Previous
Next
International-Women-Day-02-01-1200x730

Melawan Kekerasan terhadap Perempuan dengan Gapaian Cita-cita

Sedih banget ya, menngetahui bahwa kekerasan masih terus meneror kehidupan perempuan di Indonesia. Tau gak sih, hasil survey pengalaman hidup perempuan nasional 2016 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) atas permintaan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan;

Satu dari tiga perempuan Indonesia berusia 15-64 tahun, atau sekitar 28 juta perempuan pernah mengalami kekerasan fisik dan kekerasan seksual oleh pasangan dan selain pasangannya.

Dalam satu tahun terakhir, 8,2 juta perempuuan atau 9,4 persen mengalami kekerasan fisik dan seksual!

Catatan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) tahun 2017 menunjukkan terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terdiri dari 145.548 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani 359 pengadilan agama dan 13.602 kasus yang ditangani 233 lembaga mitra layanan di 34 provinsi.

Mengapa?

Perempuan masih kerap dianggap dan ditempatkan lebih rendah daripada laki-laki, ini yang paling sering membuat perempuan terus menerus menjadi objek kekerasan. Apalagi ditambah pemahaman dan kapasitas perempuan untuk melakukan perlawanan terhadap berbagai kekerasan juga masih sangat rendah.

Cara mengatasi kekerasan

Hal utama dalam mengatasinya tentu saja perlu upaya dari hulu ke hilir, untuk menghapus ketimpangan gender di masyarakat. Pendidikan tentang hak-hak perempuan dan kesetaraan gender perlu diperkuat, demikian juga penegakkan hukum atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.

Pemerintah bisa mengalokasikan anggaran berbasis gender dan membuat program-program senada. Kita? Perempuan? Bisa apa? Berusaha mewujudkan cita-cita, tentu saja! Karena perempuan juga berhak memiliki cita-cita dan berhak mewujudkanya. Perempuan berhak berdaya, dan punya masa depan yang baik sebagaimana semua orang di dunia ini.

Kata perempuan di Taman Main

Kemarin, kami sempat mengobrol dengan tiga orang ibu di Taman Main Daycare, soal cita-cita. Dan berikut adalah jawaban yang mereka berikan;

Azelia Trifiana, 29 tahun.

Apa ya cita-cita waktu kecil mama?

Sempat pengen jadi tentara karena background keluarga banyak yang militer, jadi relawan di UNICEF ke Afrika, jadi apapun yang berkaitan dengan binatang

Apa cita-cita sekarang?

Tetap jadi wartawan yang bisa menyebarkan banyak berita baik dan bermanfaat untuk orang banyak, jangka panjang ingin jadi interpreter di Perserikatan Bangsa-Bangsa. atau kuliah dan tinggal sama keluarga di luar negeri. Pengen juga jadi best friend untuk anak-anak kelak, kompakan sama popi

Kenapa berubah?

Karena as I grew up, dunia ini keras, berita bisa dengan mudah diplintir jadi fitnah, dan perlu ada jurnalis yang menjalankan fungsinya dengan tepat. Untuk mimpi sih masih, bisa bekerja di United Nations Headquarters.

Apakah penting seorang perempuan harus mengejar cita-citanya? Kenapa?

Penting. mengejar cita-cita tidak saklek lewat bekerja kantoran atau freelance. Be what you want to be, through the way that suited you the most. Contohnya jurnalisme, bukan hanya ranah wartawan. siapa saja bisa jadi penyampai berita. Kalau kita mengejar cita-cita, anak-anak akan punya sosok untuk dicontoh saat nanti mereka tumbuh besar.

Mengejar cita-cita tidak melulu identik dengan bekerja siang malam, kehabisan porsi perhatian dan energi untuk keluarga, tapi menurut aku yang penting sebagai seorang ibu dan istri adalah bagaimana mengejar cita-cita dengan tetap melibatkan keluarga. togetherness at its best.

Sara, 32 tahun

  1. Apa ya cita-cita waktu kecil mama?

Ingetnya, sewaktu kecil dulu kepingin jadi ‘ahli bahasa’ dan ‘ahli komputer’. In a twisted kinda way, cita-cita itu terwujud dalam berbagai profesi yang pernah dijalani sampai saat ini: jurnalis, penulis, editor, dsb.

  1. Apa cita-cita sekarang?

Hmm.. Lebih abstrak, kepingin tetap aktif berkarya, enggak cuma untuk orang lain (baca: perusahaan), tapi untuk diri sendiri dan yang bermanfaat bagi banyak orang. Kalau bagian yang lebih konkretnya, bisa kerja yang tidak terikat tempat, jadi punya porsi waktu yg lebih seimbang untuk keluarga.

  1. Apakah penting seorang perempuan harus mengejar cita-citanya? Kenapa?

PENTING! Karena ibu (dan bapak), role model pertama bagi seorang anak. Khususnya di dunia yang masih didominasi pemikiran patriarki seperti sekarang ini, seorang ibu/perempuan harus bisa membuktikan bahwa ia bisa melakukan apa saja selama ada niat dan usaha. Persistensi seperti ini bisa menjadi tambahan semangat untuk anak-anakk perempuan sekaligus jadi pembelajaran bagi mereka dan anak laki-laki kalau gender itu tidak untuk dijadikan penghalang atau pembatasan.

Fabiola, 38 tahun

  1. Apa ya cita-cita waktu kecil mama?

Dokter/penulis

  1. Apa cita-cita sekarang?

Berkerja di bidang NGO

  1. Kenapa Berubah?

Cita – cita ku berubah saat aku mempelajari kalo di Bidang NGO di bidang kemanusian, kita juga bisa membantu orang – orang yang kurang beruntung secara luas karena keadaan tertentu. Merupakan suatu kepuasan saat kita bisa membantu orang lain yang sedang dalam bencana. Meskipun pertolongan kita tidak langsung seprti Dokter.

  1. Apakah penting seorang perempuan harus mengejar cita-citanya? Kenapa?

Sangat penting mengejar cita – cita kita, terutama perempuan. Dimana perempuan selalu diremehkan dengan stigma Kalo perempuan percuma sekolah tinggi-tinggi kalo nanti juga di dapur.

Sebagai orang sering lupa kalo sebagai perempuan dan kita melahirkan anak, mengurus anak dan juga nggak salah kan kalo perempuan bisa mengurus rumah dan pekerjaan secara bersamaan, meskipun tidak gampang ya mom… karena pasti konsentrasi terpecah karena berbagai hal dan dimana justru disitu profesional perempuan diperlukan. Terlepas dari itu ada kepuasan dari perempuan dapat menggapai cita-citanya.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print