Previous
Next
okt-4

Mampukah memaafkan?

Maaf, tolong dan terima kasih dianggap sebagai tiga ucapan yang wajib dilakukan oleh setiap orang, ketika bersinggungan dengan orang lain. Namun, karena ‘diwajibkan’ maka, kita jadi mudah saja menyodorkan tangan untuk meminta maaf, meski dalam hati masih kesal dan tidak merasa perlu meminta maaf.

 

Sebab, ternyata, berbagai penelitian membuktikan bahwa meminta maaf bukanlah naluri manusia. Kita bukanlah mahluk yang mudah untuk meminta maaf dengan tulus. Psikolog sosial yang juga menulis buku Mistakes Were Made (But Not by Me), Elliot Aronson, mengatakan bahwa otak manusia meyakini bahwa diirinya selalu melakukan hal yang paling benar, meskipun perilakunya menunjukkan sebaliknya.

 

Karena itu, meminta maaf biasanya menciptakan tekanan kejiwaan, jadi, ada sebuah sensasi yang timbul dalam otak manusia saat harus melakukan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinan. Ada perasaan ketidaknyamanan yang dititikberatkan oleh sikap dan perilaku yang (dianggap) tidak konsisten. Bahasa mudahnya; Gengsi.

 

Sensasi harus meminta maaf ini sama dengan yang dirasakan para perokok yang sudah memahami bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan, namun tetap saja menghabiskan 2 bungkus rokok sehari, kata Aronson.

 

Namun demikian, kita semua juga pasti memahami bahwa meminta maaf adalah hal yang baik dan penting untuk dilakukan, dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Tyler Okimoto, penulis the apology study mengatakan bahwa meminta maaf akan membangun hal paling mendasar dari semua hubungan antar manusia; rasa percaya.

 

Dengan bekal itu, kita akan mampu menahan hasrat balas dendam atau konflik berkepanjangan. Selain itu, kita juga akan lebih terbuka menghadapi kritik yang sebetulnya diungkapkan orang lain demi kebaikan kita sendiri dan bahkan bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

 

Maka, artinya, kita harus melawan naluri kita sendiri. sulit sekali ya, namun pasti bisa kan? lalu bagaimana caranya?

  1. Memahami dengan baik diri kita sendiri. Jadi, tiap kali rasa stress, malu, bersalah dan kebingungan muncul ketika harus meminta maaf, kita harus mampu mengerti keresahan tersebut hanyalah wujud dari rasa gengsi. Justru harus dimanfaatkan sebagai pengingat bahwa tindakan yang kita lakukan sebelumnya merupakan kesalahan, dan satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah dengan meminta maaf.
  2. Ingatlah bahwa sebetulnya kita juga memiliki naluri alami untuk memaafkan. Seperti yang diungkapkan Okimoto, jika sudah jelas di mata semua orang bahwa kita melakukan kesalahan, terus menerus mencari alasan dan pembenaran justru akan membuat kita memerlihatkan kelemahan ketimbang memiliki karakter yang kuat.
  3. Bebaskan diri sendiri dari label-label. Menurut Lickerman, mengalami kegagalan tidak selalu berarti kita telah hancur. Artinya, agar dapat meminta maaf dengan tulus, kita harus mampu memutus label bahwa satu kesalahan akan membuat kita menjadi orang paling payah sedunia.

 

Yuk kita kenali diri sendiri lebih baik, mana harga diri yang benar-benar harus dipertahankan, dan mana yang hanya wujud dari gengsi.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print