, dan masak dengan cepat. Voilaaa…masakan jadi, tentu lebih sehat dan bersih, bahkan jauh lebih hemat. Mendingan uangnya buat nabung biaya sekolah anak sampe kuliah, bukan? Hehehehe..

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print