Previous
Next
asian mother sitting on the sofa angry pointing

MAMA GAK ADIL, AH !

Sering tidak salah satu anak anda mengatakan hal di atas?

Kalau tidak pernah? Anda adalah mama HEBAT !

Saya? Pernah, sering bahkan hahaha …

Permasalahan dengan memiliki anak lebih dari 1 mungkin ini salah satu nya. K E T I D A K A D I L A N ! Saya memiliki anak tiga.  Yang sering protes pada saya soal ketidakadilan adalah anak nomor dua. Namanya Keanna, umur 8 tahun. Sepertinya hampir semua hal dia akan bilang tidak adil.  Mama tidak adil, karena aku tidak diberi uang jajan seperti kakak. Mama tidak adil, karena adik disewakan mainan setiap bulan. Mama tidak adil karena kakak ikut bimbel, aku tidak. Mama tidak adil karena kakak dibelikan sepatu, aku tidak. Mama tidak adil karena adik tidur nya sama mama, aku sama kakak.

Itulah persepsi adil di mata seorang anak berumur 8 tahun. Saya hanya bisa tersenyum dan menjelaskan panjang lebar setiap dia protes akan ketidakadilan. Saya jelaskan satu per satu. Misal soal uang jajan, kakak nya saya berikan uang jajan Rp 20.000/ minggu. Karena kakak sudah kelas 6 SD, dan sudah diijinkan oleh sekolah untuk jajan ke kantin. Sementara Kea, karena masih kelas 2 SD, belum diijinkan oleh sekolah untuk jajan ke kantin. Jadi apa artinya mendapatkan uang jajan kalau tidak boleh jajan ke kantin? Sebagai kompensasi dan bentuk keadilan terhadap kakak nya, maka dalam 1 minggu, saya janji akan jemput ke sekolah dan menemani Kea jajan ke kantin.  Kasus lain adalah soal sepatu. Ukuran kaki kakak nya adalah 38, sudah di bagian sepatu dewasa. Bukan bagian anak-anak lagi. Sementara Kea selalu meminta keadilan, kalau kakak beli sepatu, aku harus beli. Saya jelaskan lagi, karena kakak sudah di bagian sepatu dewasa maka Kea tidak bisa dibelikan sepatu. Tidak ada ukuran anak-anak di bagian dewasa. Paling kecil ukurannya adalah 35. Kea langsung cemberut dan merajuk. Lalu keluarlah kata ajaib itu, Mama gak adil ah ! Padahal Kea sudah saya belikan sepatu lebih dulu, sekitar 1 bulan yang lalu. Maka saya jelaskan dan ingatkan lagi, bahwa Kea sudah dibelikan sepatu. Sekarang giliran kakak, karena sepatu kakak rusak. Sepatu kea kan tidak rusak, masa harus beli lagi. Kemudian Kea akan menanyakan lagi, harga sepatu kakak berapa? Untuk masalah harga pun, harus sama. Kea akan protes kalau sepatu kakak nya lebih mahal. Anak seusia ini sudah mengerti nominal uang, jadi penjelasan panjang lebar dan masuk di akal mereka sangat lah penting.

Selain anak saya nomor dua, anak nomor 1 pernah juga protes soal ketidakadilan. Tidak seperti adiknya yang hanya protes soal hal kecil. Kakak nya protes hal besar dan lebih mahal. Soal sekolah, jadi ceritanya kakak nya  melanjutkan SD nya di tempat TK nya. Karena saat itu pilihan sekolah di sekitar rumah memang tidak banyak. Saat adiknya mau masuk SD, kebetulan ada sekolah Islam yang saya incar sejak lama pindah ke daerah dekat rumah. Maka Kea masuk ke sekolah baru ini. Karena Kakak nya  sudah kelas 3 SD maka tidak saya pindahkan. Ternyata diam-diam Zaira merasakan ketidakadilan, kenapa dia tidak sekolah di tempat yang sama. Dia mencari berbagai alasan, mengajukan  kenapa dia harus pindah sekolah.  Akhirnya setelah diskusi dengan suami, kita sepakat untuk memindahkan Zaira ke sekolah yang sama dengan adiknya. Dengan beberapa alasan yang cukup penting, di antaranya  sekolah Islam, sudah mendapatkan akreditasi dan bisa mengadakan ujian nasional sendiri. Tapi dengan kepindahan di kelas 3, artinya saya harus mengeluarkan biaya uang pangkal SD untuk Zaira dua kali. Di sekolah lama dan sekolah baru. Lumayan sekali angkanya.

Jadi memiliki anak lebih dari satu, sebagai orangtua kita harus siap mental dan keuangan untuk dapat memberikan keadilan untuk semua. Terutama keadilan dalam hal pendidikan. Saya masih teringat waktu saya kecil, sering sekali diajak bapak untuk mengantar kakak-kakak ke sekolah nya. Saya bayangkan saya pun akan sekolah di tempat yang sama. Sekolah swasta yang sangat besar dan bagus. Ternyata karena saya adalah anak ke-5, bapak sepertinya sudah tidak kuat secara keuangan untuk membiayai saya ke sekolah tersebut. Akhirnya saya sekolah di sekolah swasta lain tapi yang lebih kecil dan lebih murah. Dan sampai sekarang saya masih terus mengingat hal ini. Namun saya berusaha mengerti bahwa bapak saat itu tidak sanggup secara finansial.

Di masa sekarang, di saat uang pendidikan dan inflasi pendidikan melambung begitu tinggi. Mari kita siapkan uang pendidikan  untuk semua anak kita dengan kualitas yang sama. Untuk jenjang PG-TK-SD setidaknya, untuk jenjang SMP-SMA-S1 akan bergantung pada kemampuan masing-masing anak. Sehingga tidak bisa dipaksakan untuk bersekolah di tempat yang sama. Yuk, kita berusaha menjadi orang tua yang adil !

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print