Previous
Next
20-juli-12.00-Makna-cinta-tanpa-syarat-yang-sesungguhnya-Artikel-dari-ahli-Belinda-Agustya-M.Psi-Psikolog-anak-1200x1200

MAKNA CINTA TANPA SYARAT YANG SESUNGGUHNYA

Artikel dari ahli Belinda Agustya M.Psi Psikolog anak

Saat bertemu dengan para orangtua yang berkonsultasi tentang masalah anaknya (misalnya: didiagnosis autistik/ menampilkan masalah perilaku seperti agresif/ melawan, kendala dalam belajar), kalimat andalan saya adalah begini: “bagaimanapun kelebihan dan kekurangan anak kita, tetap ya bu, pak, kita harus mencintai anak apa adanya…bukan hanya ketika ada apa- apanya (baca: ketika berperilaku baik saja)”. Dan pada akhirnya, sayapun dihadapkan pada situasi yang serupa (mungkin maksud Tuhan agar saya nggak hanya omdo alias ngomong doang hehe)

Saya dianugerahi seorang keponakan laki-laki (usia 4 tahun) yang memiliki – setelah dengan observasi detail- masalah sensori yang cukup serius. Dengan masalah sensori yang ia alami, ia mengalami beberapa kendala berikut: sulit fokus, terlambat bicara dan membutuhkan usaha yang sangat besar agar dapat membangun interaksi dua arah dengan anak ganteng ini. Konsekuensinya, kemampuannya saat ini menjadi cenderung dibawah kemampuan anak anak seusianya.

Saya menjadi lebih mampu berempati ketika ada orangtua yang mengeluh dan putus asa ketika sudah mencoba berbagai cara untuk memberikan stimulasi tapi hasilnya nihil. Capek,kesal, sedih dan kecewa bercampur jadi satu. Dampaknya ketika main dengan anak ini, saya menjadi mudah marah karena dia gagal memenuhi harapan saya. Ponakan sayapun akhirnya jadi lebih cranky dan rewel ketika diasuh oleh saya. Pernah bahkan menolak kehadiran saya L

Sampai pada satu titik saya merasa kok kayaknya saya ya yang memiliki ekspektasi terlalu tinggi? Saya merasa sudah tidak lagi menerima dia apa adanya. Saya merasa “disconnected”  dengan keponakan saya ini, sulit memahami posisinya dan memandang dari sudut pandang dia. Akhirnya saya mulai berupaya untuk menyamakan lagi “frekuensi” dengan dia, attune dengan kebutuhan dia.

Jadi momennya saat itu dia sedang berputar tak tentu arah mengelilingi ruangan di kamar  (ini khas sekali pada anak dengan masalah sensori). Biasanya saya akan menahan dia untuk berhenti dan berakhir dengan drama karena anaknya tantrum. Tapi kali ini saya coba menyamakan frekuensi. Saya ikuti gerakan dia. Tiba-tiba dia berhenti dan menatap saya. Ketika dia mengoceh, saya ulangi ocehannya. Saya berusaha menjadi “kaca” untuk dia.

Tidak disangka, dia langsung mendekati saya dan menarik tangan saya sambil berkata: “auntie, lagi,main lagi” Di momen itu saya merasa terharu. Selama ini ternyata saya yang salah. Saya menolak memahami dia. Saya yang tidak menerima dia apa adanya.  Akhirnya saya mengorbankan bonding yang seharusnya bisa terus saya jaga antara saya dengan dia. Kelekatan emosional yang lebih penting dari sekedar memuaskan harapan saya yang mungkin muncul karena merasa malu atau gengsi.

Terima kasih ya nak, sudah mengajarkan cinta tanpa syarat yang sesungguhnya. Terima kasih sudah memilih tante menjadi bagian dari hidupmu. Bagi orangtua yang juga memiliki kisah serupa, jangan berhenti berjuang ya! Yang paling penting juga, jangan pernah berhenti mencintai anak anak hebat ini, karena hanya itu yang sebenarnya mereka butuhkan dari ayah dan ibunya.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print